Minggu, 09 Januari 2011

Zona Larangan Mandi

Kalau zona larangan terbang kamu pasti tahu kan? Saat invasi Amerika ke Irak istilah tersebut populer banget, nah kalau zona larangan mandi kita nggak harus jauh-jauh ke Timur Tengah karena adanya di FamCamp.

Sehabis menyeruput kopi aku mempersiapkan peralatan mandi untuk selanjutnya menuju kamar mandi yang letaknya agak ke bawah, agak tersembunyi dengan pemandangan menghadap lembah, bagus banget!. Deretan pertama dan kedua berupa kamar mandi dengan bak dan toilet jongkok sedangkan deretan ketiga terdiri 3 kamar mandi dengan shower air hangat, 3 toilet duduk, dan tempat mencuci piring. Aku masuk ke salah satu toilet duduk, bagian ini nggak usah aku ceritakan bagusnya.
Heru dan anak asuh

Keluarga Ajay ’89 sabar menanti shower air hangat, daripada harus antri aku mandi dan keramas dengan gayung dan air dingin asli pengunungan. Cermin yang sudah burik karena udara lembab pengunungan menempel di dinding, kelihatannya kurang bersahabat, kita coba aja, “Mirror, mirror on the wall, siapa orang yang paling ganteng di Smandel?”.
“Yang ganteng sih banyak! Kalau yang selalu ada di setiap foto ya cuma elo lah orangnya”.
Tuh kan apa aku bilang, cerminnya kurang bersahabat!.

Mandi sudah sekarang duduk di bale sendirian ketika seorang anak yang belakangan aku tahu bernama Adit sedang kebigungan, “Om, lihat bapak aku nggak?”.
“Emang bapak kamu siapa namanya?”.
“Irob”.
Aku mencoba membantu mencarikan, akhirnya diperoleh petunjuk bahwa Irob ’86 sedang ngopi di restoran sambil mengasuh Aldi, kata Yudis, “Irob lagi mencari emak baru buat anak-anaknya”.


foto bersama jelang lomba futsal...angkatan 80 lawan 87...
Added 08 January ·  · 

Adit terlihat gembira setelah bertemu bapaknya, mission accomplished!
Senangnya bisa menolong anak kecil walau dihitung-hitung pahalanya juga kecil.

Aku beranjang sana ke pelataran tenda 83, ada Tirton, Agung, Riri, Dina, Pipin, dan Edoy. Tirton dan keluarga datang dari Banjarmasin, Agung datang dari Martapura, hebat! Jauh-jauh datang untuk ikut Family Camp.

Iik yang kebetulan tantenya Riri ikut nimbrung di sini, jujur aja si Iik orangnya kotaan banget, baru sekali kemping jadi baru tahu kalau anak kemping jarang mandi. Katanya anak kemping jorok, sebetulnya anak kemping nggak jorok cuma dianya yang mungkin terlalu bersih.



Added 10 January ·  · 


    • Riry Syarifah chormen ama terpaku gt ngeliatnya,,,
      12 January at 18:41 ·  · 

Iik bercerita, “Semalem aku kaget banget! Fifi masih pakai make-up langsung naik tempat tidur. Aku bilang ... Kok nggak cuci muka dulu!. Eh, si Fifi bilangnya .... Ha! Anak kemping cuci muka? Boro-boro, mandi aja nggak, sikat gigi juga cuma sekali itu juga pagi doang”
“Emang kamu udah mandi Ik?”, aku bertanya.
“Lihat dong! Beda kan. Eh, Men, kamu kesini nyariin aku ya?”.
“Nggak Ik, aku kesini gara-gara dimusuhin sama anak-anak pelataran atas”.
“Emang salah kamu apa, sampai dimusuhin temen-temen?”.
“Soalnya mereka pada tahu ....... kalau aku mandi”




  • Warung Bebeq likes this.

    • Komaruddin Abdullah Nah lho....penggemarnya pasti banyak nih..
      16 February at 21:27 · 

    • Bonny Wardoyo Larangan ini kan berlaku karena lo sering salah masuk kekamar mandi cewe Men...
      17 February at 06:31 · 

    • Chormen Omen Tahu aja!
      17 February at 07:39 · 

Sabtu, 08 Januari 2011

Menyambut Pagi

hahaha... sebagian dari "pengacau" yang bikin elo nggak bisa tidur itu
adalah tim ngamen "shift-2" dari jam 1-3 dinihari,
yaitu gue menggantikan habib idrus, ines sang humas menggantikan fifi,
trus ada dedi yang ikut ngejam, obet sihotang, ajay yang bolak-balik.

tapi pipi nggak komplen kok, men, hehehe...

~a~

Tulisan di atas semacam pengakuan dosa dari mereka yang membuat sebagian dari kami tidak bisa tidur. Sekarang aku lanjutkan ceritanya, sudah sampai dimana ya? Oh, iya sampai dombaku yang nggak bisa mengembik tetapi bisa ngejreng, jenis domba langkah!.

Aku membuka pintu tenda lebar-lebar supaya domba-dombaku bisa leluasa keluar untuk merumput biar mereka bisa mengembik lagi nanti malam.

Setelah menyikat gigi aku berwudhu untuk selanjutnya menunaikan tugas anak pak haji yaitu shalat subuh. Sarapan pagi tengah disiapkan namun nggak kopi jadi terasa kurang pas kalau pagi-pagi nggak ngupi, jujur bicara perkara ngupi itu bukan tugas anak pak haji, tugas anak tentara barangkali. Sialnya aku nggak bawa kopi karena aku pikir urusan makan dan minum termasuk kopi bakal dijamin pemerintah alias panitia.

Masih ada harapan, kulihat sekelompok pria gaek asyik berbincang sambil menyeruput kopi diantaranya Ragil ’80, Konon ‘xx, Joshua ’80.
“Elo mau kopi? Enak nih kopi Lampung”, Konon menawarkan kopi yang masih berasap.
“Gue nggak suka kopi yang berat, kopi instan ada nggak?”
“Ada nih punya Iik, tadi dia udah nawarin ke orang-orang.”
Aku ambil satu bungkus, lumayan walau bukan kopi favoritku, sebaiknya aku minta ijin pemiliknya dulu walau orangnya nggak ada di tempat.
“Iik minta kopinya ya? ... ambil aja Men ..... gue ambil ya .... kok cuma satu .... cukup kok, terima kasih ya!”, kalau sudah ijin halal jadinya.

Saat aku kembali ke tenda makan kujumpai Vini ’86 yang baru selesai menyuci muka. Di bale bambu seorang lelaki menyalamiku sambil berkata. “Kapan ke Pejaten Village lagi?”, aku masih belum ngeh. Dia menambahkan “Kita ketemu waktu makan siang!”.
“Udah, elo nggak nggak nyebut nama, gue inget .... elo pasti Heru ’86 kan?”.
Aku termasuk orang yang gampang menghafal wajah apalagi kalau orangnya cantik, tampan, lugu, lucu, bego, tolol, seksi, kampungan. Nah, kalau Heru karena tampangnya ..... , terserah kamu deh mengisi titik-titiknya!.


Ditengah jalan aku dicegat Deni si manusia gajah ’81 karena sekarang tinggalnya di sekitar Way Kambas, dulu jaman sekolah namanya Deni si manusia ikan sesuai dengan komik tebal yang pernah aku baca. Tenda Deni bersama istrinya persis berhadapan dengan tendaku.

Deni mengajak Smandeler tanggal 12-14 Maret 2011 untuk trekking naik gajah dan memancing di Way Kanan, sungai yang ada buayanya, bakalan seru nih kelihatannya. Kalau kamu nggak sepaham kalian bisa memancing di Way Kiri.

Sarapan pagi sudah siap berupa nasi goreng komplit met kerupuk ditambah chicken nugget, sedangkan roti isi hanya untuk anak-anak, ditemani musik yang semalam ... bosen ..., emang nggak ada yang lainnya!.

Musik tersebut ternyata untuk mengiringi senam pagi yang dipandu oleh Jumar ’86 dan Vini dengan gaya mencuci baju, ngulek sambel, macam-macam deh pokoknya. Aku memutuskan tidak mengikuti senam pagi karena yakin nggak bakalan langsing yang ada malahan jadi bantat.

foto: comot sana-sini dari FB

Malam Pertama

Pukul 10 malam sudah lewat, mata sudah suam-suam kuku, posisi tendaku dekat dengan bale-bale yang tadi ditiduri Gembel, bisa terbayang akan susah tidur karena dekat bale-bale tempat nongkrongnya angkatan 85 dan 86, pasti bakalan berisik. Ternyata dugaanku salah, mereka tertib kok kalau soal tidur.

Acing dan Titi datang lagi kali ini membawa sebuah tempat nasi berisi nasi pepes dan beberapa asesoris berupa lalapan, sambal, ayam goreng dan rendang JENGKOL. Kenapa aku tulis jengkol dengan huruf kapital nanti aku kasih tahu deh. Jangan khawatir aku baik kok orangnya.

Kecuali mentimun bawaan Acing dan Titi yang lain tidak aku jamah maklum sudah kenyang. Kucluk-kucluk mereka pulang tanpa lupa berpamitan.

Aku menyempatkan diri ke musholah untuk menyikat gigi dan menunaikan Isya melewati (dulunya) cewek-cewek angkatan 80 yang asyik berjoget selama 2 jam walau lagu yang diputar itu-itu juga. Mereka berhenti berjoget gara-gara musiknya dimatikan oleh Yudis ’85 karena sudah jam 12 lewat. Aku tidak berani mendekat karena mereka bukan muhrim. Cieh sok alim!

Itu emak-emak tidur? Nggak bok! Mereka ngoceh sampai pagi, mungkin gara-gara mereka memakai batere alkalin.

Jarak tenda mereka dengan punyaku cukup jauh jadi berisik mereka nggak terdengar, aku masuk tenda suasana sudah sunyi, bahkan dengkur di tenda tetangga, PinkQ, Gopang ’85 dan anak-anak tidak terdengar mungkin mereka belum tidur atau mendengkurnya bisik-bisik.

Matras sudah aku gelar, kantong tidur sudah siap, bantal angin sudah kutiup, pintu tenda sudah aku tutup, tinggal mata dipejamkan dan menghitung domba. Kali ini domba-dombaku tidak mengembik tetapi bersuara, “Jreennnnk ....!”. Bukan karena si domba tercekik tetapi yang barusan aku dengar rupanya suara dawai gitar listrik Idrus ’80 mulai dipetik.

Suaranya ngejreng banget sebab jaraknya lebih dekat daripada titik pinalti ke tiang gawang, sudah pasti gol apalagi kalau yang menendang Fernando Torres. Masih ditambah suara Iik ’82 dan Fifi ’91 yang menyanyi memakai mik. Jujur aja suara mereka kadang-kadang bagus.

Jam 3 pagi mereka berhenti, kalau sudah jam segini aku nggak bakal bisa tidur. Subuh tiba haripun mulai terang. Badanku terasa remuk karena nggak bisa tidur, tetapi aku masih bisa tersenyum bila membayangkan suasana di tenda Pipi yang persis di depan moncong speaker.

Andromeda

Selembar kertas berukuran A2 dicetak bolak-balik full-color isinya informatif, ada jadual acara dan penjelasannya, keterangan singkat mengenai lokasi, perlengkapan trekking ke air terjun, informasi SD yang akan memperoleh bantuan sosial, serta susunan panitia Family Camp diberikan ke semua peserta, bentuk dan rupanya keren banget, mengundang decak kagum istriku ketika melihatnya di rumah.

Aku masih di bale pendaftaran ketika memperhatikan cetakan tersebut sementara Lia ’91 menerima pendaftaran Obert dan Entik ’88, keterangan yang diberikan Lia detil banget sedangkan Obert sih setuju aja.

Samar-samar terdengar penjelasan mengenai astronomi, rasa ingin tahu membawa kakiku menaiki tangga semen menuju pelataran tenda angkatan 83, naik satu tangga tempat mangkal tenda terbanyak maklum areanya paling luas, naik satu tangga lagi baru deh dijumpai pusat acara.

Pemerhati astonomi tidak hanya anak-anak, orang tua juga ikutan, maksudku Acing ’76, yang lainnya sih orang muda. Penjelasannya bagus banget karena dibawakan oleh kawan dari  observatorium Bosscha dengan mengunakan lap-top dan in-focus. Katanya galaksi yang terdekat namanya Andromeda yang terdiri dari 6 milyar benda langit, selain itu kawan dari Bosscha menjelaskan mengenai benda langit yang dapat dilihat malam ini salah satunya sabuk Orion.

Berhubung cuaca berawan kawan dari Bosscha yang aku lupa namanya mengajak anak-anak untuk segera melihat bintang dengan teropong yang berlokasi di pelataran tenda angkatan 87. Aku turut mengajak mereka, “Ayo, masa sudah datang jauh-jauh nggak ngeliat teropong!”.
“Ha ha ha bukannya sudah jauh-jauh nggak ngeliat bintang eh sudah jauh-jauh nggak ngeliat teropong, ada-ada aja! Paling nggak sudah dapet satu judul tuh untuk cerita”, kata salah satu dari 3 orang terganteng di Smandel seperti yang tertulis di milis Expa.
“Elo bikin cerita dong Mal”.
“Elo aja! Kalau elo yang bikin ceritanya lebih seru”, kilah pujangga besar Smandel Akmal ’86, penulis yang akan menerbitkan novel sejarah Presiden Prawiranegara.

Sudah disiapkan 2 buah teropong persis dekat tenda Neni ‘87, yang berdiameter kecil ini harganya 1,4 juta yang besar 2 juta, “Jangan beli di supermarket atau toko buku nanti kecewa, coba cari di toko kamera”, kata mahasiswi astronomi ITB.

Bergiliran kami mengamati bintang-bintang sebelum semuanya tertutup awan.

Namanya pembawaan orang tua, Acing protes, “Men, emang dia udah ngitung jumlah bintang di Andromeda 6 milyar?”.
“Gue udah itung Cing jumlahnya ... 6 milyar 8.037”.
“Tumben! Biasanya elo bilang 6 milyar sembilan belas delapan satu, ada 1981nya deh pokoknya!”, Titi ’80 ikut-ikutan.
Setelah aku perhatikan dan hitung ulang rasanya Titi yang benar, yaitu jumlah bintang di Andromeda 6 milyar 1981.

Welcome to FamCamp 2011

Perjuangan kami menuju Cidahu pantas dipuji sebab mulai dari keluar tol Ciawi sampai persimpangan Cicurug mobil berjalan merayap bahkan terkadang harus ngesot, macet banget!.

Mampir dulu di dua tempat, pertama mesjid baru di sisi kanan menuju Lido yang bisa dikatagorikan sebagai bangunan mewah untuk menunaikan shalat Ashar, kedua warung kopi untuk membeli 3 teh manis panas yang dibungkus plastik, sebut saja namanya teh plastik, sekaligus menyeduh mie instan untuk makan malam Hani, maklum sudah waktu Magrib sedangkan Cicurug belum juga lewat.

Siaran radio yang dapat diterima dengan jelas hanya musik gambus, lama-kelamaan aku bisa menikmatinya, enak juga!. Akhirnya kami mempuyai pilihan setelah bisa menangkap siaran lain dari Sukabumi.

Mendekati area perkemahan kami dipungut restribusi oleh petugas berpakaian hansip yang lebih tepat disebut tukang catut, karena si Tutut, maksudku si tukang catut, meminta kami membayar 8 ribu sementara yang diserahkan hanya 2 tiket bernilai 4 ribu dan selembar bonggol karcis.

Di tempat parkir pengeluaran bertambah 10 ribu untuk karcis parkir prabayar, artinya harus membayar 10 ribu dulu untuk memperoleh lahan parkir selama 2 hari 2 malam.

Akhirya sampai juga di perkemahan Batu Tapak yang menjadi lokasi Family Camp kali ini. Ritual pertama pendaftaran ulang di bale-bale bambu yang dijaga Ines 85 dan Jati. Uang Rp 125 ribu ditukar dengan 6 lembar kupon makan dan selembar slayer berwarna oranye. Beberapa majalah sepakbola boleh diambil gratis disini termasuk koran Sinar Harapan dan Koran Jakarta edisi 6 Januri yang berisi iklan Family Camp, duh gaya!.

Di bale-bale lain teronggok lelaki gempal dan kumel sedang tidur, terlihat kurang fit, cocok dengan namanya Gembel ’85.

Makan malam berupa nasi putih, sup wortel jagung, balado hati, rempelo dan jantung ayam buatan crew Edoy’83 enak banget ditambah rebusan jagung, singkong, ubi yang boleh diambil sesuka hati. Selepas makan aku kembali ke bale pendaftaran.

Peserta yang baru tiba terlihat antusias dan ceria, sambutannya juga meriah, seperti yang satu ini.
“Kalau mau diangkut gerobak, barang-barangnya ditaro di sini aja!”
Pesertapun meletakan bawaannya di lantai tak lama kemudian diangkat lagi setelah Tirton ’83 melanjutkan kalimatnya, “Tapi gerobaknya harus ditarik sendiri!”, sebagai pengganti ucapan "Welcome to FamCamp 2011".

Tuh kan, anak Expa mana ada yang bener, kalau ada yang bener itu juga gara-gara salah makan.

Jatah Preman

Dalam menulis aku tidak terikat dengan garis-mati, kata dead-line yang aku terjemahkan secara bebas, makanya kalau aku menulis nggak perlu terburu-buru, namun kali ini, saat pegal di kaki akibat trekking belum hilang dan kurang tidur belum terbayar, jemariku sudah terasa gatal untuk menulis edisi perdana cerita Family Camp Expa di Cidahu tanggal 7-9 Januari 2011 karena Family Camp begitu berkesan.

Pendapat di benak kamu memang benar bahwa “Buat apa repot-repot, bukankah sebuah foto bisa berbicara lebih dari seribu kata”, namun seperti kata Akmal ’86 dalam pelatihan Jurnalis Cilik bahwa dukumentasi tidak hanya dengan foto tetapi bisa juga dengan tulisan. Aku mengambil jurusan tulis-menulis untuk dokumentasi dengan satu alasan kuat “Rugi bok kalau nggak kena foto!”.





foto bersama setelah tanding....
Added yesterday ·  · 





a ente nyelip disana.....dasarrrr bokissss.....hehehe

  • Andung Nni omen...virus kamera...gak boleh ada kamera langsung aje ikutan mejeng...






    brella n bude-nya (bujur gede)...:P

  • Biar lebih terkesan gimana gitu! Aku berencana ke Cidahu naik kendaraan umum dengan membawa ransel, sleeping bag dan matras bada Subuh bersama Jati ’82. Tadi pagi aku tidak ke Kampung Rambutan tetapi mengantar anak-anakku ke sekolah dan kuliah padahal peralatan kemping sudah masuk mobil, pasalnya aku menerima sms Jati, 05:08 yang berbunyi, “Men sori gw brng edoy”.

    Sambil menanti Karra bangun dari tidurnya di mobil untuk mengikuti perkuliahan aku menghubungi Riri ’83 yang merespon statusku di efbe,”Ayoo..bareng ama gw.. ditunggu di bogor ,,” 06 January at 19:42. Riri bilang jam 8 pagi dia berangkat ke Cidahu dari rumahnya di Bogor jadi sebelum jam 8 aku harus tiba di Baranangsiang, sesuai dengan cita-citaku naik kendaraan umum, lalu menyeberangi jalan untuk dijemput Riri.
    “ ....tapi Men elo jangan nyebrang dulu, tunggu aja di Baranangsiang!”.
    “Maksud lo setelah elo lewat baru gue nyebrang? Gue ketinggalan dong!”

    Tawaranku untuk mengemudikan mobilnya ditolak mentah-mentah, “Enak aja! Gue yang nyetir! Emangnya elo belum tahu kalau Cidahu itu daerah kekuasaan gue! Elo duduk manis aja!”. Enaknya nebeng Riri, tinggal duduk manis semua dilayani seolah mendapat jatah preman. Lepas bareng Jati dapat tebengan Riri, seperti pepatah, “Tak ada akar rotanpun jadi!”. Sayangnya aku harus merelakan kehilangan malam pertama.

    Sebelum shalat Jumat aku diminta Jati menghubungi Patudi ’89, Ketua Expa, siapa tahu aku bisa nebeng karena mobil Patudi masih kosong hanya berpenumpang Hani, anaknya yang duduk di kelas 1 Sekolah Dasar.

    Bada shalat Jumat Patudi bersama Hani menjemputku di patung Kemang Pratama naik motor menuju Pondok Mitra Lestari mengambil mobil.
    “Kenapa Patudi nggak jemput elo sekalian naik mobil aja?”, Pipi ’86 bertanya keheranan di lokasi Family Camp.
    “Emang elo belum tahu kalau Patudi trauma nyetir mobil gara-gara mobilnya nabrak tiang listrik”.

    Selepas menjemput paksa Embong ’85, kami menuju Cidahu dengan bermacet-ria.

    Bagiku pergi bersama Riri seolah mendapat jatah preman, sedangkan pergi dengan Patudi mendapat jatah supir.

  • Linda Brella huahhahaha..blon sempet nutupin kegap duluan nih..:)



  • Merri Aisir Brel lo ngalangin wajah siapa tuh?


  • Linda Brella huahahah ..ga tau sapa..maap yee...:)



  • Santy Rahayu Omen khan menejernye tim futsal sam volly smandel......pade blm tau ye.....br diangkat sm KONI kemaren
  • Senin, 27 Desember 2010

    Barang Bekas

    Memang modelnya Ari pada harinya dia bilang ada acara padahal jauh hari yakin banget kalau dia bisa datang ke rumah Poppy buat meramaikan acara santunan anak yatim. Sementara Budi nggak bisa dihubungi, jadilah aku berangkat sendiri.

    Aku sempat berbicara cukup lama dengan Wiwid yang merupakan satu-satu lelaki disitu karena Kora dan Firman tengah menjemput anak yatim sementara Heri yang datang dengan Fortuner baru berwarna hitam belum hadir.

    Akhirnya Poppy keluar rumah untuk menyambut. Senang melihat keadaan Poppy sekarang berbeda jauh saat kami berkunjung di bulan puasa. Dulu badannya kurus, lemas dan mukanya memakai masker seolah putri Yasmin dalam cerita 1001 malam yang menggunakan cadar.

    “Badan gue naik 6-7 kilo, Men. Gue masih disuntik kemo seminggu sekali tapi porsinya nggak seberat dulu”. Nah, ada satu lagi berita menggembirakan , Poppy sekarang sudah berjilbab, Alhamdulillah!.

    Ratu muncul makanan juga ikut-ikatan muncul berupa lemper, lumpia dan puding pelangi dilengkapi stawberry. Dia mengundang resepsi pernikahan anaknya tanggal 5 Maret 2011 di Lewiliang jam 12 siang, “Nanti gue masukin fesbuk deh!” ujarnya, “Oh iya, jangan lupa elo bilangin ke temen-temen yang lain dong!”. Buat kawan-kawan, anggap aja cerita ini sebagai undangan. Datang ya!.

    Suatu kehormatan mas Agus ketua IKAL turut hadir dan bahkan memberikan sambutan. Beliau mengundang nonton bareng final piala AFF di rumahnya di Pondok Kelapa, Kali Malang, hari Rabu ini. Soal makanan nggak usah khawatir, tinggal datang aja!. Masih semangat nggak ya beliau setelah malamnya Garuda dipukul 3-0 oleh Malaysia.

    Ely yang berdiri di samping Rita, si anak Berlan, mengutarakan rencara berkunjung ke rumah pak Pajri, guru olah raga, dan pak Udin, guru sejarah, dalam waktu dekat. Jaya, ketua angkatan, sudah tahu belum ya?.

    Pengurus IKAL yang lain, Sonny angkatan 80, yang kebetulan lewat naik motor turut mampir, ternyata tetangga Poppy. Kata Sonny alumni mau mengadakan “Barbeque” yang punya arti “barang bekas berkualitas”, semacam penjualan barang layak pakai untuk mengisi kas alumni di suatu lapangan di bilangan Tebet.

    Aku katakan kepada Sonny bahwa angkatan 77 akan menghadirkan *** sebagai salah satu barang bekas. Ratupun sudah pasti langsung nyap-nyap, “Enak aja lo gue dibilang barang bekas!”.
    “Sori deh kalau elo marah dibilang barang bekas padahal kan elo .... bekas barang”