Tampilkan postingan dengan label FTUI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FTUI. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 01 Februari 2014
Senin, 01 Oktober 2012
Kakak Terbaik
Ada 2 acara di hari yang
sama dan jam yang sama, pertama HBH Smandelers di rumah Ella ’87, satunya lagi
ratiban sepupu istriku. Harus bagi-bagi, istriku ke ratiban, aku ke HBH
Smandelers. Kalau mau mendapatkan suasana yang berbeda aku yang ke ratiban biar
istriku ke acara Smandel.
Nggak ah!, aku kan ingin
ketemu kawan-kawan lintas angkatan, jadi selepas mengantar istriku, betul!,
yang cantik, menarik dan menawan hari aku buru-buru ke rumah Ella. Makanya aku
sampainya rada telat, pas waktunya zuhur.
Datang-datang mengambil
wudhu terus naik ke lantai 2 untuk shalat berjamaah, abis shalat kan jadi
tenang, tinggal mikirin makan dan makan deh!.
Sudah barang tentu aku
salami si nyonya rumah terlebih dulu, sebelum aku salami yang lain. Aku kaget
ada Manzilah, Ady, dan Andrina dari angkatan 81. Sama kagetnya dengan mbak
Toety ’62, katanya biasanya kalau aku pergi cuma sendirian. Sengaja aku tulis
biar besok-besok kalau ada acara seperti ini yang datang bertambah banyak.
Kamu tahu kan aku paling
nggak suka cerita tentang sambutan-sambutan, tetapi nggak untuk kali ini. Ella
saat mengakhiri kata sambutannya bilang. “Mohon maaf kalau konsumsinya tidak
berkenan, di luar sebelah kiri ada prasmanan lengkap, di tengah ada nasi bakar,
sebelah kanan tempura, di bawah dekat kolam renang ada soto mie, soto Betawi,
somay dan kambing guling”.
Sebegitu banyaknya
sampai-sampai Omloy ’86 komentar, “Ella, itu semuanya satu harga?”.
Berani sumpah nggak semua makanan aku jamah, apalagi ada
nasi mandi yang baru datang dan direkomendasikan Manzilah untuk dicoba.
Suara yang keluar dari
moncong Dewi ’86, Ariani ’90, Omloy ’86, Bowie ’87, grup band berpakaian Timur
tengah, Ronny Waluya, Sarah Indonesian Idol membuat suasana bertambah asyik.
Belum lagi aku bisa ketemu
Amin yang 15 tahun di Amrik, angkatan 83 yang masuk Elektro UI ’84. Pas tahun 1984 OSPEK dilakukan di
tingkat jurusan. Setelah OSPEK ada acara malam keakraban, seperti biasa ada
penobatan kakak terbaik dan kakak tergalak. Nah, Amin ketua angkatan E’84
bersama para yunior memilihku menjadikan kakak terbaik.
Suatu kesempatan Amin
bicara kepadaku, “Men, elo waktu OSPEK galak banget, gue sampe takut!. Nah, elo
pastinya pinginnya dapet kakak tergalak kan? Makanya gue kasih jadi kakak terbaik”.
Ketika OSPEK aku memang
galak banget, sampai-sampai beberapa bulan setelahnya nggak ada anak E’84 yang
berani bercanda di depanku, mungkin gara-gara Benny E’80 anak Elektro yang
badannya paling berotot aku mau hajar di depan mereka.
Ceritanya jadual OSPEK
giliranku sudah masuk, tetapi Benny masih ngoceh aja. Aku bilang, “Ben,
sekarang acara gue”.
“Iya sebentar”, dia
ngomong terus.
Akhirnya aku bentak dia, “Sekarang
elo keluar!”, sambil aku cengkram kerah bajunya, dan aku dorong badannya
yang besar sehingga membentur pintu, “Gedubrak!”, keras banget.
“Iye, gue keluar”, katanya dengan nada ketakutan.
Kawan-kawanku yang melihat bilang, “Emang elo anak Berlan! Nggak ada takutnya, Benny yang segede
itu nggak ngelawan. Elo pake ilmu apa sih?”.
Berhubung hampir 30 tahun,
rahasianya aku ungkapkan kepada kamu.
Selesai acara aku temui
Benny, kulihat lehernya masih merah gara-gara aku cengkram, dia bilang begini
waktu aku dekati, “Men, elo nyekel gue keras banget!, Masih kerasa sakit nih
leher gue!. Padahal elo tadi janjinya pelan-pelan!”.
Iwan Rifai Kadir and Vera Trisnawati like this.
Vera Trisnawati, Ini cerita ospek84 FTUI digabung dgn cerita n foto2 HBH lintas angkatan smandel? Kalo bukan Chormen Omen, ga ada yg bikin kayak gini...*jadi ketemu gak sama Amin'83?
Willem Teddy Usmany, Pantesan......!
Iriana Wihardja, siapa sih chormen....!
Iwan Rifai Kadir and Vera Trisnawati like this.
Vera Trisnawati, Ini cerita ospek84 FTUI digabung dgn cerita n foto2 HBH lintas angkatan smandel? Kalo bukan Chormen Omen, ga ada yg bikin kayak gini...*jadi ketemu gak sama Amin'83?
Willem Teddy Usmany, Pantesan......!
Iriana Wihardja, siapa sih chormen....!
Minggu, 29 Juli 2012
Wani Piro
Kalau ada KAPA-FTUI world
of record aku pasti menjadi salah satu pemegangnya, kamu jangan kaget biar
begini aku punya prestasi. Sebelumnya perkenalkan bahwa dulu aku pernah menjadi
mahasiswa elektro dari angkatan 81 yang kompak-sukompak.
Liburan pertama kami diisi
dengan kemping bareng soalnya belum boleh ikutan PAB Kapa dengan penyebab yang
sepele, kami belum punya kartu Ikatan Keluarga Mahasiswa-UI dari ketua Senat
Mahasiswa FTUI, padahal sampai aku lulus kartu itu belum pernah dicetak apalagi
dibagikan.
Periode berikutnya, 1983,
baru kami bisa ikutan PAB dengan Elektro 81 menjadi peserta terbanyak dengan
alih-alih yang sederhana, mengisi liburan. Begitupun tahun berikutnya bahkan
sampai aku lulus di tahun 1986, masih ada juga yang ikutan, Sri Latifah
namanya. Kalau diteli mungkin E81 anggota Kapa terbanyak sampai saat ini.
Secara akademik prestasiku
sebagai anggota Kapa dari angkatan 81 yang lulus duluan, secara non-akademik
lebih hebat lagi, seperti tulisan yang kamu baca di atas, pemegang rekor Kapa
saat PAB.
|
Aku masih ingat PAB 30
tahun lalu, aku ceritakan beberapa, soalnya kalau aku ceritakan semuanya
bisa-bisa buku 40 tahun Kapa isinya tulisanku semua.
Hifander Jani Purba E81,
si batak tembak langsung, dia pernah jadi komandan regu, saat laporan di bilang
begini, “Lapor! Nama Jani, melaporkan semua anggota kondisi lumayan”. Whaattttt
lumayaaaaan!!!. Sudah pasti kakak instruktur bingung, kayak gimana yang namanya
lumayan.
Pay Ishak S80, teman
kelompokku, urusan minuman dia jagonya. Waktu acara jungle survival dia
berhasil menyembunyikan sebatang coklat susu, biar semua anggotanya kebagian
dia masukan batangan coklat itu ke dalam verples jadilah minuman coklat susu
yang kami minum seteguk-seteguk, buat penambah energi.
Pernah aku minum dari
verplesnya seteguk setelah itu isinya aku buang habis, “Pay, air di verples elo
kotor amat, banyak item-itemnya, isinya udah gue buang”.
Terpaksa dia masak air
lagi, ternyata isinya air matang dan bersih, item-item yang aku maksud ternyata
Norit, biar kami nggak sakit perut.
Gatot E80, anggota Menwa,
dia sering memimpin olah-raga pagi, kalau lari-lari pakai nyanyi tapi bait
terakhirnya kami ganti.
Lari-lari … (lari-lari …)
Tiap pagi … (tiap pagi …)
Badan sehat … (badan sehat
…)
PARU-PARU RUSAK
Triatmo “Kuplek” Dorianto
E81, urusan makanan dia paling jadi andalan. Saat tidur malam di hutan aku
meminjam sesuatu.
“Elo ambil aja di kantong
rasel gue”, jawabnya.
“Busyet deh Plek, ransel
elo banyak jangkrik!”.
“Buruan Men tutup!”,
diapun sibuk menangkapi jangkrik yang lepas, setelah tertangkap semua dia
bilang, “Ini makanan”.
Bersama Kuplek aku merasa
belalang bakar, enak seperti jagung bakar, tetapi untuk yang kedua kalinya sih
ogah!.
Nah. Sekarang aku cerita
tentang tidur kalong, tidur di atas pohon, berisik banget karena semua orang
nggak bisa tidur, aku mencoba beberapa posisi tetap saja nggak bisa, sampai
akhirnya aku temukan cara yang membuatku tertidur lelap di atas pohon. Ketika
aku membuka mata hari sudah terang, suasana sunyi, terdengar dari kejauhan, “Tu
…, Wa …, Ga …, Pat ..”, begitu berulang-ulang.
Aku menuju sumber suara,
tempat siswa berolah-raga pagi, dan menerima hukuman lari 2 kali mengelilingi
lapangan. Setelah senam selesai, semua orang menyalamiku, “Selamat ya Men, elo
bisa tidur di atas pohon. Selamat ya elo anak Kapa pertama yang bisa tidur di
pohon”.
Ya, itulah rekorku, orang
pertama di Kapa yang bisa tidur di pohon pakai kebablasan. Hebat ya?
Kalau kamu mau tahu
rahasianya sih boleh-boleh aja, tapi ….. wani
piro?
Sebagai manusia yang
usianya lebih tua daripada Kapa aku memberi pesan buat yang masih suka
mengembara ke gunung, hutan dan daerah terpencil lainnya, di situ biasanya
menjadi tempat jin buang anak, makanya kalau kecing harus bilang, “Permisi”, soalnya
kalau kamu ngencingin makluk halus dan kesurupan kan berabe, apalagi si makluk
halus ….. balas ngencingin!.
Jumat, 23 Januari 2009
Kandang Laki
18:45 mulai kukendarai mobilku dari rumah, sampai di lokasi pukul
19:40 teman-temanku beberapa sudah menunggu, kecuali Ratna semuanya
bapak-bapak karena akupun sudah bapak-bapak.
Wisata kuliner kali ini bersama teman E81, inisial yang mudah dihafal namun memiliki terjemahan yang cukup panjang yaitu yang pernah kuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia jurusan Elektro angkatan 81.

Tempatnya sengaja aku tidak sebutkan karena sebaiknya begitu disamping sang pemilik tempat kami berkuliner belum membayar uang promosi. Masakan Jepang yang disajikan, bagi yang tidak jelas bisa bertanya kepada Ratna yang peranakan campuran Bali dengan Jepang, tapi jangan bertanya kepada Ucup Strauss yang campuran dedak dengan bekatul.
Jaman kuliah kalau berkuliner nggak banyak mikir, tinggal jalan ke bengkel, cari tempat duduk dan teriak “Yamin” datang deh penjual mie ayam membawa yamin dengan kuah terpisah, daun bawangnya agak banyakan kalau pesanan itu untukku.
Aku memilih set menu Sukiyaki yang disajikan bersama meat ball goreng, cawan musi, beserta nasi, irisan buah segar dan oca hangat. Sebetulnya aku ingin Tepanyaki set sayangnya disajikan tidak bersama cawan musi, sayangnya lagi si cawan musi kurang oke dibandingkan dengan di Jobu Sushi. Jobu punya asyik banget.
Makan sambil bercanda dan cela-celaan itu tradisi kami dari dulu, bahkan konon cela-celaan bagian dari ektra kulikuler anak Teknik, STMnya UI.
Saat kami membicarakan facebook, Ucup bilang begini “Elo jangan nyari Omen di fesbuk, mana ada ............ Adanya tante Karra”, kini giliran aku yang kena.

Sehabis makan kami berkaraoke di tempat yang sama. Lagu pertama Gereja Tua karya Panbers, tapi suaranya nggak semerdu Panjaitan Bersaudara, yang ini suaranya agak terkesan ngos-ngosan, mungkin Panbers gaya kami adalah gaya Panjaitan Bersepeda.
Aku belum bilang ya kenapa aku memakai judul Kandang Laki. Bukan karena lokasinya dekat Kandang Badak atau Kandang Batu. Bukan juga karena yang ikutan 1 perempuan ditemani 11 lelaki. Ah, nanti deh akan tahu sendiri.
Kami berencara Reuni E81 hari Jumat malam tanggal 24 April untuk itu kalau ada teman kerja, kakak, adik, bapak yang termasuk E81 kasih tahu kami ya.
23:30 kaki mulai meninggalkan lokasi, tempat pertama yang dicari toilet, sudah dikunci semua kecuali satu tempat persis di bawah restoran. Sebuah klub malam yang dapat dilihat dari vide or void restoran.
Menuruni tangga kami menuju toilet tersebut. Tersedia 2 toilet duduk dan 1 toilet kencing berdiri. Dodo masuk tapi tak lama keluar. “Udah selesai Do?”.
“Mana bisa gue kencing begini, masa kencing sambil main liat-liatan”
Tak lama 2 pemuda keluar dari toilet yang Dodo masuki, mungkin mereka yang bermain mata dengan Dodo.
Di tempat cuci tangan terpampang iklan lowongan pekerjaan dengan gambar pria tampan, yang menarik adalah tulisan “Gay is a must”. Toilet ini memang punya klub malam khusus kaum gay.
Melalui tangga darurat kami turun menuju tempat parkir di basement, pintu yang dijaga oleh 4 orang satpam. Aku tidak sempat bertanya apakah satpam tadi direkrut dengan persyaratan “Gay is a must” juga nggak ya?.
Mereka tersenyum kepada kami rombongan lelaki, pelanggan baru mungkin pikir mereka. Mereka memberikan senyum manisnya juga nggak ya kepada Ratna yang memakai jilbab, aku tidak memperhatikan.
Tepat 10 meter dari pintu darurat terparkir mobilku. 24:30 sampai rumah, bermain fesbuk dulu sebelum tidur, teryata teman-teman chatting sudah tidur duluan atau sedang dalam perjalanan menuju Kandang Laki.
Wisata kuliner kali ini bersama teman E81, inisial yang mudah dihafal namun memiliki terjemahan yang cukup panjang yaitu yang pernah kuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia jurusan Elektro angkatan 81.

Tempatnya sengaja aku tidak sebutkan karena sebaiknya begitu disamping sang pemilik tempat kami berkuliner belum membayar uang promosi. Masakan Jepang yang disajikan, bagi yang tidak jelas bisa bertanya kepada Ratna yang peranakan campuran Bali dengan Jepang, tapi jangan bertanya kepada Ucup Strauss yang campuran dedak dengan bekatul.
Jaman kuliah kalau berkuliner nggak banyak mikir, tinggal jalan ke bengkel, cari tempat duduk dan teriak “Yamin” datang deh penjual mie ayam membawa yamin dengan kuah terpisah, daun bawangnya agak banyakan kalau pesanan itu untukku.
Aku memilih set menu Sukiyaki yang disajikan bersama meat ball goreng, cawan musi, beserta nasi, irisan buah segar dan oca hangat. Sebetulnya aku ingin Tepanyaki set sayangnya disajikan tidak bersama cawan musi, sayangnya lagi si cawan musi kurang oke dibandingkan dengan di Jobu Sushi. Jobu punya asyik banget.
Makan sambil bercanda dan cela-celaan itu tradisi kami dari dulu, bahkan konon cela-celaan bagian dari ektra kulikuler anak Teknik, STMnya UI.
Saat kami membicarakan facebook, Ucup bilang begini “Elo jangan nyari Omen di fesbuk, mana ada ............ Adanya tante Karra”, kini giliran aku yang kena.

Sehabis makan kami berkaraoke di tempat yang sama. Lagu pertama Gereja Tua karya Panbers, tapi suaranya nggak semerdu Panjaitan Bersaudara, yang ini suaranya agak terkesan ngos-ngosan, mungkin Panbers gaya kami adalah gaya Panjaitan Bersepeda.
Aku belum bilang ya kenapa aku memakai judul Kandang Laki. Bukan karena lokasinya dekat Kandang Badak atau Kandang Batu. Bukan juga karena yang ikutan 1 perempuan ditemani 11 lelaki. Ah, nanti deh akan tahu sendiri.
Kami berencara Reuni E81 hari Jumat malam tanggal 24 April untuk itu kalau ada teman kerja, kakak, adik, bapak yang termasuk E81 kasih tahu kami ya.
23:30 kaki mulai meninggalkan lokasi, tempat pertama yang dicari toilet, sudah dikunci semua kecuali satu tempat persis di bawah restoran. Sebuah klub malam yang dapat dilihat dari vide or void restoran.
Menuruni tangga kami menuju toilet tersebut. Tersedia 2 toilet duduk dan 1 toilet kencing berdiri. Dodo masuk tapi tak lama keluar. “Udah selesai Do?”.
“Mana bisa gue kencing begini, masa kencing sambil main liat-liatan”
Tak lama 2 pemuda keluar dari toilet yang Dodo masuki, mungkin mereka yang bermain mata dengan Dodo.
Di tempat cuci tangan terpampang iklan lowongan pekerjaan dengan gambar pria tampan, yang menarik adalah tulisan “Gay is a must”. Toilet ini memang punya klub malam khusus kaum gay.
Melalui tangga darurat kami turun menuju tempat parkir di basement, pintu yang dijaga oleh 4 orang satpam. Aku tidak sempat bertanya apakah satpam tadi direkrut dengan persyaratan “Gay is a must” juga nggak ya?.
Mereka tersenyum kepada kami rombongan lelaki, pelanggan baru mungkin pikir mereka. Mereka memberikan senyum manisnya juga nggak ya kepada Ratna yang memakai jilbab, aku tidak memperhatikan.
Tepat 10 meter dari pintu darurat terparkir mobilku. 24:30 sampai rumah, bermain fesbuk dulu sebelum tidur, teryata teman-teman chatting sudah tidur duluan atau sedang dalam perjalanan menuju Kandang Laki.
3 comments:
oneJanuary 26, 2009 10:49 PMselamat men,gaya tulisannya oke.ditunggu tulisan berikutnya.ReplyDelete
Dimana tuh men restonya? Apa di dharmawangsa ato gdg Jaya?
Langganan:
Postingan (Atom)





