Sabtu, 08 Januari 2011

Malam Pertama

Pukul 10 malam sudah lewat, mata sudah suam-suam kuku, posisi tendaku dekat dengan bale-bale yang tadi ditiduri Gembel, bisa terbayang akan susah tidur karena dekat bale-bale tempat nongkrongnya angkatan 85 dan 86, pasti bakalan berisik. Ternyata dugaanku salah, mereka tertib kok kalau soal tidur.

Acing dan Titi datang lagi kali ini membawa sebuah tempat nasi berisi nasi pepes dan beberapa asesoris berupa lalapan, sambal, ayam goreng dan rendang JENGKOL. Kenapa aku tulis jengkol dengan huruf kapital nanti aku kasih tahu deh. Jangan khawatir aku baik kok orangnya.

Kecuali mentimun bawaan Acing dan Titi yang lain tidak aku jamah maklum sudah kenyang. Kucluk-kucluk mereka pulang tanpa lupa berpamitan.

Aku menyempatkan diri ke musholah untuk menyikat gigi dan menunaikan Isya melewati (dulunya) cewek-cewek angkatan 80 yang asyik berjoget selama 2 jam walau lagu yang diputar itu-itu juga. Mereka berhenti berjoget gara-gara musiknya dimatikan oleh Yudis ’85 karena sudah jam 12 lewat. Aku tidak berani mendekat karena mereka bukan muhrim. Cieh sok alim!

Itu emak-emak tidur? Nggak bok! Mereka ngoceh sampai pagi, mungkin gara-gara mereka memakai batere alkalin.

Jarak tenda mereka dengan punyaku cukup jauh jadi berisik mereka nggak terdengar, aku masuk tenda suasana sudah sunyi, bahkan dengkur di tenda tetangga, PinkQ, Gopang ’85 dan anak-anak tidak terdengar mungkin mereka belum tidur atau mendengkurnya bisik-bisik.

Matras sudah aku gelar, kantong tidur sudah siap, bantal angin sudah kutiup, pintu tenda sudah aku tutup, tinggal mata dipejamkan dan menghitung domba. Kali ini domba-dombaku tidak mengembik tetapi bersuara, “Jreennnnk ....!”. Bukan karena si domba tercekik tetapi yang barusan aku dengar rupanya suara dawai gitar listrik Idrus ’80 mulai dipetik.

Suaranya ngejreng banget sebab jaraknya lebih dekat daripada titik pinalti ke tiang gawang, sudah pasti gol apalagi kalau yang menendang Fernando Torres. Masih ditambah suara Iik ’82 dan Fifi ’91 yang menyanyi memakai mik. Jujur aja suara mereka kadang-kadang bagus.

Jam 3 pagi mereka berhenti, kalau sudah jam segini aku nggak bakal bisa tidur. Subuh tiba haripun mulai terang. Badanku terasa remuk karena nggak bisa tidur, tetapi aku masih bisa tersenyum bila membayangkan suasana di tenda Pipi yang persis di depan moncong speaker.

Andromeda

Selembar kertas berukuran A2 dicetak bolak-balik full-color isinya informatif, ada jadual acara dan penjelasannya, keterangan singkat mengenai lokasi, perlengkapan trekking ke air terjun, informasi SD yang akan memperoleh bantuan sosial, serta susunan panitia Family Camp diberikan ke semua peserta, bentuk dan rupanya keren banget, mengundang decak kagum istriku ketika melihatnya di rumah.

Aku masih di bale pendaftaran ketika memperhatikan cetakan tersebut sementara Lia ’91 menerima pendaftaran Obert dan Entik ’88, keterangan yang diberikan Lia detil banget sedangkan Obert sih setuju aja.

Samar-samar terdengar penjelasan mengenai astronomi, rasa ingin tahu membawa kakiku menaiki tangga semen menuju pelataran tenda angkatan 83, naik satu tangga tempat mangkal tenda terbanyak maklum areanya paling luas, naik satu tangga lagi baru deh dijumpai pusat acara.

Pemerhati astonomi tidak hanya anak-anak, orang tua juga ikutan, maksudku Acing ’76, yang lainnya sih orang muda. Penjelasannya bagus banget karena dibawakan oleh kawan dari  observatorium Bosscha dengan mengunakan lap-top dan in-focus. Katanya galaksi yang terdekat namanya Andromeda yang terdiri dari 6 milyar benda langit, selain itu kawan dari Bosscha menjelaskan mengenai benda langit yang dapat dilihat malam ini salah satunya sabuk Orion.

Berhubung cuaca berawan kawan dari Bosscha yang aku lupa namanya mengajak anak-anak untuk segera melihat bintang dengan teropong yang berlokasi di pelataran tenda angkatan 87. Aku turut mengajak mereka, “Ayo, masa sudah datang jauh-jauh nggak ngeliat teropong!”.
“Ha ha ha bukannya sudah jauh-jauh nggak ngeliat bintang eh sudah jauh-jauh nggak ngeliat teropong, ada-ada aja! Paling nggak sudah dapet satu judul tuh untuk cerita”, kata salah satu dari 3 orang terganteng di Smandel seperti yang tertulis di milis Expa.
“Elo bikin cerita dong Mal”.
“Elo aja! Kalau elo yang bikin ceritanya lebih seru”, kilah pujangga besar Smandel Akmal ’86, penulis yang akan menerbitkan novel sejarah Presiden Prawiranegara.

Sudah disiapkan 2 buah teropong persis dekat tenda Neni ‘87, yang berdiameter kecil ini harganya 1,4 juta yang besar 2 juta, “Jangan beli di supermarket atau toko buku nanti kecewa, coba cari di toko kamera”, kata mahasiswi astronomi ITB.

Bergiliran kami mengamati bintang-bintang sebelum semuanya tertutup awan.

Namanya pembawaan orang tua, Acing protes, “Men, emang dia udah ngitung jumlah bintang di Andromeda 6 milyar?”.
“Gue udah itung Cing jumlahnya ... 6 milyar 8.037”.
“Tumben! Biasanya elo bilang 6 milyar sembilan belas delapan satu, ada 1981nya deh pokoknya!”, Titi ’80 ikut-ikutan.
Setelah aku perhatikan dan hitung ulang rasanya Titi yang benar, yaitu jumlah bintang di Andromeda 6 milyar 1981.

Welcome to FamCamp 2011

Perjuangan kami menuju Cidahu pantas dipuji sebab mulai dari keluar tol Ciawi sampai persimpangan Cicurug mobil berjalan merayap bahkan terkadang harus ngesot, macet banget!.

Mampir dulu di dua tempat, pertama mesjid baru di sisi kanan menuju Lido yang bisa dikatagorikan sebagai bangunan mewah untuk menunaikan shalat Ashar, kedua warung kopi untuk membeli 3 teh manis panas yang dibungkus plastik, sebut saja namanya teh plastik, sekaligus menyeduh mie instan untuk makan malam Hani, maklum sudah waktu Magrib sedangkan Cicurug belum juga lewat.

Siaran radio yang dapat diterima dengan jelas hanya musik gambus, lama-kelamaan aku bisa menikmatinya, enak juga!. Akhirnya kami mempuyai pilihan setelah bisa menangkap siaran lain dari Sukabumi.

Mendekati area perkemahan kami dipungut restribusi oleh petugas berpakaian hansip yang lebih tepat disebut tukang catut, karena si Tutut, maksudku si tukang catut, meminta kami membayar 8 ribu sementara yang diserahkan hanya 2 tiket bernilai 4 ribu dan selembar bonggol karcis.

Di tempat parkir pengeluaran bertambah 10 ribu untuk karcis parkir prabayar, artinya harus membayar 10 ribu dulu untuk memperoleh lahan parkir selama 2 hari 2 malam.

Akhirya sampai juga di perkemahan Batu Tapak yang menjadi lokasi Family Camp kali ini. Ritual pertama pendaftaran ulang di bale-bale bambu yang dijaga Ines 85 dan Jati. Uang Rp 125 ribu ditukar dengan 6 lembar kupon makan dan selembar slayer berwarna oranye. Beberapa majalah sepakbola boleh diambil gratis disini termasuk koran Sinar Harapan dan Koran Jakarta edisi 6 Januri yang berisi iklan Family Camp, duh gaya!.

Di bale-bale lain teronggok lelaki gempal dan kumel sedang tidur, terlihat kurang fit, cocok dengan namanya Gembel ’85.

Makan malam berupa nasi putih, sup wortel jagung, balado hati, rempelo dan jantung ayam buatan crew Edoy’83 enak banget ditambah rebusan jagung, singkong, ubi yang boleh diambil sesuka hati. Selepas makan aku kembali ke bale pendaftaran.

Peserta yang baru tiba terlihat antusias dan ceria, sambutannya juga meriah, seperti yang satu ini.
“Kalau mau diangkut gerobak, barang-barangnya ditaro di sini aja!”
Pesertapun meletakan bawaannya di lantai tak lama kemudian diangkat lagi setelah Tirton ’83 melanjutkan kalimatnya, “Tapi gerobaknya harus ditarik sendiri!”, sebagai pengganti ucapan "Welcome to FamCamp 2011".

Tuh kan, anak Expa mana ada yang bener, kalau ada yang bener itu juga gara-gara salah makan.

Jatah Preman

Dalam menulis aku tidak terikat dengan garis-mati, kata dead-line yang aku terjemahkan secara bebas, makanya kalau aku menulis nggak perlu terburu-buru, namun kali ini, saat pegal di kaki akibat trekking belum hilang dan kurang tidur belum terbayar, jemariku sudah terasa gatal untuk menulis edisi perdana cerita Family Camp Expa di Cidahu tanggal 7-9 Januari 2011 karena Family Camp begitu berkesan.

Pendapat di benak kamu memang benar bahwa “Buat apa repot-repot, bukankah sebuah foto bisa berbicara lebih dari seribu kata”, namun seperti kata Akmal ’86 dalam pelatihan Jurnalis Cilik bahwa dukumentasi tidak hanya dengan foto tetapi bisa juga dengan tulisan. Aku mengambil jurusan tulis-menulis untuk dokumentasi dengan satu alasan kuat “Rugi bok kalau nggak kena foto!”.





foto bersama setelah tanding....
Added yesterday ·  · 





a ente nyelip disana.....dasarrrr bokissss.....hehehe

  • Andung Nni omen...virus kamera...gak boleh ada kamera langsung aje ikutan mejeng...






    brella n bude-nya (bujur gede)...:P

  • Biar lebih terkesan gimana gitu! Aku berencana ke Cidahu naik kendaraan umum dengan membawa ransel, sleeping bag dan matras bada Subuh bersama Jati ’82. Tadi pagi aku tidak ke Kampung Rambutan tetapi mengantar anak-anakku ke sekolah dan kuliah padahal peralatan kemping sudah masuk mobil, pasalnya aku menerima sms Jati, 05:08 yang berbunyi, “Men sori gw brng edoy”.

    Sambil menanti Karra bangun dari tidurnya di mobil untuk mengikuti perkuliahan aku menghubungi Riri ’83 yang merespon statusku di efbe,”Ayoo..bareng ama gw.. ditunggu di bogor ,,” 06 January at 19:42. Riri bilang jam 8 pagi dia berangkat ke Cidahu dari rumahnya di Bogor jadi sebelum jam 8 aku harus tiba di Baranangsiang, sesuai dengan cita-citaku naik kendaraan umum, lalu menyeberangi jalan untuk dijemput Riri.
    “ ....tapi Men elo jangan nyebrang dulu, tunggu aja di Baranangsiang!”.
    “Maksud lo setelah elo lewat baru gue nyebrang? Gue ketinggalan dong!”

    Tawaranku untuk mengemudikan mobilnya ditolak mentah-mentah, “Enak aja! Gue yang nyetir! Emangnya elo belum tahu kalau Cidahu itu daerah kekuasaan gue! Elo duduk manis aja!”. Enaknya nebeng Riri, tinggal duduk manis semua dilayani seolah mendapat jatah preman. Lepas bareng Jati dapat tebengan Riri, seperti pepatah, “Tak ada akar rotanpun jadi!”. Sayangnya aku harus merelakan kehilangan malam pertama.

    Sebelum shalat Jumat aku diminta Jati menghubungi Patudi ’89, Ketua Expa, siapa tahu aku bisa nebeng karena mobil Patudi masih kosong hanya berpenumpang Hani, anaknya yang duduk di kelas 1 Sekolah Dasar.

    Bada shalat Jumat Patudi bersama Hani menjemputku di patung Kemang Pratama naik motor menuju Pondok Mitra Lestari mengambil mobil.
    “Kenapa Patudi nggak jemput elo sekalian naik mobil aja?”, Pipi ’86 bertanya keheranan di lokasi Family Camp.
    “Emang elo belum tahu kalau Patudi trauma nyetir mobil gara-gara mobilnya nabrak tiang listrik”.

    Selepas menjemput paksa Embong ’85, kami menuju Cidahu dengan bermacet-ria.

    Bagiku pergi bersama Riri seolah mendapat jatah preman, sedangkan pergi dengan Patudi mendapat jatah supir.

  • Linda Brella huahhahaha..blon sempet nutupin kegap duluan nih..:)



  • Merri Aisir Brel lo ngalangin wajah siapa tuh?


  • Linda Brella huahahah ..ga tau sapa..maap yee...:)



  • Santy Rahayu Omen khan menejernye tim futsal sam volly smandel......pade blm tau ye.....br diangkat sm KONI kemaren
  • Senin, 27 Desember 2010

    Barang Bekas

    Memang modelnya Ari pada harinya dia bilang ada acara padahal jauh hari yakin banget kalau dia bisa datang ke rumah Poppy buat meramaikan acara santunan anak yatim. Sementara Budi nggak bisa dihubungi, jadilah aku berangkat sendiri.

    Aku sempat berbicara cukup lama dengan Wiwid yang merupakan satu-satu lelaki disitu karena Kora dan Firman tengah menjemput anak yatim sementara Heri yang datang dengan Fortuner baru berwarna hitam belum hadir.

    Akhirnya Poppy keluar rumah untuk menyambut. Senang melihat keadaan Poppy sekarang berbeda jauh saat kami berkunjung di bulan puasa. Dulu badannya kurus, lemas dan mukanya memakai masker seolah putri Yasmin dalam cerita 1001 malam yang menggunakan cadar.

    “Badan gue naik 6-7 kilo, Men. Gue masih disuntik kemo seminggu sekali tapi porsinya nggak seberat dulu”. Nah, ada satu lagi berita menggembirakan , Poppy sekarang sudah berjilbab, Alhamdulillah!.

    Ratu muncul makanan juga ikut-ikatan muncul berupa lemper, lumpia dan puding pelangi dilengkapi stawberry. Dia mengundang resepsi pernikahan anaknya tanggal 5 Maret 2011 di Lewiliang jam 12 siang, “Nanti gue masukin fesbuk deh!” ujarnya, “Oh iya, jangan lupa elo bilangin ke temen-temen yang lain dong!”. Buat kawan-kawan, anggap aja cerita ini sebagai undangan. Datang ya!.

    Suatu kehormatan mas Agus ketua IKAL turut hadir dan bahkan memberikan sambutan. Beliau mengundang nonton bareng final piala AFF di rumahnya di Pondok Kelapa, Kali Malang, hari Rabu ini. Soal makanan nggak usah khawatir, tinggal datang aja!. Masih semangat nggak ya beliau setelah malamnya Garuda dipukul 3-0 oleh Malaysia.

    Ely yang berdiri di samping Rita, si anak Berlan, mengutarakan rencara berkunjung ke rumah pak Pajri, guru olah raga, dan pak Udin, guru sejarah, dalam waktu dekat. Jaya, ketua angkatan, sudah tahu belum ya?.

    Pengurus IKAL yang lain, Sonny angkatan 80, yang kebetulan lewat naik motor turut mampir, ternyata tetangga Poppy. Kata Sonny alumni mau mengadakan “Barbeque” yang punya arti “barang bekas berkualitas”, semacam penjualan barang layak pakai untuk mengisi kas alumni di suatu lapangan di bilangan Tebet.

    Aku katakan kepada Sonny bahwa angkatan 77 akan menghadirkan *** sebagai salah satu barang bekas. Ratupun sudah pasti langsung nyap-nyap, “Enak aja lo gue dibilang barang bekas!”.
    “Sori deh kalau elo marah dibilang barang bekas padahal kan elo .... bekas barang”

    Minggu, 19 Desember 2010

    Awas Copet

    Entah angin apa yang membisikiku untuk menelpon Himawan, tanpa bilang “Hallo” atau “Assalamualaikum” serta-merta di speaker hapeku terdengar, “Men, elo mau ngajakin ke pengajian? Gue ikutan!”. Yakin sekali kalau aku akan mengajaknya kembali ke jalan yang benar, atau itu akal-akalan Himawan untuk mengalihkan pembicaraan, karena takut aku menagih hutangnya. Pis men!.

    Di hari H, kami memang pergi dengan satu mobil, aku yang nebeng, setelah aku memarkir kendaraanku di Mega Mall Bekasi. Lebih enak karena ada teman berbincang, daripada janjian bertemu di sekolah. Kalau dia ke sekolah, kalau enggak?.

    Mobil Himawan masuk ke halaman sekolah setelah pintu pagar aku buka dan bumper belakang mobilnya beradu kekuatan dengan cagak besi. Kami datang agak terlambat, shalat ashar berjamaah dahulu, aku yang jadi makmum, selanjutnya bergabung dalam acara pengajian Smandel 87.

    Ceramah yang diberi judul Iman, Ilmu dan Amal adalah bagian pertama dari trilogi ceramah Aqidah yang akan dibawakan selama 3 kali oleh ustad Musnar di hari Sabtu minggu ketiga. Materi dan cara membawakannya bagus, bahkan dilengkapi dengan kasus untuk dibahas bersama. Kasusnya begini, seorang Raja mempekerjakan tukang kebun yang bertugas untuk merawat kebun, suatu sore anak Raja yang masih balita bermain sendiri di kebun karena sang baby sitter tertidur, tiba-tiba sang balita masuk sumur. Walaupun mengetahui si tukang kebun tidak bertindak dengan alasan tugasnya hanya merawat kebun.

    Aku sempat berdiskusi dengan Himawan, kesimpulan kami yang salah Raja kenapa membuat sumur di kebun. Lagian hari gini Raja masih pakai sumur!.

    Acara foto-fotoan juga ada, kali ini aku pasrah aja! Masa sih mau berlari-larian di mesjid.

    Mendekati setengah enam ceramah dan diskusi selesai. Kami utarakan keinginan kami, aku yang jadi juru bicara,  untuk bisa mengikuti acara pengajian selanjutnya.Zubed, ketua pengajian Smandel 87, dengan senang hati mengijinkan bahkan menganjurkan untuk mengajak alumni yang lain.

    Bada magrib kami berajak pulang setelah bermain petak-umpat dengan kunci mobil Himawan, penemunya Mei. Tadinya pemilik kunci mau dikerjain, berhubung yang kehilangan kunci senior batal deh niat ngerjainnya. Alhamdulillah!

    Aku diturunkan Himawan tidak dengan paksa di lampu merah tikungan masuk ke arah tol Cikampek. Sebelum turun aku bilang ke Himawan, “Wan, tungguin sebentar gue mau nyiapin uang, takut kecopetan”, sambil mengeluarkan selembar rupiah berwarna biru dari dompet untuk kutempatkan di saku kanan celana jeans.

    Diluar dugaan jawaban Himawan penuh kebapakan, mungkin gara-gara baru ikut pengajian, “Men, elo tenang aja, sekarang Jakarta aman, gue yakin elo nggak bakalan kecopetan, soalnya .... justru elo yang dikira copetnya!”.


    Hendra Gunawan Marsilan,
    Men...gw suka menantikan reportase ente yg kaya' gini nih...tulisan ente ringan , lucu , ada ledekan2nye tapi bermakna banget....cakep bro....

    Himawan,
    Chormen makasih ceritanya, cerita sederhana tapi kalau kau yang tulis semua terasa hidup, cuma satu yang gw tanya, habis nurunin loeh pas mau bayar tol dompet gw nggak ada di saku celana, apa loe yang mindahin ? Isi boleh di ambil Men, tapi mohon KTP, SIM, dan kartu-kartu lain, mohon segera dikembalikan, pliiis.

    Salam canda,
    Himawan

    Hendra Gunawan Marsilan,
    wuahahaha...lucu komen elhu Wan.....bener tuh dompet raib...??? Chormen abis ngaji aje berlanjut hobbynye...apalagi abis nge dugem ye Wan...???? salam canda juga ...piss Men

    Lizarina Lubis,
    I agree....
    Brought smile at the end....
    Thx bang Omen....outstanding....

    ~lhalida~

    Himawan,
    Seilmu seperguruan jangan buka rahasia. Guru kita sama.

    Senin, 29 November 2010

    Sea Food Ayu

    Sore ini anakku, Karra, minta dijemput di Monas selepas riset untuk acara perkuliahannya sementara malamnya ada undangan ulang tahun Rory dan syukuran kesembuhan istrinya yang sempat pingsan dalam acara Green Festival. Pulang ke rumah dulu nggak sempatlah, makanya aku ber-sms-ria dengan Rory.
    “Rory, aku harus jemput anak di Monas kalau pulang dulu ke Bekasi nggak sempat ke Kelapa Gading, keberatan nggak kalau aku bawa anakku?”
    “Boleh saudaraku”
    “Terima kasih, makannya nggak banyak cuma 7 piring kok, kalau agak telat nggak apa-apa ya?”
    “Nggak apa2 iklas kok”
    “Ya udah kalau begitu aku sekalian bawa keluarga besar dan tetanggaku”
    Smsku tidak dibalas, belakangan aku tahu kalau Rory kehabisan pulsa, andai ia menjawab, “Iklas kok”, bakalan hadir satu kelurahan.



    Bang Chormen dengan putrinya yang cantik hadir disaat acara syukuran ultahku (Rory)
    Ketika aku sampai sudah ada beberapa kawan yang sudah selesai makan, ada juga yang belum muncul, sementara untuk yang baru datang pemesananan makanan dikuasakan kepada Iwan, jadi aku belum melihat menu makanan yang tersedia. Sambil menunggu, Karra berbincang dengan tante Liza yang suka bikin onar.
    “Kar, papa kamu tuh ngetop banget loh! Kalau ada acara foto-fotoan pasti ada di setiap foto. Udah gitu ya Kar, setiap ada temen perempuan pasti dipeluk-pelukin! Nanti kalau sampai rumah jangan lupa cerita ke mama ya”.
    Untung aku sudah berpesan kepada Karra kalau tante Liza bicara pasti yang diutarakan kebalikannya.

    Pesanan bermunculan berupa tumis kangkung, bawal saus Padang, ikan kue bakar bumbu kecap, cumi goreng tepung, udang goreng tepung masing-masing 2 atau 3 porsi. Bagi yang tidak suka bumbu yang terlalu medok makanan di sini cocok banget. Kangkung ditumis dengan tauco ala kadarnya sehingga rasa manis kangkung muda terasa dominan. Ikan kue dibakar tanpa bumbu namun bisa membuat Syamsi ketagihan, “Rory, kalau pesen ikan bakar yang kayak itu lagi boleh nggak?”. Pesanan tambahan itu dilalap oleh Syamsi sendiri.

    Murah meriah makan sea food Ayu Kelapa Gading... yang hadir 25 orang makannya nambah 3 kali pakai Ikan, Kepiting, Cumi, Udang, Kerang, dlsb.. sampai puas dengan total tidak lebih dari US$ 100 atau 325 Real... boleh dicoba... (Rory)
    Es kelapa muda pesananku diambil Hendra, akibatnya aku hanya bisa menunggu dan menunggu karena setiap pelayan hanya mengangguk ketika aku memesan tetapi si kelapa muda nggak datang-datang. Akhirnya datang 4 es kelapa muda dalam batok 1 diantaranya tanpa sirup, milikku. Aku lebih suka rasa natural kelapa muda, satu batok yang masih terlalu muda dilihat dari dagingnya yang transparan tandas tak bersisa akibatnya sampai di rumah aku langsung ke kamar mandi dan terbagun dari tidur karena kebelet pipis.




    • Rosana Harahap likes this.

      • Nursyamsi Kurnia Utama Selamat ulang tahun Pak Haji Rory semoga pajang umur dan sehat selalu,dan terimakasi Luciana Darmansyah wewengkang


      • Hendra Gunawan Marsilan Pak Haji yg ultah, bokap2 dan emak2 IA Smandel 81 yg ngabisin makanannye....guaanteng dan cuaanntik2 bo'...sehat, ceria wah pokoknye kagak ade matinye deh sohib2 gw.....Luc keren abis...utk kesekian kali pertemuan2 kalian bikin ngiri yg enggak bisa hadir...

      • Luciana Darmansyah Wewengkang Hahaha iya nih ndra td mlm. Mangkanya km kudu hrs dtg ya tgl 8November hari senin di nasi uduk gondangdia..


      • Mohamad Rory Faizal Gumay Luar biasa.... sahabat2ku kemarin makannya lahap bener... yang biasanya cuma makan 1/2 piring kemarin karena saking eunaaaaknya ada yang sampai makan 3 piring loh.... 98% senang sekali hati saya.. cuma kalau Bang Hendra GM datang baru lengkap 100% ....
    Secara umum aku menilai makanan di Sea Food Ayu boleh dibilang lemak nian! dengan memakai ungkapan wong kito galo, suku bangsa Rory. Artinya .... enak banget!

    Di akhir cerita kami haturkan turut prihatin atas musibah di Wasior, Mentawai dan Merapi. Ada berita baik selama kami berwisata kuliner yaitu wedus gembel di Merapi tidak muncul karena ...... wedus-wedus dan gembel-gembelnya pada ngumpul di sini. Pis men! Ingat kan kalau sudah bilang pis men nggak ada yang boleh marah.