Sabtu, 14 Maret 2015

Sarapan Bersama Rusa

Judul Asli : SMANDEL goes to CIFOR Situgede
PAMELA PAMDESIGN menulis,


14 March · 
 
 ·

perasaan waktu SMA aja gak gini2 amat yah hehehehe
 — at CIFOR.
Like ·  · Share

Gak pernah hilang ya rasanya kangen dan keinginan kumpul2 sesama alumni SMAN 8 Jakarta. 

Kali ini ide dari Mba Nina 83 untuk jalan pagi di hutan CIFOR, dan karena rombongan kali ini belum ikutan makan nasi liwet saat baksos minggu lalu, jadilah acara siang tadi dilanjut ngaliweut.

14 March · 
 
 ·

Akhirnyaa..berhasil foto khusus 83 heheheh..
 — atCIFOR.
Like ·  · Stop Notifications · Share

Terkumpul 16 orang dari angkatan 74 (ya.. saya baru lahir tahun segitu kekekkek) sampai angkatan 92..dan tetap yang paling heboh rame bin hore yaitu angkatan 83.


With Chormen Omen at CIFOR.
Like ·  · Stop Notifications · Share

Terima kasih untuk semua mas2 dan mba2 yang dengan semangat tinggi subuh2 langsung berangkat ke kampung Situgede nun jauh disini...dan thanks a lot untuk dessert yang super mantab ala Bang Abdul Aziz...duren neeiiikk !!!

Alhamdulillah Bang..sampai detik ini kepala gak migren..durennya pasti ikhlas banget tuh dilahap rame2 



Sampai jumpa di lain kesempatan..!! muaahh muaahhh...

Doa untuk Kabur

Mukaku becek gara-gara keringat, pertanda forest walk yang kami lakukan di hutan CIFOR (Center for International Forestry Research) lumayan jauh, ketika kami tiba di jalan beraspal. Belok kiri masuk deh kawasan perkantoran CIFOR.

Beberapa kawan satu persatu memasuki kantor satpam di depan markas CIFOR. Aku pikir ada masalah nih!, eh nggak tahunya pada antri buat pipis, karena  perjalanan masih berlanjut, kali ini suasananya seperti di Kebun Raya.



Dani, suami Pamela, melanjutkan penjelasannya tentang CIFOR. Katanya kawasan CIFOR mirip kawasan diplomatik, artinya hukum di Indonesia tidak berlaku di sini, so polisi nggak boleh seenaknya masuk ke sini.


Biasa deh kalau aneh dikit, kawan-kawan mulai norak, ada yang bilang, “Yuk, kita foto-fotoan. Foto-fotoan di sini kayak di luar negeri”. Bayangkan Riry belum datang aja sudah begini , apalagi ditambah Riry.
“Emang elo aja yang bisa norak”, kata suara hatiku, akupun bertutur kepada kawan-kawan, “Yuk, kita fotoan segembira mungkin nanti kita kasih judul Bahagia Tanpa Riry”. Sahabat tertawa, pertanda setuju kita bahagia tanpa Riry.

Perjalan kami lanjutkan melalui jalan setapak yang dilapisi con block sepanjang pinggiran markas CIFOR, sudah pasti dibatasi dengan pagar pemisah, sebagai penegasan hukum di Indonesia nggak berlaku di sini.



Melewati lapangan bola, kolam renang, fitness center, sampai akhirnya menclok di kafetaria yang interiornya hasil rancangan Pamela. Di Kafetaria kami menunggu kiriman sarapan oleh teteh asisten rumah tangga Pamela yang membawa pastel, pisang rebus, bakwan, batagor lengkap dengan sambal kacang dan cabe rawit. Itung-itung meeting point dengan kawan yang menyusul. Aku absen deh, biar kalian tahu siapa aja yang sering telat, mereka adalah Fifi, Riry, mas Endang, mas ...., dan Aziz.


Tiba-tiba hapeku berdering, muncul nama Titik Budiarti, si teteh Garut.
“Men, kamu di mana?”.
“Aku di CIFOR”.
“Aku juga di CIFOR, kamu di mananya?”.
Aku serahkan hapeku kepada Pamela yang bisa mengarahkan Tatik dan Andy.
“Siapa Men?”, pertanyaan hadirin kepadaku.
“Anak 81 dua puluh orang”.
“20 orang ???, banyak banget ..!!!, ah … palingan 2 orang”, komentar Nina.
Kok tahu ya cuma 2 orang, jangan-jangan Nina cenayang.


Beneran aku kaget Tatik ikutan acara ini, dia bela-belain kabur dari penataran. Kok bisa?.
“Kan didoain di grup WA Apadela sama Omen terus diaminin temen-temen, jadi aku bisa kabur dari penataran ke sini”, Tatik menjelaskan. 

Beginilah harapan kami lewat WA.
Kania, “Kabuuuur …”.
Iin, “Tatik, klo mmg niat kabur pasti bisa … hehehe ….”.
Jimbo, “Kabur aja Tat …”.
Andy, “Bila di niat kan 50% pekerjaan dah selesai… 50% bisa digenapkan jadi 100%.... jadi kesimpuannya ….. kabboooooorrrrr ….”.
Jimbo “Syetann… Semua nih qiqiqi ….”.
the O, Mari kita berdoa bersama agar Tatik bisa kabur”.
“Aamiin ….”.

SMANDELERS Go to CIFOR Situgede

Perjananku pagi ini lumayan jauh ke CIFOR, Bogor, naik mobil sendirian. Berhubung acaranya keren banget, aku bela-belain deh. Bagaimana nggak keren dalam waktu setengah hari dapat forest walk, ke danau, olah-raga, ngasih makan rusa, belanja sayur dan buah, serta ngeliwet, mantap nggak tuh!. Sayangnya nggak ada satu orangpun di angkatanku yang tertarik, mungkin gara-gara nggak tahan dengan kalimat forest walk, maklum sudah kepala lima.

Rumah Pamela tujuan pertamaku, tempat berkumpul sebelum acara pertama forest walk, di suatu persimpangan ada 2 pilihan, antara melewati hutan dengan sedikit off-road atau jalan aspal yang sedikit berliku. Sebelumnya aku sudah melewati hutan, makanya aku kali ini mencoba jalan aspal. Ternyata ada 2 tingkungan yang jalannya hanya bisa dilewati oleh mobil secara bergantian, entar pulangnya lewat hutan aja deh, lebih enak, walaupun rada becek.

Aku datang agak terlambat sudah ada beberapa kawan yang datang, 2 orang belum aku kenal, mereka adalah Yani dan Ziah. Ziah sempat berkata, “Entar foto gue ada di postingan”, dalam hati aku menjawab, “Jangankan foto, nama juga terpampang, tapi tergantung bayarannya juga sih”.


Nyomot pastel dulu sebelum berangkat, maklum dari rumah segaja nggak sarapan, eh tangan nggak mau diem, dia nyamber minuman teh dalam kemasan botol buat bekal perjalanan.

Perjalanan dimulai dengan menyusuri Situgede, danau buatan yang awalnya berupa rawa, rute yang kami harus lalui sebelum masuk hutan. Sebetulnya menyebut hutan kurang tepat, semestinya disebut taman, katena hutan ini merupakan hutan buatan yang isinya berbagai tanaman keras hampir dari seluruh penjuru dunia, sama dengan Taman Cibodas kira-kira. Luasnya 60 hektar.


Saat ini usia hutan ini 70 tahun, karena dibuat pada tahun 1954 oleh seorang warga negara Belanda, Dani menjelaskan sambil kami berjalan dan manggut-manggut, entah terkagum-kagum atau malas mikir, soalnya setelah aku hitung saat menuliskan cerita ini, 2015 dikurang 1954 hasilnya 61 tahun. Waduh ngitungnya darimana kok 70 tahun. Jangan-jangan Dani nyatut, tapi berpikir postif aja, mungkin karena masalah pembulatan, Dani membulatkan angkanya ke atas banget!!!. Harap dibaca “banget dengan tiga tanda pentung”.


Di suatu persimpangan, masih di dalam hutan, beberapa orang dari kami mengambil jalan ke kiri, sementara jalan yang harus kami tempuh lurus.
“Eh, pada ke mana tuh!”, salah satu dari kami mengingatkan.
“Udah, diemin aja ….!, entar kalau udah jauh baru kita panggil”, aku memberi saran.
“Jangan gitu dong Men, masalahnya ada Lintang, anak gue!”, Sita mulai resah.
“Jail loh Men, dosa lo …!”, komentar kawan-kawan dan kamipun tertawa.

Kawan-kawan tertawa, aku ikut senang, soalnya secara matematis kalau berdosa maka dosanya dibagi rata dengan yang ketawa. 

Kamis, 19 Februari 2015

Petik Rambutan Bungkus di Kain

Sejak Desember tahun lalu, tepat saat Bakti Sosial Smandel 81, khitanan, di Jonggol, aku memperkirakan paling lama 3 bulan Apadelaers pasti teriak di WA grup untuk ngumpul lagi.

Dugaanku nggak meleset, belum sampai bulan berganti dari Pebruari menjadi Maret, artinya baru 2 bulan, permintaan untuk berkumpul berkumadang, apalagi ada tawaran terbatas dari Iriana untuk menyikat habis rambutan di rumahnya yang lagi ranum-ranumnya. Penawaran terbatas artinya telat seminggu aja itu rambutan bakal disosor orang lain.


Bagaikan kucing ditawari ikan asin, langsung aja kita samber ikan asinnya, eh, rambutannya.

Begitu banyaknya tanggal merah membuat kawan-kawan bingung menetapkan hari, diskusi mulu, aku diam aja, siapa tahu mendapat emas.



Diamnya sudah berhari-hari si emas tak kunjung datang, bagaikan Power Ranger aku berkata, “Saatnya berubah”. Ngumpulin Apadelaers kan gampang, kasih aja maklumat, “Temu Jidad Apadela: Petik Rambutan Bungkus di Kain, Kamis, 19 Pebruari, pukul 10, potluck, aku bawa puding mangga buatan sendiri”.

Pancingan berupa pudding mangga, mendapat sambaran, “Aku bawa sambel Cirebon, aku bawa martabak, aku bawa cumi asin pete, aku bawa nasi timbel, aku bawa pepes peda, aku bawa buntil, aku bawa rengginang, aku bawa ….. mas Yudhi”, kumplit deh!.  Coba tebak siapa yang membawa mas Yudhi?, tinggal menunggu undangannya nih!, yang pasti bukan aku, masa sih jeruk makan kedondong.


Di hari H aku nggak bisa membawa pudding mangga berhubung semalam nggak sempat membeli bahannya, sebagai gantinya aku membawa pastel dan kawannya. “Nggak aci ah, pokoknya pudding mangganya harus dibawa di acara berikutnya”, Tatik yang sejak subuh berangkat dari Garut berkomentar.

Untuk mengundang kawan-kawan ke acara ini nggak sulit, sekarang sudah ada WA, tinggal potret, kirim gambarnya, datang deh Iin, Andy, Iriani, Jimbo, dkk, tapi ada juga sih yang keqi, mungkin karena melihat Apadelaers kompak banget.



Bung Syamsi kali ini nggak datang, sebagai Dewa Angin dia sibuk mengurus cuaca, sebab di Jakarta selain musim rambutan juga musim banjir.


Rambutan di rumah Iriana sudah tinggal comot. Urusan panjat memanjat pohon kita serahkan kepada Andri adik Tatik dan Adi supirnya Uun, kami sih cuma menyerahkan kantong asoy tanda berminat membawa pulang entuh rambutan, lagian juga sudah nggak model petik rambutan bungkus di kain buatan bangsa, soalnya ribet dan capek nyucinya kalau kotor.

Sabtu, 07 Februari 2015

Nasi Kebuli Kambing ala Smandelers

Untuk 15 Porsi





Bahannya
1 kg beras bashmati
1 kg daging kambing
10 kapulaga
10 bawang Bombay
6 bawang putih
10 bawang merah
5 tomat
300 gr margarin
3 sachet susu bubuk
3 lbr daun kari
4 magi blok
2 ibu jari  kayu manis
4 bungkus bumbu kebuli



Membuatnya
Beras dicuci lalu direndam kurang lebih 30 menit
Daging direbus dengan kayumanis dan 10 kapulaga serta 1 magi blok
Bawang Bombay diiris halus 
Bawang putih cincang halus
Bawang merah cincang halus
Tomat potong dadu
Cairkan margarin untuk menumis bawang putih lalu bawang merah sampai harum
Masukan bawang Bombay tumis sampai layu
Masukan tomat
Masukan 3 magi blok
Masukan 3 bungkus bumbu kebuli.
Masukan semua bumbu yang telah ditumis tadi ke dalam rebusan daging dan daun kari
Beras yang sudah direndam dikukus lalu diaron dengan air kuah daging plus 3 sachet susu bubuk yang telah dicairkan dan 1 bungkus bumbu kebuli. Diamkan 30 mnt lalu kukus lagi hingga masak
Daging yang sudah empuk digoreng.




Menyajikannya
Sajikan nasi kebuli dengan daging kambing goreng, bawang goreng, acar dan emping kalau kamu nggak takut asam urat



Selamat Mencoba

Peringatan Keras:
Daging kambing jangan dicuci, masukan daging ke dalam rebusan setelah air rebusan mendidih agar daging tidak berbau prengus.

Resep oleh : Kak Njah Disalin oleh : Sekarsari
Foto oleh : Pamela

Rasa di luar tanggung jawab Penerbit

Diajak Robin Hood Masak Kebuli



Hari ini kegiatanku agak lain, mau belajar masak nasi kebuli kambing dan nggak tanggung-tanggung memasak bersama rombongan Robin Hood.


Sudah pasti seru dong!, kan kamu tahu sendiri Robin Hood markasnya di Inggris sementara nasi kebuli tuh maskas besarnya di Timur Tengah.

Baiklah aku mulai ceritanya.

Pagi ini belum lagi jam 7 aku sudah beranjak dari rumah dengan membawa satu set pisau Ikea dan apron Elle, niat banget!, janjian jam 7 dengan Susi 83, yang datang telat, di Ace Hardware Bekasi Barat, lantas menuju peristirahatan tol Cibubur tempat janjian dengan Kathy 83 yang mau konvoi.

Mengapa kok sebegitu pagi, karena acara memasaknya dimulai jam 8, dan sampai di Bogor ternyata belum ada yang datang saudara-saudara. Oke deh, sebagai hiburan acara pertama melihat seluruh pelosok rumah Pamela yang keren banget. Untung anjingnya sudah diungsikan!.
  
Mereka yang terlambat alasannya beragam, semuanya pinter ngeles. Maklum mereka semua sudah menjadi anggota geng Robin Hood yang pinter ngeles.

Jam 10 pengajar yang diimport langsung dari Timur Tengah, kak Njah, datang. Buru-buru kak Njah memakai apron yang disediakan nyonya rumah, setelah sekian lama dan ada yang memberi tahu buru-buru dilepasnya apron itu karena nggak sesuai dengan jilbab yang dikenakannya, sebab apron tersebut bergambar badan lelaki telanjang lengkap dengan perniknya. Maaf fotonya tidak boleh ditampilkan!.


Mendekati pukul sebelas barulah pelajaran dimulai, Kak Njah menjelaskan bahan-bahannya satu persatu, kebanyakan rempah-rempah Timur Tengah sampai akhirnya si juru masak menyalakan kompor, artinya baru 3 jam lagi si nasi kebuli bisa dinikmati.

Namun 15 menit kemudian kami bersama-sama menikmati nasi kebuli kambing, bukan karena sulap, juga bukan karena sihir, bukan pula karena Pamela punya kompor ajaib yang bisa memasak nasi kebuli dalam waktu 15 menit, melainkan karena panitia sudah menyiapkan 30 porsi nasi kebuli siap saji. Asyiiiiikkkk …..!!!.


Paling menarik dalam acara ini saat memotong bawang Bombay, maklum kerena terlalu meresapi perannya sebagai pemotong bawang sampai-sampai beberapa kawan menangis Bombay. Ngaku deh Pamela dan Shinta!.

Aku juga ikut memotong si bawang tapi nggak sampai menangis Bombay. Riri memberi arahan, “Men, bawangnya dibelah dua, abis gitu diiris panjang-panjang …., eh jangan ketipisan ..!!, tebelan dikit!!, Nah, segitu ….”. Setelah selesai si bawang Bombay iris aku kumpulkan.


Kak Njah memperagakan mengiris si bawang, pertama bawang dipotong menjadi 2, diiris memanjang, diputar 90 derajat, diiris lagi menjadi potongan kecil-kecil.

Beda banget dengan arahan Riri. Namun si Riri pinter ngeles “Men, gue tadi ngomongnya baru sampai koma ……, belum sampai titik ….”. Persis banget kayak si bos, Robin Hood