Sabtu, 26 Januari 2019

Smandel Tower Meledak


Apa mau dikata yang namanya takdir, Smandel Tower Meledak, padahal baru sehari atau tepatnya empat jam dari pukul 10.00 sampai dengan 14.00, 162 unit terjual.


Saat acara pilih unit bagi pemegang NUP, Nomor Urut Pembeli, aku mungkin menjadi orang yang paling dag-dig-dug, lebih tepatnya dag-dig-dug-jrang-jreng-jrung, soalnya dari 250 NUP yang laku aku berhasil mendapatkan 44 NUP, apalagi aku belum pernah yang namanya menjual properti.


Banyak pemilik NUP yang konfirmasi tidak bisa hadir, tapi bukan berarti aku nggak pontang panting, mulai dari membantu mendaftarkan, memberi saran untuk pilihan unit, pembayaran sampai mewakili pemilik NUP yang sudah menitipkan booking fee yang membuatku manteng di bilik pilih untuk memilih 3 unit apartemen.

Pembelinya beragam loh, kalau aku sempat aku tuliskan profil tetangga kamu di Apartemen Mazhoji, Smandel Tower, ada yang pejabat setingkat dirjen yang dalam waktu dekat dilantik, psikolog kondang yang sering keluar masuk layar televisi, sampai pegawai yang baru masuk kerja 2 hari.


Waktu aku mendaftarkan NUP baru yang membuatku menjadi penyalur 45 NUP, semangat 45 ku semakin kentara, Ade sang GM Koperasi Smandel Business Network bilang, “Mas Chormen dari tadi nggak ada istirahatnya”, bisa dibilang sudah kayak supir angkot ngejar setoran.

Rekan agen, bukan secret agent ya, mereka menanyakan rahasia untuk mendapatkan banyak NUP. Kalau aku bilang sering makan empek-empek, pasti mereka akan rajin makan empek-empek, itu tuh makanan asli Medan. Eh, empek-empek itu makanan asli Medan apa Palembang ya?, aku lupa.

Aku jadi ingat cerita dalam Perang Dunia Kedua, pesawat Jerman banyak berguguran diterjang pesawat Amerika, sumber itelijen memperoleh informasi  bahwa pilot Amerika rajin makan wortel menjadikan daya lihat matanya meningkat.


Angkatan Udara Jerman nggak mau kalah, diempaninyalah para pilot dengan berjibun wortel. Kalau akhirnya pilot tempur Jerman masih kalah bertanding, bukan disebabkan mereka kalah banyak makan wortel tapi karena pesawat tempur Amerika sudah memakai radar.

Nah, kalau  kamu mau memiliki unit hunian terbaik, hubungi agen Smandel Tower yang sudah memakai radar, Chormen, 0817192880. WA aja!.

Selasa, 10 Juli 2018

28 Tahun Berjalan


Entah siapa yang ditemani dan siapa yang menemani pagi ini aku berjalan bersama Inka menyesuri jalan di sekitar Cipete Selatan saat hari masih gelap dan belum ada suara ayam berkokok karena nggak ada yang memelihara ayam di rute jalan pagi kami.


Di dekat gerobak mie ayam Ndeso aku teringat untuk mengucapkan, “Eh, selamat ya!”. Inka tertawa dan menjawab, “Baru inget lagi ya?, semalaman udah diinget-inget ya?”.

Pantesan aja dia minta memotret bayangan kami berdua diterangi lampu jalanan dan kaki kami berdua, tahu begitu aku pakai sepatu baru.

Kami pertama kali bertemu pandang ketika kuliah di tingkat pertama di Universitas yang sama yang dikenal dengan the yellow jackets, aku anak Teknik sementara Inka di Ekonomi bareng Daisy kawan SMAku yang mendapat gelar Mak Comblang Terbaik Di Dunia versi kami berdua.

Kalau dipikir-pikir lokasinya nggak ngetop banget masa di depan Kantor Pos kecil di seberang FTUI. “Eh, Men apa kabar lo? Bla bla bla, na ni nu”, Daisy asyik nyerocos sampai lupa nggak memperkenalkan 3 perempuan kawan yang bersamanya, padahal ada 1 loh yang aku lihat manis banget dan sempat beradu mata, “Boleh juga nih”, dalam hatiku.
“Ya udah Men sampe ketemu”, ya ….. kok nggak ada acara ngenalin temen-temennya.


Aku berjalan menuju Rektorat, mulai deh suara hati berkata, “Balik”, sementara suara jantung bilang, “Jalan terus”, bergantian masing-masing sudah 30 kali, begitu suara hati keluar yang 31, “Balik”, eh kakiku menyahut, “Siap Gan”.

Aku balik ke Kantor Pos menyusuri koridor FMIPA, tembus ke jalan lingkar depan FT, tengok ke kanan di depan Kantor Pos si Daisy dkk sudah nggak ada, tengok ke kiri mereka udah jauh banget. Aku waktu itu pemalu amat nggak berani mengejar mereka.

Aku melangkah lunglai kembali menyusuri koridor FMIPA, melewati Rektorat untuk menaiki bis 40 Pelita Mas Jaya menuju Berlan. Dalam hati aku berkata, “Kalau memang jodoh perempuan itu akan jadi istriku, kalau bukan jodoh …… ya nggak apa-apa, Namanya juga bukan jodoh”.

5 tahun kemudian, di depan Daisy di teras rumah perempuan yang berjabatan tangan denganku  yang mengucapkan namanya sambil menebar senyum manisnya, “Inka”.
Aku buru-buru melihat ke arah kakinya yang menapak lantai dan ternyata Inka perempuan sejati bukan perempuan jadi-jadian.


“Ternyata doa elo hebat banget dong!”.
“Doa yang mana …?”
“Kalau memang jodoh Inka jadi istri elo”.
“Eh, itu mah bukan doa tapi menghibur diri lebih tepatnya ngebatin ….. kenapa waktu itu nggak langsung kenalan”.


Kesaksian kawanku yang belum mengenal Inka
[4/7 23.22] Nina Andriani: Men....yakin.nggak.ikut ke alor?
[4/7 23.23] Nina Andriani: Aku masih belum.beliin nih tiket kupang jkt 2 sept
[4/7 23.24] Chormen: Nambah berapa?
[4/7 23.26] Nina Andriani: Tiket pp 800
Penginapan 250
Trip belum.tahu ... bsk kutanya yah. Lumayan sih nambahnya
[4/7 23.31] Chormen: Boleh kata istriku
[4/7 23.33] Nina Andriani: Istrimu baik.banget Men
[4/7 23.33] Chormen: Aku juga bingung

Sabtu, 14 Oktober 2017

Berjalan Ala Nepal

Kawan-kawan menjauhiku, mereka semalam kembali ke pulau Jawa, Nina, Aries, Rachma, Cien, Yati, Raihan, Adip, dan Daset, sementara pagi ini aku masih di Kawasan Tamel, Katmandu. Hari ini aku menjadi solo traveler gara-gara telat beli tiket, jadi dapat yang mahal, mending terbang keesokan hari yang tiketnya lebih murah.



Jam 9 pagi aku telpon Ram, yang mengatur perjalanan kami di Katmandu dan Pokhara, soalnya sedan berkaliber 2000 cc yang aku pesan belum datang, dijawabnya “Kan kamu cuma pingin ke Dubar Square dan Garden of Dreams, jalan kaki aja paling cuma 15 menit dari satu ke tempat yang lain”.

Saran itu aku lakoni, eh bener baru 15 menit 7 detik terlambat 7 detik dari prediksi Ram, aku sudah berada di pintu masuk Katmandu Dubar Square. Ada diskriminasi di sini, turis asing bayarnya lebih mahal banyak, sialnya posisku sekarang jadi turis asing.



Oleh salah satu pemandu aku ditawari bertemu Kumari. Kamu tahu apa itu Kumari? Kumari dalam bahasa Sangsekerta berarti Putri. Kumari adalah dewi hidup, living goddess bahasa kerennya. Kalau nggak melihat wujudnya kamu bisa lukiskan nggak di benakmu, perempuan cilik  yang punya ciri pahanya seperti paha rusa, dadanya lebar seperti dada singa dan bulu matanya seperti bulu mata sapi, Sudah bisa membayangkan belum?, jangan-jangan yang kamu bayangkan perempuan jadi-jadian.

Garden of Dreams, disebut juga Garden of Six Seasons, bergaya neo klasik, dibangun tahun 1920 tempatnya enak banget buat nongkrong menunggu waktu yang pas untuk ke bandara, tiduran di rumput di bawah naungan banyang pohon besar, ditemani cerpelai yang lucu, tapi kamu jangan ikuti lucunya tingkah si bajing ya, nanti kamu jadi bajingan. Aku nggak berani terlalu dalam untuk memejamkan mata, takut tidur beneran.



Aku kembali ke kawasan Tamel, untuk berbelanja oleh-oleh, kaos bersablon Nepal, tas, dan baju ala Nepal yang sekali cuci langsung berubah ukurannya dari XL menjadi M, mungkin aku yang kurang teliti bahwa baju yang kubeli ada tulisan Nepalnya yang aku nggak bisa baca, sekali pakai.

Awalnya aku berencana menghabiskan hari terakhir untuk berwisata kuliner, nggak jadi terlaksana karena cita rasanya makanan Nepal kurang cocok di lidah, makan siang terakhirku di restoran halal India.

Taksi tanpa argometer yang kupesan pagi, sore ini sudah siap membawaku ke bandara, mobil mungil buatan India, tarif yang ditentukan pak supir setara dengan 50 ribu rupiah.



Aku setuju aja ketika mas supir bilang bahwa lewat jalan raya bakalan telat, maka jadilah kendaraan mungil ini menjadi mobil off road, melintasi pasar, jalan tikus, terbanting-banting, mungkin mas supir mengangapku sekarung beras. Selesai off road di depanku Tribhuvan International Airport. Solo travelling berakhir di sini.

Pesan istriku aku perhatikan banget, jangan jalan kayak turis entar dirampok, makanya aku berjalan aku usahakan semirip mungkin dengan cara berjalan orang Nepal.

Awalnya mereka menyapaku dengan, “Apa kabar?”, tahu kalau aku turis Melayu. Aku ubah berjalanku biar disapa, “Namaste”.

Usahaku membuahkan hasil, kini aku tidak lagi disapa dengan, “Apa kabar?”, melainkan disapa dengan, “Ni hao”.

Waduh tambah parah.

Kamis, 12 Oktober 2017

Flying with Style @Nepal



Kalau melihat kontur tanah di Nepal yang naiknya tinggi banget turunnya dalam banget sayang kalau tidak menikmatinya dari udara. Banyak yang ditawarkan, naik pesawat beneran atau helikoper di antara puncak tertinggi di dunia, terjun payung, ultralight, atau paragliding.

Naik pesawat atau helikopter nggak dibolehin istriku, terjun payung nggak deh gara-gara melihat youtube ada yang meninggal mendadak saat terjun tandem.


Di Pokhara kami harus memilih paragliding atau ultralight, nggak bisa keduanya karena harus lanjut ke acara trekking setelah itu. Dua orang nggak ikut, Nina dan Rachma karena takut ketinggian. Hanya aku yang mengambil paragliding dengan harga USD 85, Daset, Adip, Raihan, Cien, Aries dan Yati ultralight seharga USD 195/30 menit, USD 295/60 menit. Aku memilih paragliding konon kata orang, “Lelaki sejati terbang nggak pakai mesin”.

Kami memesan dari Jakarta, “Nina, tolong bilangin Ram aku pesen paragliding, pilotnya perempuan cantik ya”. Ram, contact person kami di Nepal untuk urusan pelesiran bersama Smandelers.
“Kalau pilotnya perempuan cantik, aku juga mau”, Daset berubah pikiran.
“Men, kata Ram, kamu dapet pilot perempuan cantik, kalau Daset lagi diusahakan”, Nina memberikan laporan, “Men, bilang apa dong aku kan udah dapetin pilot cantik buat kamu?”, Nina melanjutkan.
Aku berikan jawaban kekinian, “Rejeki anak sholeh”.


Subuh tadi kami dijemput menuju Sarankot untuk menyaksikan matahari mulai menerangi Annapurna range, pengunungan Himalaya, cakep!. Paragliding lepas landas dari puncak tertinggi Sarankot, jadi aku harus kembali ke mari bersama Daset.


Jalannya terjal, satu kali kami harus turun dari mobil karena nggak kuat menanjak. Dari puncak Sarankot terlihat danau Pea Wa, danau terbesar di Pokhara, tempat kami mendarat.

Menunggu angin baik yang membawa kami lepas landas, aku bilang apa ya?, “Up up and away” seperti Superman apa “To infinity and beyond”, kayak Buzz Lightyear. Aku pilih, “Bismillah” dengan ditambah doa dalam hati, “Mudah-mudahan nggak ngompol”, soalnya aku kebelet pipis nih.

Pilotku berpesan agar aku tetap berlari sampai lepas landas, kalau nggak nanti keseret parasut bisa cedera parah karena badanku berat. Tugas itu aku lakukan dengan baik dan benar, akhirnya melayang di udara, asyiknya.

Keren banget, aku terpesona sampai kusadari ada kamera foto dan video, penyakit narsis kambuh lagi, sip banget.


Paragliding bukan pilihan utamaku, sebetulnya aku ingin banget parahawking, ber-paragliding sambil memberi makan elang. Tangan kiri kita dibalut sarung tangan kulit, elang jenis Volture dari Mesir terlatih akan hinggap di tangan untuk diberi makan saat kita di udara, keren banget kan!.

Sedih amat loh waktu Nina bilang, “Men, parahawking sejak 6 bulan lalu sudah dilarang karena dianggap melanggar hak asasi binatang oleh pemerintah Nepal”.

Nah, buat kamu penggemar bonsai bersiap deh karena sebentar lagi bonsai dilarang karena melanggar hak asasi tanaman.