Sabtu, 16 November 2013

Takkan Terganti



Takkan Terganti, salah satu judul lagu Kahitna yang menjadi tema Reuni Akbar Smandel 55 tahun. Kahitna sendiri menjadi pengisi acara paling akhir, sebelumnya pengisi acaranya bagus-bagus, seperti tarian oleh alumni lintas angkatan, vocal group Wiskul, Band Smandel 90, dan acara lain yang nggak bisa aku sebutkan satu-persatu, soalnya aku lupa!.


Aku sibuk jalan-jalan, keluar-masuk arena, mencari kawan angkatan lain yang aku kenal, kira-kira aku kenal sampai yang samar-samar aku kenal.

Seneng deh bisa bertemu mereka, mulai dari mbak Tuty dengan gengnya angkatan pertama Smandel, mbah Jul ‘1970 yang sebentar-sebentar memamerkan hasil jepretannya, sampai angkatan 1990 ke bawah yang masih bening-bening.



Nah, waktu asyik ngobrol dengan Aria dan Tatik, terdengar bunyi, jedung … jedung …, yang bersumber dari bunyi sepatu yang bobotnya nggak kalah beratnya dengan bobot sang pemilik. Kalau orang kebanyakan yang memakai pasti akan dibilang orang aneh, namun berhubung yang memakai Dody Katamsi, seorang rocker, sepatu yang kayak begitu sih pantes-pantes aja.

Aku salami Dody biar aku bisa tulis cerita, “Eh, aku salaman dengan Dody Katamsi loh!”. Setelah bersalaman sang Rocker berjalan lagi dengan sedikit tertatih dan, ya …. bunyi jedung … jedung lagi. Aku mencoba menganalisis, Dody jalannya keberatan sepatu apa keberatan badan ya? Keberatan dua-duanya kali ya?.


Suasana panggung yang asyik, kini semakin asyik dengan tampilnya Dody dan Hilda yang membawa band yang ber-genre rock yang membuat kita jadi juara di antara alumni SMA se Jakarta. Lagu yang ditampilkan nggak asing di telinga lintas usia diantaranya, Jump – van Halen, Stairway to Heaven – Deep Purple, dan Bohemian Rhapsody punya Queen, kita semua menyanyi bareng, asyik banget! Walaupun aku berdirinya persis di depan moncong speaker yang membuat suasana ngerock semakin terasa.

Eh, siapa nih yang ikutan jingkrak-jingkrik, pakai jilbab lagi! Rupanya Ami, Heppy, Ely dan Uni. Untuk sementara waktu mereka melupakan umur.


Acara pamungkas munculnya Kahitna, kumpulan cowok bening. Wadauw!, aku dapat saingan yang sepadan nih!.

Aku berdiri agak ke samping panggung sambil mengawasi kompor hadiah jangan sampai diembat orang, energi sudah terkuras untuk jingkrak-jingkrik. Dari posisi ini aku bisa lihat Ella, Dian, dan Sempu yang datang hanya untuk nonton Kahitna doang, dan Reri berdiri paling depan sambil bernyanyi dan melupakan untuk sementara persoalan goody bag.


Ian menghampiriku sambil mengeluarkan candanya tentang Kahitna yang rada porno dan bilang, “Nanti elo ceritain nih di blog!”.
Heh!, asal tahu ya, aku nggak suka bercanda yang rada porno, kalau porno beneran malah oke!.

Jaim Dijauhi Rezeki



Kamu percaya nggak dengan judul di atas, Jaim Dijauhi Rezeki, kalau kamu nggak percaya kamu harus membaca tulisanku ini niscaya kamu akan percaya. Nah, kalau kamu percaya, kamu juga harus baca sampai selesai, kasihan dong aku sudah capek-capek bikin.

Sehari sebelum acara Reuni Akbar 55 Tahun Smandel koordinator angkatanku, 1981, berpetuah agar kawan-kawan jangan jaim di arena Reuni Akbar. Harus dituruti dong, namanya juga omongan pak ketua.
 
1987
Rupanya bermanfaat juga loh, petuah tersebut. Nah, umumnya di setiap acara kan ada yang namanya hadiah pintu, door prize kata kerennya. Di acara ini juga ada, namun berhubung goodie bag belum siap terpaksa deh tidak dilakukan undian, sebagai penggantinya diberikan pertanyaan oleh Krisna & Krisna yang menjadi pembawa acara.

Pertanyaannya aneh-aneh, tapi nggak apa-apa yang penting dapat hadiah. Pertanyan pertama, “Siapa nama Kepala Sekolah SMAN 8 yang pertama”.
Nggak ada yang berani maju, maklum mereka kebanyakan belum lahir, seorang lelaki angkatan 70 ke depan, beliau menjawab, “Bapak Suyono”.
Sekarang giliran Krisna yang bingung, betul nggak namanya Suyono, “Panitia, konfirmasi dong, bener nggak Kepala Sekolah pertama namanya Suyono?”.
Karena nggak ada yang pada tahu, aku yang kebetulan di sana ditanya Krisna, aku jawab aja, “Iya, bener namanya Suyono”.
Lelaki tersebut mendapat sekotak hadiah, padahal bapak Suyono adalah Kepala Sekolah yang kedua, aku sempat berjumpa dengan beliau 5 tahun lalu bersama 8 Kepala Sekolah yang lain. Baca: Sembilan Kepala Sekolah Pendahulu.
Aku berharap perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan pula, aamiin yra.

1960an

Satu lagi pertanyaan Krisna, “Siapa yang tinggalnya paling jauh dapat hadiah rice cooker”. Aku lihat Deni si manusia gajah duduk sambil ngantuk-ngantuk gajah, aku seret, dia kebingungan.
“Den, KTP elu Lampung kan?, elu bawa KTPnya kan?, kalau elu bawa keluarin sekarang kasih tahu Krisna elu dapet hadiah”.
Ternyata ada yang lebih jauh, dari Sibolga, Pacet ’82 tetapi dia nggak maju mungkin karena jaim, padahal dulu Pacet si Apadela ’82 nggak ada malunya, sekarang dia jadi pemalu mungkin karena urat malunya baru tumbuh, dan sekarangpun masih dalam masa pertumbuhan.

1988

 Satu lagi kawanku, Beton namanya, dia mendapatkan radio tape gara-gara bisa menunjukan SIM B1, sementara yang lain malu-malu, maklum yang punya SIM B kebanyakan kan supir truk.

Berikutnya, “Siapa yang namanya hanya satu kata? Dapat hadiah kompor”.
Nggak ada yang maju, sampai Krisna & Krisna mulai menghitung. Aku nggak maju memberikan kesempatan kepada peserta reuni akbar yang lain, kalau nggak ada yang mau, ya sudah hadiahnya buat aku aja!.
“Krisna!, nama gue cuma satu kata”.
“Musti dibuktikan dengan KTP, oh iya bener! Namanya Chormen”.
Akupun mendapat hadiah sebuah kompor gas 2 tungku.
 
Ini foto Charmen Chormen Omen sebelum dapet hadiah nama tersingkat dari Kang Krisna Purwana... (BAP)
Kini aku mengerti mengapa orangtuaku memberikan nama hanya singkat ………, supaya dapat kompor.

Rayuan Raja Gombal



Sewaktu aku memasuki ruang Reuni Akbar 55 tahun Smandel, di Gedung Smesco, disambut oleh Rita ’80 yang mengurusi perbazaran, “Omen, stand angkatan 81 di sana”, sambil tangannya menunjukan arah yang harus aku lalui untuk mencapai stand angkatan 81. Walaupun aku sendiri tahu persis lokasi stand yang bernomor 46 dari denah yang disampaikan panitia melalui facebook, persis di samping pintu masuk.
 
 
Jam 10an beberapa kawan tengah menata stand, aku mengunjungi stand yang lain, kali-kali aja bisa menemui makanan yang aku cari. Aku sudah menyiapkan satu kapling di perutku, buat empek-empek, maklum aku lagi ngidam makanan itu. Dan siapakah yang beruntung? Eng, ing, eng …., eh ternyata nggak ada satupun yang jualan empek-empek. Segera perutku melakukan rekalkulasi, kapling kosong diberikan kepada siapa ya?.

Sewaktu aku kembali ke lapak 46 melewati lapak angkatan 83 aku disuguhi arem-arem, wuih enak banget!. Terima kasih ya!. Jujur bicara perutku bilang, “Balik lagi! Minta lagi!”, namun mukaku yang menjadi tempat bermukim urat malu berkata, “Jangan! Malu ah!”.

Angkatan 1970

Melewati lapak 85, banyak angkatan yang baru aku sebutkan tadi nongrong di sana, aku dicegat Nusron ’85. Aku sudah ge-er aja, ditawarin makanan nih!. Ternyata hanya diajak ngobrol. Boro-boro ditawari makanan, Nusron sendiri jarang jajan. Aku bilang kepadanya, “Bilangin dong ke angkatan elo jangan nongkrong melulu! Suruh jajan dong!”.

Kebetulan aku lihat Heriwanan ’81 lagi jajan bakso, “Tuh, elo lihat angkatan gue jajan. Heri! Jajan yang banyak! Jangan malu-maluin angkatan 81”.

1983
 
Masih di arena bazar aku mencari Vini ’86 dan Rery ’92, dua wanita yang aku baru aku sebut perempuan beneran bukan perempuan jadi-jadian. Mereka yang mengurusi goodie bag. Tuh, dia orangnya, lagi asyik bersembunyi.
“Vini, Rery, aku mau ngambil pesenanku”.
“Aku jadi nggak enak nih sama mas Chormen, goodie bag-nya …….”, Rery yang menjawab mewakili Vini dan dirinya sendiri.
“Kehabisan ya!”.
“Bukan begitu mas! Kaosnya belum jadi, jadi goodie bag-nya belum siap”.
Ah, ikut sedih mendengarnya.

Buat angkatan 1981, bazar kali ini sangat menguntungkan, laris manis tanjung kimpul. Untungnya seabrek-abrek. Selain karena dagangannya enak, lokasinya yang cukup stategis turut berperan, di depan pintu masuk. Aku turut senang sebab urusan bazar, aku punya kontribusi, walaupun cuma mendaftarkan kepesertaan.
 
1990
Supaya dapat tempat yang stategis jurus rayuan Raja Gombal aku pakai, begini nih, “Berhubung kak Rita orangnya baik, menarik dan suka menolong, angkatan 81 diberi tempat yang strategis ya kak”.

Aku buka rahasia nih ya, jurus rayuan Raja Gombalku sudah menaklukan hati 1773 wanita, 4 kucing, 7 sapi, dan 3 dakocan. Herannya jurus saktiku ini nggak pernah mempan untuk beruk, sekali lagi cuma sama beruk aja nggak mempannya.