Minggu, 27 Mei 2012

Jurusan Baru


Aku dan beberapa kawan sudah masuk ke dalam bus ketika Udeng, Winny, dan Iin tiba di Soto Kadipiro langsung dari bandara. Kepalang tanggung mereka diberi kesempatan sarapan dulu. Sementara Butet menelpon suaminya sambil dikomentari Jimbo dan kawan-kawan, sampai-sampai suami Butet curiga jangan-jangan si handphone dipasangi speaker.

Bus cukup berbalik badan dan berjalan sedikit sampai deh di SLB Negeri 1 Bantul tempat kami melakukan bakti sosial. Kami dibagi 4 kelompok, aku kebagian yang lelakinya cuma sendiri, nggak apa-apa yang penting photographernya ada 2.

Setelah berkeliling kami berkumpul di aula SLB yang memiliki murid 312 anak untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut dari pihak SLB sekaligus penyerahkan bantuan secara simbolis.

Pak Ugi mewakili kami untuk memberikan sambutan, 36 kata pertama aku hafal di luar kepala, begini beliau bilang, “Saya sebagai guru sangat bangga dengan apa yang dilakukan murid-murid saya, alumni SMA Negeri Delapan angkatan Delapan Puluh Satu. Andai separuh saja penduduk Indonesia seperti mereka tidak ada lagi kemelaratan dan kesengsaraan di negeri ini”.

Coba deh kamu perhatikan ucapan pak Ugi sekali lagi, pak Ugi cuma bangga dengan angkatan 81, ya kan?.


Bantuan yang kami sampaikan nggak banyak ragamnya, sabun, pasta gigi, sikat gigi, bedak, sapu untuk anak dan alat kebersihan lainnya, sederhana aja, karena target pendidikan di SLB juga sederhana untuk ukuran manusia normal, mereka bisa mandiri melakukan pekerjaan sehari-hari tidak tergantung orang lain, maklum mereka kan tuna netra, tuna daksa, tuna tungu, dll.


Secara simbolis bantuan diserahkan oleh Wenny, sedangkan bantuan berupa buku Anak Sejuta Bintang diberikan oleh Fiera. Aku bilang waktu itu, “Dikasih penjelasan dong siapa pengarangnya?”.

Aku diminta Paketu menjelaskan si pengarang yang bernama Akmal N Basral yang juga penulis buku Presiden Prawiranegara, Naga Bonar Jadi 2, Ahmad Dahlan, dll. Hanya saja saat itu aku salah ucap bahwa sang penulis adalah alumni Smandel angkatan 87 seharusnya 86. Tapi Akmal nggak bakalan tersinggung, itu berarti wajahnya lebih muda dari usianya.

Kalau foto di atas bukan Fiera atau Wenny yang tengah menyerahkan sumbangan tetapi tampangku, itu yang namanya hak prerogative pemilik blog.

Mungkin kamu bertanya mengapa SLB Negeri 1 Bantul yang menjadi tujuan baksos?. Jawabannya sederhana, karena panitia sudah tidak tahan dengan kelakuan angkatan 81 yang nggak tahu malu apalagi urusan potret memotret. Kebetulan SLB Negeri 1 Bantul ingin membuka jurusan yang cocok dengan mereka.
“Jurusan apa ya panitia?”.
“Jurusan Tuna Malu”, katanya.


Hendra Gunawan Marsilan
Makin demen aje gw baca tulisan om Omen nih.....Lanjut bro....selipin dikit donk kisah om bewok jatuh duduk keluar dari kamar mandi , khan fotonye ada tuh , pasti deh dgn bahasa the O yg segar makin okey tuh foto berbicara.....hi...hi...hi....piss ah om Ndi....

Sabtu, 26 Mei 2012

Soto Kadipiro


Semua sudah memakai baju bernuansa merah termasuk Manca yang hanya ada garis merah di kerahnya. Kami menaiki bis semula menuju Kadipiro.

Enny kemayu berinisiatif menjelaskan tempat-tempat yang dilalui termasuk penjelasan mengenai Soto Kadipiro, maklum dia dulu kuliah di Yogyakarta. Soto dengan embel-embel Kadipiro banyak sekali, yang kami hampiri Soto Kadipiro yang pertama, jadi yang aslinya.

Supir bis susah sekali memarkirkan kendaraannya di Soto Kadipiro, mau nyempil seperti upil nggak bisa, soalnya bisnya gede banget. “Pak Ugi udah menunggu di sini”, penjelasan Paketu.
“Palingan bohong”, kataku dalam hati, sama seperti panitia akan mengelar karpet merah di stasiun.


Begitu masuk Soto Kadipiro, aku terkejut banget ternyata pak Ugi beserta istri sudah menunggu. Beliau naik pesawat, kalau naik kereta bareng kami bisa-bisa pak Ugi langsung di borgol petugas bersenjata karena dikira pimpinan rombongan yang nggak bisa diam.
“Seneng ada pak Ugi, gimana pak, sehat?” sambil aku menyalami pak guru olah-raga kita.
“Alhamdulillah, ini baru aja”, jawab beliau sambil menunjukan 2 buah plester berantiseptik yang menempel di lengan kirinya, seolah memberi-tahu bahwa beliau baru saja cuci darah.

“Pak, sudah pake ini?”, tanyaku sambil memperihatkan pin Baksos.
“Sudah, nih!”, jawab beliau seraya memperlihatkan pin Baksos Smandel 81 di dada kiri dengan bangga.


Soto Kadipiro kini berada di hadapanku, sesuai dengan penjelasan Enny, mangkuk penuh dengan kuah, nasinya banyak, kolnya banyak, daging ayamnya seemprit. Jangan khawatir potongan paha, dada dan ceker ayam tersedia di atas meja.
“Enakan mana sama soto Gondrong di komplek kita”, Roy meminta konfirmasi melalui telpon.
“Enakan soto Gondrong”, jawabku jujur.

Urusan hitung-menghitung repot banget, pelayannya menanyakan satu persatu apa yang kita makan, waktu aku bilang, “Perkedel, emping”.  Si pelayan menjawab, “Itu belum, aku tak nanyain tahu sama tempe dulu”. Ya ampun lama amat, dia nanyain tahu tempe kepada lebih dari 50 orang setelah itu nanya perkedel, abis gitu kerupuk, dan kawan-kawan. Aku nggak sabar, aku titipkan kepada Rike, Tatiek, Dewi dan Intan yang makan di dekatku, “Elo kan tahu apa yang gue makan, nanti tolong kasih tahu embaknya”. 
Motto alon alon asal kelakon sungguh membumi di Yogyakarta.

 
Katerkejutanku belum berakhir, Lizarina yang bermukim di Amrik menampakan diri diantar Jeff svak, Yanto bagong dan Nasril ayam, mereka berangkat naik mobil dari Jakarta. Sudah pasti aku seneng banget karena nggak menyangka, walaupun Lizarina pernah bilang lewat email, “Bang, jangan kaget ya kalau aku tiba-tiba muncul di Jogja”.


Waktu aku menulis kisah ini Lizarina sudah kembali ke Amrik. Alhamdulillah. Sebetulnya aku sempat khawatir Lizarina pergi dengan Jeff, Yanto dan Nasril, sampai rumah musti diperiksa lagi tuh barang-barang bawaan soalnya mereka punya prinsip, “Keselamatan Dijamin, Keamanan Tidak”.



Untuk semua teman2ku....
Aku mau pamit dulu yaa ( bang Omen I officially pamit niy :) happy )....
Makasii yang banyak sekali atas perhatian dan waktu yang diberikan untuk aku dari teman2 semuanya....yang sudah capek2 arrange lunches and dinners untuk aku....yang bawain segala jajanan dan oleh2....(thanks to Fanny I finally got that mie juhi:) happy )....yang telpon tiap hari tanya keberadaanku (makasii ya Ndy,Yana, :) happy....)....dan semuanya yang mohon maaf tidak aku sebutkan nama2nya I thank you all for your kindness and friendship....membuat vacationku penuh kenangan....thank u all so very much....

Mudah2an kita ketemu lagi yaa (bang Iwan mod and prof Enny tertunda yaa ketemunya:) happy)....Diduth, Liza Sunar....Bali next year ?....:) happy

Mohon dimaafkan kalau ada kata2 dan perbuatanku yang salah....
Kudoakan semua teman2ku sehat dan bahagia....till we meet again....

Makasii untuk om Jeff Suak....yang udah merencanakan vacationku sejak tiga tahun yang lalu:) happy....

Thank you all,
~lhalida~







Pak Chormen,

Terima kasih infonya. Sukses acaranya.

Salam,
AN

Mirror, Mirror


Sampai di Yogyakarta agak terlambat mungkin karena penumpang keretanya berisik jadi jalannya pelan. Percaya nggak di kereta ber-AC kami sempat keringatan. Gara-gara AC mati, atau dimatikan, siapa tahu si petugas kesal karena kami terlalu berisik sudah begitu jarang yang jajan soalnya makanan dan minuman lengkap kami bawa dari Jakarta.

Panitia Yogyakarta berbaju merah menyambut, mereka para pembual besar nggak menepati janji, tega-teganya mereka menipu kami!!!. Mana karpet merahnya … !!!.
Kami nggak langsung menuju Soto Kadipiro sesuai yang tertera dalam jadual acara tetapi menuju Wisma Bimo tempat panitia penyambutan menginap, memberikan kesempatan kepada kami untuk bersih-bersih. Pemilik wisma sudah bisa diterka seorang purnawirawan berbintang, beberapa foto ukuran besar terpampang di ruang makan bahkan ada juga yang bercokol di teras.

Aku menawarkan baju merah kepada Aria, diapun menjawab, “Gue udah bawa, gue sangka warnanya harus polos”.
Jadilah si baju merah ngeberat-beratin bawaanku.


Di meja saji tersedia nasi gudeg dengan setoples plastik besar kerupuk kampung, aku ambil separuh kerupuk, enak banget. Aku bolak-balik ke meja saji sampai lebih dari 5 kali, akhirnya aku putuskan mengambil 2 sendok nasi putih, sesendok gudeg, sesendok sambal kerecek, separuh telur, dan sesuir besar ayam, separuh kerupuk dan segelas teh hangat. Masa sih sampai Jogja nggak makan gudeg. Kalau nanti kekenyangan sarapan Soto Kadipiro, itu mah urusan ning buri.


Waktu aku bergudeg-ria, beberapa kawan masih rebutan kamar mandi, aku nggak perlu antri seperti itu, aku kan the O. Maksud lo!


Saat tiba aku langsung bertanya kepada penjaga wisma.
“Kamar mandinya di sini”, penjaga wisma memberi-tahu. Tanpa melepas ransel aku menuju kamar mandi, kloter pertama, nggak pakai antri. Guyuran pertama membasahi kepala, rasanya segar banget. Gantungan baju di pintu kamar mandi pakunya copot satu karena nggak kuat menahan beban ransel. Cerminnya sombong.
“Mirror … mirror on the wall, siapa orang yang paling ganteng?”.
Si cermin tidak menjawab.
“Cermin … cermin di dinding, siapa orang yang paling ganteng?”.
Tetap tidak menjawab, jangan-jangan cerminnya budeg gara-gara kebanyakan makan gudeg, aku ulangi sedikit lebih keras.
“Cermin … Cermin Di Dinding, Siapa Orang Yang Paling Ganteng?.
Tetap nggak menyahut.

Aku nggak putus asa, aku coba sekali lagi.
“Koco … koco nang dinding, sopo sing paling ayu?”, loh kok ayu sih aku menyebutnya, maklum bukan orang Jawa.
“Sampeyan …”, jawabnya. Ternyata cerminnya asli Jogja.

Didatangi Petugas Bersenjata


Minggu ini aku absen untuk posting cerita di milis dan facebook bukan karena aku kehabisan cerita, justru karena kebanyakan cerita di kepala sehingga bingung mana yang harus aku tulis duluan, di samping aku harus memilih bawaan untuk plesiran ke Yogyakarta.

Baju merah aku bawa 2 buah, satu untuk aku pinjamkan ke Aria yang nggak membawa si merah, celana pendek untuk tidur, celana dalam, batik, baju untuk pulang, dan handuk kecil. Sengaja aku tidak membawa jaket supaya bawaanku ringan, sebagai gantinya aku pakai baju lengan panjang yang aku beli 2 bulan lalu di Bandung, bahannya cukup panas, cocok untuk di kereta.


Karena ranselku rusak gara-gara dipakai sekolah oleh si bungsu, sekarang giliran aku yang meminjam ranselnya, aku diberikan ransel yang belum pernah dia pakai yang didapat dari acara PL Fair, berwarna kuning. Kalau pakai ransel itu aku sudah kayak Bad Boy. “Bad Boy is not a criminal”, kata Mario Teguh, tetapi orang yang agak berbeda dengan yang lainnya. Untungnya aku dapat pinjaman ransel hitam dari si sulung, kalau nggak aku udah jadi Bad Boy beneran.

Aku di-drop di Petronas dekat Bekasi Square selepas magrib oleh istriku yang cantik menarik dan menawan hati, untuk selanjutnya naik angkot menuju stasiun Bekasi ketika Aria telpon, “Men, elo udah dimana? Gue baru berangkat dari kantor naik taksi”.


Baru kali ini aku ke stasiun Bekasi, jadi aku perlu bertanya untuk masuk ke dalamnya melalui parkiran motor. Aku membeli tiket KRL AC tujuan Kota seharga Rp 6.500,- yang berangkat pukul 18:57, “Empat puluh menit sampai Gambir”, kata penjual tiket. Untunglah petugas peron menyarankan aku menaiki KRL yang transit di Manggarai, sehingga aku sampai di Gambir 20 menit lebih cepat. Jadi aku sampai di Gambir jam berapa? Ayo tebak! Katanya kamu jago matematika.
Tempat dudukku 8D, tapi kok Alumni SMA 81 sih?

Aku turun dari peron menuju tempat kami berkumpul, layaknya Prince Charming menemui rakyatnya, mereka tampak menyabutku dengan antusias, cie ile!. Terutama Wenny si ibu panitia seolah ada chemistry yang kuat, Wenny mungkin berpikir, “Akhirnya peserta yang daftar terakhir datang juga”, sementara chemistry di benakku bicara, “Akhirnya aku nggak bakal kelaparan karena ada Wenny yang selalu membawa arem-arem”. Dasar!

Iriana mendekatiku seraya berkata, “Men, kalau mau foto-foto gue udah bawain spanduk”, dia tahu persis siapa biang fotonya, spandukpun digelar. Ada tiga orang yang perlu didekati Arif, Aria dan Dea putri Heppy yang membawa kamera serius.

Kereta mulai berjalan, suasana kamseuk mulai terasa, mereka berkilah, “Bukan kamseuk, tapi kamseukpay”. Ributnya minta ampun. Perempuan duduk di bagian depan gerbong 3 sementara yang ganteng-ganteng di bagian belakang, untuk memberi rasa aman kaum perempuan?, nggak juga. Mereka keasyikan menyeruput kopi dan merokok di restorasi, sementara si Brewok, Kepala Keamanan, justru tertidur di kursi paling belakang, makanya lain kali honornya jangan dibayar di depan!.


Di sebuah stasiun, kereta berhenti untuk memberi kesempatan kereta lain berlawanan arah melintas, pedagang asongan berteriak di pintu karena tidak boleh masuk ke dalam gerbong.
“Wingko …. Wingko ….”, si pedagang wingko berpromosi.
“Nggak ada yang namanya Wingko !!!”, kami menyahut.
“Ori … Ori ….”, wingko rasa original maksud si pedagang.
“Rory nggak ikut …!!!”, dasar kamseuk, eh kamseukpay.

Sejak itu suasana gerbong 3 berisik banget sampai-sampai didatangi petugas bersenjata yang menegur emak-emak dengan sopan, “Maaf ibu-ibu ada penumpang lain yang terganggu”. Biangnya ributnya Elly, Dyah, dan Ami, dan kawan-kawan sengaja aku sebut biar lain kali kalau ada keributan mereka langsung diborgol.


Oh iya, waktu kereta berangkat dari Gambir kami tak lupa berdoa agar selamat dalam perjalanan yang dipimpin ustazah Ami. Ketika aku membagikan arem-arem, telor asir, dodol, kripik, kue, si ustazah bilang, “Men, sekarang elo pimpin baca doa sebelum makan dong!”.
“Doa sebelum makan ..???. Itu bukan tugas gue … !!! Tugas gue baca doa sebelum foto …”.

Baksos Yogyakarta Berawal


Aku pikir setelah mengunggah lebih dari 400 foto Baksos dan reuni Wisata Yogyakarta 2012 di facebook tugasku sudah selesai untuk memuaskan hati kawan-kawan yang mengambil Paket E, yang nggak ikut ke Yogya, eh ketika aku bertemu beberapa kawan dalam pertemuan konsorsium Sapadela dan Apadela untuk makan siang bersama Lizarina sebelum dia kembali ke Amrik. Kak Ros bilang, “Gue nggak usah diceritain, gue baca aja blog elo!”. Nah, loh!


Terpaksa deh sekarang aku tulis nih cerita kunjungan ke Yogyakarta, tapi dibaca ya, awas loh kalau nggak!.

Kalau kamu bertanya, “Sapadela itu apa?”. Itu cuma kelompok kecil yang mau  numpang ngetop bareng Apadela. Namanya sengaja dimirip-miripin biar gampang numpang ngetopnya.

Nah, aku cerita tentang Baksos Yogya berawal. Kamu kan tahu kota Yogya nggak pernah dibicarakan sebelumnya, yang digembar-gemborin Semarang terus, selama 2 tahun.


Persiapan ke Semarang pastilah sudah matang, makanya KH Gunawan, selanjutnya kita sebut Hendra Gayus, atau Gayus saja datang dari Semarang untuk menjelaskan rencana Baksos Semarang di acara Halal Bi Halal 24 September 2011, di Cibubur.

Gayus hari itu kecewa 2 kali, pertama Semarang nggak menjadi tujuan Baksos, kedua dia nggak ikutan foto bareng, “Men, kapan nih foto barengnya?”.
“Udah tadi jam 1, kumpul nggak kumpul jam 1 foto bareng, makanya lain kali elo jangan telat!”.
“Nggak bisa diulang nih?”.
“Ya nggak bisa lah!”.

Sebelum acara Halal Bi Halal 2011 berakhir ibu Genggong bicara. Bicara apa teriak nggak tahu deh, soalnya sama kerasnya.
“Temen-temen, kita nanti ketemu lagi di acara berikutnya Baksos Semarang … !!!”.
“Jogja”, aku yang kebetulan di belakang ibu Genggong bicara pelan namun mantab.
“Baksosnya Jogja apa Semarang?”, ibu Genggong menengok ke belakang meminta konfirmasi.
“Jogja”, kataku sekali lagi dengan mantab pakai huruf be.
“Eh, temen-temen, Baksosnya ke Jogja …!!!”, ibu Genggong meralat pengumumannya.
“Horee … ke Jogja ….”, di luar dugaan sambutannya meriah banget.


Giliran ibu Genggong yang bingung, “Men, Baksosnya bukannya ke Semarang???, kok elo bilang ke Jogja sih !!!”.
“Sebetulnya Baksos ke Semarang tapi menurut gue sih enakan ke Jogja”.
“Ya, ampun … elo tuh main ganti aja!!!”.

Kawan-kawan sudah kadung senang tujuan Baksos adalah Yogyakarta, maka acara Baksos Semarang 2012 pupus sudah saat itu juga, bahkan Paketu meminta kepastian kepadaku, “Men, kita Baksos jadinya ke Jogja nih?”.
“Iya …”, jawabku pelan tapi mantab, tetap pakai huruf be.
“Mantaaappp …… !!!”, mantap dengan huruf pe.

Jadi itu awal cerita Baksos Yogyakarta.
Kalau ibukota bisa dipindahkan ke Jogja, masa sih Baksos aja nggak bisa!.


Hendra Gunawan Marsilan,
Kekecewaan gw terobati dgn suksesnya baksos jogja Men....tapi utk poto HBH Bang Doel yg elhu pajang lagi enih , nyang mane gw kagak ade  tetep bikin kecewa tuh, pegimane menghapus kekecewaannye ye...???? he...he...he...
Seperti yg kak Ros minta, elhu lanjut deh nulis cerita seru di jogja ye...berseri ye, jangan cuman atu atau dua tulisan aje....ditunggu ye...