Minggu, 11 Maret 2012

Bodyguard Tongtek


Setahun lebih aku mencari tahu nama kawan yang akan aku ceritakan ini, pasalnya aku nggak pernah akrab apalagi hanya sekali berkomunikasi, tadinya aku ingin sebut the Client aja, sama dengan judul novel John Grisham yang pernah aku baca dan filemnya aku tonton, maklum the Client orang pertama yang menjadi klienku sebagai bos Bodyguard Tongtek.


Belakangan aku tahu dari Hariyanto bahwa kawan yang aku maksud bernama Yuda, dan aku mendapat  penjelasan lebih rinci dari Aria dan Deden tentang klien pertama ini saat kami di Kampung Bakso berbelanja oleh-oleh Bandung, dalam rangka Temu Jidad Apadela: Kongkow Bandung.

Berdiri dakika: Bajaj, Tatiek, Nia, Rina,Syamsi, Ratih, Uun, Ady, Yeni
Duduk dakika: Aria, Deden, Budi, O, Willem
Ratih Puspawati likes this.
“Yuda? Gue inget orangnya putih-putih, rambutnya diginiin”, kata Aria sambil kedua telapak tangannya disapukan di atas kepalanya dari dahi ke arah belakang untuk menggambarkan gaya sisiran Yuda, “Gue inget!, yang kita ikut-ikutan berantem”, Aria menambahkan.

“Bukan begitu Yak, ceritanya begini”, memori di kepalaku berputar.
Kejadiannya di smester 3. Selepas shalat zuhur di mushalah sekolah yang kecil mungil aku didatangi Yuda, “Men, nanti elo pulangnya lewat Tongtek?”, aku jawab “Iya”.
“Elo nanti pulangnya rame-rame bareng temen-temen elo kan?”, aku jawab lagi, “Iya”.
“Kalo gitu gue pulangnya bareng elo ya!”, aku jawab “Boleh aja, tapi gue kan harus praktikum Biologi dulu!”.

Selesai praktikum, aku mencari Yuda bersama Aria, Deden, dan Dicky, semuanya Apadela, anak 2 IPA 8 dan merangkap lulusan 1  IPA 2, kawan perjalananku ke Tongtek, nggak ketemu. Aria yang rada nggak sabaran bilang, “Udah gue cari dimana-mana nggak ada, kita pulang aja yuk!”.

Kami pulang jalan kaki melewati gerbang utama, dulu melewati kantor dan tempat tinggal pak Oher, si penjaga sekolah. Sebelum menghilang di tikungan, Yuda berteriak, “Mennnnn, jangan tinggalin gueee!!!!!!!!!!!!”.

Sekarang kami berlima di separuh perjalanan ke Tongtek ketika lima orang lainnya berlari menuju kami sambil berteriak, “Jangan kabur lo!!!, sini lo kalau berani!!!!”. Kelima orang itu Andrew, ditemani Susilo, Saut, Richard dan Yulis, tukang pukulnya, semuanya alumni 1 IPA 2. Jadi kecuali Yuda seluruhnya lulusan 1 IPA 2, kelas yang paling berandalan di Smandel pada masa itu.

Pantesan Yuda ingin barengan, rupanya dia mau dikeroyok, sekarang posisi seimbang 5 lawan 5, aku dengan Susilo, Aria dengan Richard, Dicky berhadapan dengan Saut, dan Deden dengan Yulis, sedang di panggung utama Yuda melawan Andrew yang tengah berseteru.

Andrew membuka pertarungan dengan memukul dan menendang Yuda bertubi-tubi namun hanya satu tendangan masuk di atas pinggangnya. Yuda giliran menyerang dia mulai ancang-ancang, lantas melayangkan sebuah tendangan telak masuk ke dada lawan, Andrew terpental 3 meter meringis kesakitan.

Yulis bermain curang, membantu Andrew dengan menendang Yuda dari belakang, nggak mempan, kini giliran Yuda memainkan tangan untuk mengganggu konsentrasi Yulis, di saat yang tepat dia menendang, masuk telak di dada Yulis, lawan terpental masuk selokan kering sedalam setengah meter.

Kini giliran Saut menghampiri Yuda bukan untuk menyerang tetapi memisahkan pertarungan, “Udah!, udah! Jangan berantem!”, lalu dia dan kelompoknya membawa Andrew dan Yulis yang masih meringis kesakitan ke arah sekolah. Andrew masih menebar ancaman, “Awas lo ya, lain kali gue hajar lo semua!”, namun pertarungan babak selanjutnya nggak pernah terjadi, Alhamdulillah.

Dari 10 orang yang ada dalam cerita ini hanya 4 orang yang memperoleh ijazah dari SMA terbaik di Indonesia, Aria, Deden, Dicky, dan aku tentu saja. Yuda menghilang saat kami memasuki smester 4, mungkin karena tak tahan intimidasi kelompok Andrew. Sedangkan Andrew, Susilo, Richard, Saut, dan Yulis diminta Kepala Sekolah, Bapak Rosman Harahap, untuk pindah ke sekolah lain saat naik-naikan ke kelas 3. Yulis dan Richard dikabarkan telah tiada, Andrew, Susilo dan Saut belum pernah aku jumpai hingga kini.

Lomba mirip Ali Topan Anak Tongtek
Sayang kami tidak menerima upah walaupun hanya semangkuk bakso atas jasa kami sebagai Bodyguard Tongtek, mungkin Yuda berpikir karena kami belum menanda tangani kontrak kerja, atau dia sedang bokek.

Komentar spontan the Bodyguards 32 tahun lalu, Aria, “Kalau 1 lawan 3 kayaknya masih menang Yuda, tapi kalau nggak seimbang gue ikutan berantem, lah main keroyokan!”.
“Gue juga ikutan”, komentar Deden dan Dicky serempak.

Mereka sigap seperti Charlies Angels. Nah loh! Kalau mereka Charlies Angels, aku yang jadi Bosley dong!.

Vespaku

Widjanarko Budi '81

Ketika emak-emak Apadela belanja tahu susu Lembang ditemani Aria, kami yang babe-babe menunggu sambil ngupi atawa minum bajigur. Azwardi masih menemani sebelum kembali ke Jakarta menyetir mobil sendiri.

Azwardi pulang ke Jakarta karena ada undangan resepsi malam hari, dia tanpa membawa oleh-oleh Bandung soalnya waktu berangkat dia pamit hanya untuk beli rokok. Azwardi nggak berbohong karena memang dia ke Bandung untuk membeli rokok.

Ketika aku, Widjanarko Budi, diminta untuk menceritakan pengalaman di Apadela, 2 IPA 8, ini kesempatanku untuk menceritakan kehebatan vespa kesayanganku.
Widjanarko Budi, paling kiri

Si vespa selalu setia menemaniku pergi dan pulang sekolah, walaupun bukan vespa keluaran tahun terbaru namun vespaku selalu tokcer.

Kejadian 32 tahun lalu kira-kira begini. Pagi itu selesai mandi dan memakai seragam aku menghampiri si vespa, aku lap sedikit, nggak perlu bersih-bersih, percuma juga nggak ada yang naksir aku. Aku putar kunci kontak, dan mengengkolnya pelan, “brem …”, setelah itu aku gas-gas dikit, “brem … bremm … bremmm..”. Percaya kan vespaku tokcer banget.


Dengan vespa sebentar saja aku sudah sampai di sekolah, sekarang aku ikut-ikutan belajar, sambil menunggu bel pulang sekolah yang barusan berbunyi untuk selanjutnya menjumpai si vespa lagi.

Sekali lagi ya aku pemerkan kehebatan vespaku yang nggak pernah mogok, apalagi minggu lalu aku tune-up sekaligus mengganti busi baru, bensinnya juga penuh.

Nih, lihat nih, perhatikan baik-baik.
“Kok, nggak bunyi Bud !”.
Mungkin barusan aku ngengkolnya nggak kenceng, aku coba sekali lagi ya.
“Kok, tetep nggak nyala Bud !”
Mungkin gara-gara spionnya kotor, aku bersihin dulu ya, nah sekarang pasti hidup.
“Kok, tetep aja nggak bunyi Bud !”.

Aku engkol lagi, sekali, dua kali, sepuluh kali …. 15 menit kemudian ..., 1 jam kemudian ..., 5 jam kemudian …. 4 hari kemudian ..., 10 hari kemudian …. tetap aja nggak mau nyala, akupun mulai kesal, “Omennnnnnnnn …. lebay banget sih ngedit ceritanya !!!!”.
Temu Jidad Apadela  28/04/81, dakika: Yusuf Rizal, Budi masih pakai jambul, Brebet, Ibenk, Ari pacarnya Andrina, Dicky
Aku terpaksa berjalan di samping si vespa menuju bengkel terdekat di Bukitduri Tanjakan, malu juga diledekin kawan-kawan nenteng vespa mogok. Berat juga, apalagi jalannya menanjak. Untung tenagaku cukup kuat untuk menuntunnya ke bengkel.
Sang montir mulai bertanya, “Bensinnya ada nggak?”.
“Besin sih pul-teng”.

Si montir membuka kabel busi, diambilnya obeng kecil untuk mencungkil sesuatu. Akupun tertawa kecut, “Dasar Apadela isinya kunyuk semua!!!”, tetapi aku senang, Apadela telah memberikan pengalaman yang tak terlupakan. Nggak apa-apa motorku mogok yang penting hidup Apadela!.

Pantesan aja si vespa nggak bisa hidup, soalnya diantara kabel dan businya disempal plastik.

Hantu Gunung


Kalau aku memberi judul Hantu Gunung bukan berarti aku mengubah jati diriku menjadi paranormal, bukan!. Tapi aku mau bilang apa ya? Baca aja sendiri deh.

Aku bersama kawanku Apadela, 2 IPA 8 dan 1 IPA 8, memang dulunya suka naik gunung, bahkan ada yang bilang tempat berkumpulnya atlet naik gunung Smandel. Nah, kalau ini memang banyak yang bilang, nggak percaya? Nih aku kasih tahu, Hendra Gayus bilang, “ ...nah kalo atlet naek gunung kite semua ngakuain deh APADELA kagak ade duenye...”
Catatan Pipin, 1980

Sekarang aku mau cerita tentang salah satu pendakian kami yang jumlahnya nggak terhitung walau yang didaki gunungnya itu-itu juga, soalnya si gunung nggak mau pindah-pindah sih!.

Seperti biasa sebelum nanjak kami berkumpul dulu di Cibodas, di warung Nenek Komeng atau Bu Janda, tergantung perjanjiannya waktu di sekolah.

Kali ini giliran warung Bu Janda kami santroni buat makan malam dan ngopi terakhir, di situ banyak pendaki gunung lain. Hantu Gunung menjadi topik pembicaraan karena mungkin anak gunung udah pada bosan membicarakan gunung. Konon orang bilang gunung tempatnya jin buang anak, cerita tentang hantu jadi semakin seru aja.

Kejadiannya di salah satu warung yang kebetulan bukan langganan Apadelaers. Suatu malam datang anak gunung mampir makan di sana, setelah itu menghilang begitu aja. Pastinya bukan karena niat nembak alias nggak bayar orang itu menghilang. 


Esok hari si anak gunung tadi mampir di warung yang sama terlihat kelelahan karena baru pulang turun gunung. Ternyata si anak gunung semalam kemping di atas dan tidur nyenyak yang pakai ngorok segala. Jadi selama tertidur wajahnya dipinjem Hantu Gunung untuk mampir ke warung.

Aku mendengar cerita itu dengan khusyuk, jadi mendengar namanya aja sudah bergidik apalagi bertemu, hiiiiii sereeeeeem !. Sekarang giliran kami yang mendaki gunung. Sepanjang perjalanan yang diceritain dari hantu ke hantu termasuk si Hantu Gunung, semacam uji nyali aja jadinya.

Kebiasaan kami kalau kencing di gunung selalu bilang, “Permisi …”, soalnya takut ngencingin hantu, masalahnya kalau yang kencing kesurupan karena hantunya marah kan berabe, apalagi kalau si hantu balas ngencingin.

Singkatnya kami tiba di Kandang Batu untuk mencari tempat tidur masing-masing di batu-batu besar. Aku mendapat batu yang besar dan rata, mantap!.

Apadelaers di Kandang Batu

Aku mulai mencoba untuk tidur sementara yang lain sibuk foto-fotoan, ternyata dulu aku nggak terlalu narsis!. Sekarang mataku tinggal 5 watt …, tinggal 4 watt …., 3 …, 2 …, 1 … asyik sebentar lagi bisa tidur. Eh, tiba-tiba ada yang bilang, “Men, jangan tidur! Nanti muka elo dipinjem Hantu Gunung loh!”.

Sejak itu aku nggak bakalan bisa tidur karena sebentar-sebentar aku meraba wajahku, takut wajahku polos gara-gara mukaku dipinjem Hantu Gunung!.

Agus Andika Wisnu likes this.
Willem Teddy Usmany likes this.
'ning' Rahayuningsih thanks for sharing mas! ceita2nya selalu menarik...
Iriana Wihardja Baru kali ini ada cerita hantu takut sama hantu hahahahahaha 

Kenapa Namanya Bajaj?

Kami sampai di Sapulidi, semua makanan yang kami pesan, 13 macam, sudah disajikan. Azwardi datang, menyusul langsung dari Jakarta sendirian, dia agak menyesal nggak ikutan trekking.
Azwardi, Budi, Deden, Ady, Willem, O, Syamsi, Aria


Edi Bajaj, yang bernama asli Edi Wiharnoko, belum datang menjadi bahan pembicaraan. Kawan kami yang satu ini biasanya senang membuka dua kacing atas bajunya, sehingga bulu dadanya yang lebat dan hitam bisa terlihat dengan jelas. Kebiasaan itu sudah nggak bisa dilakukan sekarang soalnya bulu dadanya sudah putih beruban.
Rio, Jedo, Bajaj, Deden, Willem, Umul
Aku penasaran mengapa dinamakan Bajaj.
“Yang tahu Azwardi tuh!”, Budi menjelaskan.
“Tapi jangan bilang-bilang, nanti Bajaj marah sama gue”, jawab Azwardi.
“Hati-hati Az, ada Chormen nanti dimasukin blog”, kawan-kawan mengingatkan.
“Kalau dimasukin blog sih nggak apa-apa”, jawab Azwardi lagi.
Nia, Tatik, Uun, Ratih, Yeni, Andrina

Azwardi asyik bersemangat bercerita, aku asyik menjamah makanan, kali ini giliran ikan asin, sedap, sekalian soto Bandungnya ah.

Alkisah Azwardi yang selalu berkawan dengan Bajaj, saat di kelas sebelumnya, 1 IPA 8. Seperti biasa mereka suka nongrong di depan sekolah, eh, mereka melihat ada tukang bajaj lagi mangkal, wajahnya mirip Edi, maka dinobatkanlah Bajaj sebagai nama ngetop Edi.
Ternyata nih, Smandel sebagai sekolah terbaik di Indonesia ada juga muridnya yang kayak tukang bajaj.

Rugby


Tanpa terasa 2,8 km jalanan menanjak telah kami lalui, sekarang kami sudah di bibir hutan pinus bersama serombongan anak-anak, calon pengganti Lionel Messi, tengah pemanasan untuk bermain sepak bola dengan seorang pelatih muda calon pengganti Jose Mourinho, the special one.


“Jadi inget main rugby, seru banget!, elo masih inget nggak?”, semua lelaki Apadela bilang begitu. Siapa sih yang bakalan lupa peristiwa 32 tahun lalu, peristiwa yang selalu dikenang seumur hidup kami. Itu juga kalau kami belum pikun.

Satu jam pelajaran Olah Raga telah kami habis di aula, lantai 2 di atas laboratorium, berlatih senam bersama bapak Ugi, satu jam berikutnya kami diberi kebebasan memilih. Anak perempuan mengambil lapangan volley, anak laki main basket. Karena lelakinya lebih dari 20 orang nggak mungkin dong main basket bareng, dibuat 2 kelompok, sepuluh orang jagoan main duluan satu babak.

Sisanya kawan yang kurang pinter main basket, omongan mereka nyelekit banget, “Palingan nggak gantian, kita duduk terus nih sampe bel istirahat”. Mendengar selentingan seperti itu, aku nggak bisa pura-pura budek, “Ya udah semuanya masuk lapangan kita bikin 2 kelompok, kita main rugby”.

Dari Buku 50 Tahun Smandel
Aku suit melawan Aria, aku menang. Gampang banget mengalahkan Aria, dia kalau suit yang keluar selalu telunjuk duluan, “Ayo suit, yang menang ikut gue, yang kalah ikut Aria”. Deden suit melawan Iriana, hasilnya Iriana ikut aku.

“Mainnya gimana Men?”, pertanyaan yang lumrah, maklum belum pernah dimainkan di Smandel selama ini.
“Gawangnya di antara 2 ring basket, kita masukin aja ke sana”, zaman dulu tiang ring basket nggak cuma satu.
“Oke, mulai deh”, kawan-kawan mulai bersemangat.
“Eh, tunggu dulu!, ada 1 aturan lagi!, yang kebobolan duluan harus buka baju sampai bel istirahat”, aku paling demen bikin aturan yang aneh-aneh. Mereka pada tertawa.

Apadela vs Apadela, 2 IPA 8 vs 1 IPA 2

Bola basket dilambungkan ke udara, tanda dimulainya permainan, Iriana membobol gawang lawan. Dengan sportif tim lawan membuka kaos olah raga, kini mereka bertelanjang dada, kerempeng semua.

Permainan dimulai lagi, makin lama semakin seru, saling tarik-tarikan, dorong-dorongan, injak-injakan, piting-pitingan, dan teriak-teriakan. Semuanya tertawa, nggak ada yang (boleh) marah, ha ha ha …

Lima menit sebelum bel datang usulan, “Men, udahan dong, 5 menit lagi bel, nggak enak nih nanti dilihatin orang-orang”, karena sudah banyak kelas lain yang nonton di pinggir lapangan.
“Eit …., nggak bisa! Perjanjiannya sampe bel istirahat”.

Bel istirahatpun berbunyi, kawan yang bertelanjang dada memungut kaos olah raga mereka di pingir lapangan berlarian dan berteriak menuju kelas di lantai 2, gaduh sekali. Sementara pak Ugi geleng-geleng kepala di kejauhan.

Maria Hasjim and 2 others like this.

Seminggu kemudian sebelum olah raga pak Ugi memberi briefing, “Belum pernah saya melihat kelas sekompak kalian, kekompakan modalnya kemenangan dalam pertandingan, saya yakin kalian selalu menang dalam pertandingan, tapi olah raganya jangan yang kayak kemarin, apaan tuh … olah raga nggak karuan kayak gitu!”, disambut dengan derai-tawa kami.

Pernyataan pak Ugi memang terbukti, kami menjadi juara umum class meeting, hebat nggak tuh!.

Aku senyum-senyum sendiri kalau membayangkan peristiwa itu, namun ada sedikit penyesalan, mengapa waktu itu aku nggak bikin aturan buka bajunya sampai bel pulang, bisa-bisa mereka belajar sambil telanjang!.

Sabtu, 10 Maret 2012

Ketika Nyawa di Ujung Akar

Kisah 2 sahabat yang nyaris tewas di Gunung Gede

Menuju bibir hutan pinus kami berjalan perlahan, beberapa kawan wajahnya memutih bukan karena krim pemutih tetapi karena mukanya pucat kekurangan oksigen, cerita pendakian tempo dulu bersama Apadela mencuat.
Willem Teddy Usmany Maju terus Apadela...!!

Seperti biasa ketika turun gunung aku bersama Aria selalu bersama, kali ini kami menyapu Pipin dan Ita. Nggak seperti biasa Deden turut menemani. Turun gunung sambil makan coklat dan cemilan bawaan Pipin dan Ita enak banget sehingga mengundang Deden berkomentar, “Pantesan elo sama Aria kalau turun belakangan melulu! Makanannya enak-enak”

Selalu kami mencoba jalan yang belum pernah dilalui, “Simpangan pertama belok kanan, belokannya nggak jelas karena jalannya baru”, pesan teman yang jalan di depan.

Kini kami berada mungkin di simpangan yang dimaksud.
“Bukan jalannya!” kata salah seorang dari kami.
“Tadi Sulis bilang jalannya nggak jelas!” Aria berargumen, “Ya udah kita coba! Gue sama Deden turun. Men, elo jagain Pipin sama Ita. Belatinya elo pegang, kali-kali ada apa-apa”, seraya Aria memberikan belati stainless steel buatan Jerman kalau gagangnya diputar 180 derajat bisa berubah jadi pisau. Keren banget!.

Aria dan Deden menuruni “jalan baru” yang cukup terjal, Aria sedikit berpesan “Kalau 10 menit gue nggak balik lagi artinya ini jalan bener! Nanti elo nyusul!”

Tak berapa lama terdengar teriakan Aria dari bawah, “Men, jangan turun! Disini jurang bukan jalan! Jalan yang tadi gue turunin nggak ketemu, elo dimana?”

Pipin, Ita da aku bergantian memberikan petunjuk posisi kami, Aria dan Deden berusaha kembali berpedoman suara kami.

Tinggal sedikit lagi, suarapun Aria berkumandang, “Men, gue nggak bisa naik lagi karena nggak ada yang bisa dibuat pegangan, turun juga nggak bisa karena dibawah gue jurang. Tolongin gue! Gue udah kecapean”.

“Lari Men, kejar yang turun duluan”, Pipin meminta dengan suara panik.
“Percuma Pin, mereka lari. Kalaupun terkejar naiknya lagi lama”

Dalam kondisi seperti ini kuncinya "Jangan Panik!".  Aku melihat sekeliling. Jaket ada 3 kalau dibuat tali nggak cukup. Tenang! Pikir lagi!.

Ini dia! Kulihat seutas akar muncul ke permukaan tanah mungkin karena erosi, akar yang panjang melingkar-lingkar sebelum masuk kembali ke dalam tanah. Aku tarik kira-kira panjangnya 5 meter, aku cabut ujungnya, tidak kuat. Untung ada belati bagus buatan Jerman. Memotong ujungnya sulit sekali karena sang belati ternyata tumpul dan akarnya alot.
Berdiri dakika: Agus, Erico, Deden, Willem, Darius, Pipin, Umbul, ?
duduk dan nungging: Ade, Aria, Jidong, Sulis, Azwardi, ?, Pacet, O, Gaok, Dedi

“Sebentar, Chormen lagi motong akar!”, suara Pipin menenangkan Aria dan Deden.
“Buruan Men, pohon kecil yang gue pegang takut nggak tahan lagi”, Aria melaporkan.
“Men, gue tau elo suka becanda, tapi jangan gue udah mau mati elo juga masih becanda”, pinta Deden memelas.
“Belatinya tumpul!”, reportase Pipin akurat.
“Jangan becanda Men, buruan!”, kini giliran suara Aria.
“Men, gue udah nggak tahan lagi! Di bawa gue jurang”, Deden masih memelas.

Setelah 3 menit akhirnya akarpun putus, aku tarik untuk menguji kekuataannya sebelum kulemparkan ke jurang. Akar berpegang erat pada pangkalnya.

“Den, elo duluan”, terdengar suara dari bawah, tak lama kulihat wajah Deden yang kelelahan.
“Kalau telat dikit gue udah mati! Orang mau mati elo masih becanda”, Deden kesal.
Giliran Aria naik, wajahnya sama kelelahannya dengan Deden, “Men, kalau kejadian begini lagi elo jangan pake becanda”.

“Belatinya tumpul, elo coba aja”, kataku sambil menyerahkan kepada mereka untuk mencoba memotong akar, dalam hatiku bukannya terima kasih malah ngomel-ngomel.
“Emang tumpul kok”, Deden bilang ke Aria.
“Ini belati tongkrongannya keren nggak taunya tumpul”, komentar Aria setelah mencoba.

“Men, kalau nggak ada elo, gue sama Aria udah mati! Terima kasih ya!”, ucap Deden.
Kamipun melanjutkan perjalanan, pasti sudah tertinggal jauh dengan yang di depan.
Tak berapa lama Deden mengoreksi kalimat syiriknya, “Men, gue sama Aria masih hidup bukan gara-gara ditolong sama elo, tapi karena Allah yang menyelamatkan”.

Karena kuasa Sang Maha Pencipta, kami bisa tetap bersahabat hingga kini.

Diperjalanan kami sepakat untuk merahasiakan kejadian tadi, khawatir kisah ini diketahui pihak sekolah, sehingga larangan mendaki gunung semakin menjadi.

Setelah 32 tahun lebih, rahasia aku ungkapkan melalui blog, untuk itu maafkan aku ya Aria, Deden, Pipin dan Ita kalau rahasia kini terkuak.

Kalau dipikir jaket, baju dan celana kami bisa disambung menjadi seutas tali, tapi masa sih aku meminta Pipin dan Ita menanggalkan pakaian mereka. Sebetulnya sih nggak apa juga, kan dalam keadaan darurat!.




Willem Teddy Usmany Seru jg ya kejadianx.
Waktu itu gw ikut naik gak..?

Chormen Omen Rasanya ikut, tapi turun duluan bareng Erico, Agus, Sulis dan anak kelas 1 IPA 811 hours ago ·

Arti Sebuah Nama

Kisah nilai ujian Nursyamsi Kurnia '81 dinego wali kelas

Walaupun sudah lebih 30 tahun berpisah suasana gila Apadela, 2 IPA 8, masih tersisa di kepala, makanya Andrina mengadakan acara Temu Jidat Apadela: Kongkow Bandung. Waktu Andrina bertanya, “Pesertanya disuruh bayar berapa?”.
Aku jawab aja, “Gratis”.
“Nggak ah!, harus bayar!”.
“Ya udah, bayar gocap”.

Rio menepati janjinya datang ke Gedung YTKI sebelum kami berangkat, penampilannya masih necis seperti 30 tahun lalu, zaman di SMA baju seragamnya nggak pernah keluar dari celana, sebentar-bentar dirapikan. Dia memakai topi dan nggak pernah dilepas sampai kami berangkat, Ady si anak mama berkomentar, “Jangan-jangan udah botak”.

Bersama Nursyasi, Rio, Willem, Budi, Uun dan Tatik

Nursyamsi datang dengan membawa payung besar warna-warni dan ransel berisi jas hujan, “Kata panitia disuruh bawa payung dan jas ujan, ya aku bawalah!”, dan dia satu-satunya peserta yang membawa perlengkapan itu, panitianya aja nggak.

Bis baru masuk gigi 1, suasana gila dimulai, buka-buka rahasia, ketika Syamsi membaca daftar nama dan alamat 2 IPA 8, dia bilang, “Men, kalau Syamsi itu nama aku kelas 3, waktu kelas 1 dan 2 namaku Nursyamsi, di ijazah namaku juga Nursyamsi”.
“Kok, elo ganti-ganti nama.???”.


Nursyamsi mulai bercerita. Kalau dia sering bilang lupa, harap maklum aja ingatannya nggak jauh. Coba bayangkan kelas berapa aja dia lupa, wali kelasnya siapa dia lupa, pacarnya di SMA aja dia lupa, malahan dia pernah bertanya, “Men, dulu yang aku pacarin siapa ya?”. Kelewatan!. Jangan-jangan dia bukan anak SMA 8.


Saat di kelas 3, dia sekelas dengan Sugiarto Jaya, orang paling pinter di angkatan 81. Nah, dengan menggunakan nama Syamsi Kurnia, daftar hadir Nursyamsi persis di bawah nama Sugiarto. Otomatis waktu ujian dia berdekatan dengan Sugiarto.
“Logika aku dari dulu juga udah jalan!”, Nursyamsi melanjutkan.
Kamipun tertawa melihat gaya bicaranya yang lucu.

Keberuntungan berpihak kepadanya, saat ujian akhir posisi bangku Nursyamsi persis di belakang Sugiarto, mantap!.


    • Willem Teddy Usmany Ayo Apadela kita naik2 kepuncak gunung.
      Msh kuat sprti 30 th lalu. Hehehe....!!
Seminggu setelah ujian berakhir dia dipanggil wali kelas, karena hasil ujiannya sangat mencengangkan, nilainya fantastis.
“Syamsi melihat hasil ujian, kamu punya 2 pilihan”, kata wali kelas, “Ujian kamu diulang atau nilai ujian kamu dikurangi 2 semuanya”.

Dijatuhi 2 pilihan seperti itu Nursyamsi tetap bersikap tenang, jawaban kepada wali kelas enteng aja, “Jangan dong pak ujiannya diulang, kalau nilai di ijazah bapak atur-atur aja deh!, yang penting saya lulus”.

Komentar Himawan:
Men, waktu nilai ujian diumumkan Syamsi masih tetep tersenyum puas walau masing-masing pelajaran udah dikurangin 2, masalahnya masih rata-rata 8, masih dapet profit 30% ... He he he lumayan.