Jumat, 19 Desember 2008

Memorynya Memory Camp


Waktu nongkrong di bawah poko Teknik, poko kependekan dari pohon kamboja, di depan SM dan KAPA FTUI aku berjumpa dengan Jojo ’80, dia mengajakku mengikuti Memory Camp SMANDEL tahun 1984 rasanya? Besok hari terakhir, datang pagi-pagi jadi nggak perlu menginap.
Jojo bilang siapa tahu ketemu ceweq cakep dan dapet jodoh disana.

Singkatnya kami sudah di area Memory Camp mengendarai Honda CB 100 miliknya, Jojo cuma sebentar terus aku ditinggal.
Disini aku berkenalan dengan ceweq manis, namanya Susi ’85, orangnya asyik apalagi waktu hiking ke air terjun. Boljug nih kalau diteruskan.

Sekarang aku sudah di poko bertemu Jojo lagi, ada obrolan seperti ini.
“Jo, waktu Memory Camp gue ketemu ceweq cakep banget namanya Susi”
“Udah Men elo pacarin aja”
“Elo kok nggak tertarik sih Jo!”
“Gue cuma bilang, elo pacarin aja kalau elo udah suka”

Jojo kok cuek-cuek aja? Tak berapa lama Eko ’81 melewati poko, aku promosikan ada ceweq cakep di SMANDEL.
“Ko, ada ceweq cakep di Memory Camp namanya Susi”
“Jojo udah tau”
“Udah”
“Terus Jojo bilang apa Men?”
“Pacarin aja”
“Pacarin aja?????, udah direstuin lo artinya!”
“Maksud lo apa Ko?”
“Emang elo belum tahu beneran!!!!!!!!!! Omen ... Omen .... Susi itu adiknya Jojo”


Susi : Lucu juga, cerita lama yang gue ngak pernah tau

Sepatu Bapaknya Ipeng

Denny Sudrajat’81

Seperti layaknya anak SMA aku sering ke rumah teman belajar sambil bermain atau bermain sambil belajar tetapi yang paling sering bermain sambil bercanda.

Kali ini aku bertandang ke rumah Ipeng, baju seragam untuk esok sudah kusiapkan agar besok aku tidak perlu pulang ke rumah sebelum ke sekolah.

Pagi hari ketika ingin berangkat bersama Ipeng baru kusadari bahwa aku tidak membawa sepatu dari rumah, tidak mungkinlah memakai sandal jepit ke sekolah. Pinjam Ipeng? Dia hanya memiliki sepasang mata wayang. Pinjam sepatu bapaknya Ipeng? Ada sih hanya saja sepatu jenis mahal, akupun menggunakannya karena sang bapak sudah mengijinkan.

Karena tidak biasa menggunakan sepatu mahal gaya berjalanku jadi agak sedikit lain. Tentu banyak yang memperhatikan kejanggalanku termasuk bu Mariana, beliau memanggilku. Teman pasti paham dengan kata memanggil yang aku pergunakan, bu Mariana gitu loh!

Setelah kenyang menerima nyanyian bu Mariana akupun berjalan meninggalkan beliau dengan langkah gontai sambil memperhatikan sepatu golf bapaknya Ipeng yang lengkap dengan paku-pakunya yang kupakai ke sekolah hari ini.

Kamis, 18 Desember 2008

Bolos di Gunung

Kami pernah mendaki bersama anak manja yang dikibulin kalau naik gunung itu enak, nyatanya tidak sesuai dengan harapan. Sejak dari Kandang Badak sampai puncak Gede Pipin nggak berhenti membujuk si anak manja berjenis kelamin perempuan yang tiada henti menangis.
Namun ketika kaki menginjakan puncak tangis berubah menjadi keceriaan, terlebih di alun-alun Surya Kencana tempat Edelweis bermekaran.
Sang tangis muncul kembali selepas meninggalkan Surya Kencana sampai keluar hutan, kegelisahan bertambah karena kami turun seolah di negeri entah berantah. Suara orang mengaji memberi semangat, mesjid pasti, sampai ke sumber ternyata 2 pendaki yang juga kesasar, diperparah dengan anak baru yang mogok jalan.

Kami terpaksa membuka 2 bivak sementara 2 pendaki kesasar dan seorang rekan mencari bantuan. Setan alas apa yang merasuki sampai di perumahan penduduk 2 pendaki langsung pulang dan rekan kami asyik tidur di ranjang.
Di tepi hutan kami kehabisan makanan, minuman, batere, jadilah malam itu kami kelaparan, kehausan dan kelaparan.
Dinginnya malam semakin mencekam kala longlongan srigala hutan terdengar garang, cuacapun tak mau kompromi hujan deras melengkapi udara dingin yang membekukan kaki, ketika kutekuk lurus sendiri. Tidak tidur kami pasti, sementara si anak manja tidur nyenyak sendiri.
Saat aku kehausan Boni menyodorkan verplesnya, kurasakan kesegaran air hujan yang ditampungnya.
Bada subuh serombongan penduduk datang mencari bersama temanku yang semalaman tidur di rumah penduduk. Ternyata jarak ke perumahan penduduk dekat sekali. Jadilah hari Senin kami semua bolos sehari.
Umpatan kapoknya naik gunung tidak henti, anehnya semakin mengumpat kecintaan kami mendaki gunung semakin menjadi.

Rabu, 17 Desember 2008

Sudah Jatuh Ditegur Aja Nggak


Ahmad Himawan'81

Kebersihan kelas di sekolah kita memang kadang diperlombakan, mulai dari langit-langit, dinding, lantai, meja, kursi, lemari dan tentunya tidak ketinggalan jendela.

Membersihkan langit-langit dan dinding yang mengerjakan anak laki, masa sih jeruk makan jeruk, kulihat Rosana cewek yang banyak dibicarakan orang sedang membersihkan jendela, ikut ah …… akupun ambil bagian, kali-kali aja bisa ngobrol bareng walaupun yang diomongin tentang kaca jendela.

Rosana asyik membersihkan kaca jendela, akupun juga keasyikan, saking asyiknya sampai lupa untuk melaksanakan niat ngobrol dengan Rosana, bahkan saking bersemangatnya aku sampai lupa diri, mundur…mundur… mundur dan terjatuh.

Mungkin pembaca bilang itu kejadian biasa karena aku lupa menjelaskan bahwa kaca jendela yang kubersihkan ada di lantai 2, jadi aku jatuh dengan posisi jongkok dari lantai 2 bo!

Rosana sang pujaan hati pasti melihat, jangankan menolong …….teriak aja nggak.

Untungnya aku jatuh di taman yang banyak tanaman bunganya, untungnya lagi nggak kena pot semen. Leher agak sakit, malunya luar biasa karena banyak orang yang menjadi saksi. Iya, kusebut saksi karena mereka hanya melihat tetapi tidak satupun yang menolong.

Sambil menanggung malu aku kembali ke kelas, kekecawaanku bertambah karena sampai di kelas ……… Rosana, sang pujaan hati boro-boro memberikan perhatian ……… negor aja nggak.

Aku justru mendapat sapaan mesra dari Nina boy cewek gagah angkatan 80 yang belakangan lebih sering dipanggil ……….. Mamat.

Iwan di depan paling kiri, Rosana di belakangnya

Komentar saksi hidup:
gwe masih inget ketika becanda di lantai 2 beliau ini sempat terdorong - terjatuh dan lebih tepatnya melompat, makanya ga salah kalau Rosana bilang salam anak monyet hahahha (Fauzi Idroes’81)

Pengakuan Rosana:
Men, emang dulu banyak yang suka sama gue, tapi nggak ada satupun yang berani mengungkapkan. Suami gue orang batak, elo kan tau sendiri orang batak …… belum apa-apa udah nembak

Ali Topan Anak Pancoran

Tri Abyantoro '81

Jaman dulu banyak pemuda yang gandrung dengan tokoh dalam filem Ali Topan Anak Jalanan yang diambil dari novel populer karya Teguh Esha. Ali Topan selalu memakai kacamata hitam dan sapu tangan yang dililit di leher, dengan motor trail pastinya.

Kali ini di kelas sedang ada pelajaran Matematika dengan guru yang nyentrik, pak Midon, guru yang punya murid seorang yaitu papan tulis, nggak pernah ngabsen, dan paling suka ngasih ponten 2.

Di kelas aku bergaya bagaikan Ali Topan lengkap dengan atributnya, namun sungguh di luar dugaan dan kebiasaan pak Midon memperhatikanku, disaat aku salah tingkah beliau memanggil.

Keluarlah dari mulutnya caci-maki yang tiada berujung, dengan suara keras nan menggelegar seolah menantangku untuk berkelahi, bahkan begitu semangatnya mengajak Ali Topan beradu kekuatan kacamata pak Midon yang besar itu terlempar, untungnya matanya yang melotot tidak sampai copot.
Berdiri kika Aby, Manuel, duduk kika Fayandi, Bucip, Ponco, Kumis, Hendra, Andy
Sebagai hukumannya aku diharuskan berdiri di depan kelas, bukan di depan kelas seperti layaknya tetapi berdiri bertengger di atas meja guru.

Sungguh malu rasanya diperhatikan teman sekelas karena siapa sih yang mau memperhatikan pelajaran pak Midon, justru akulah yang menjadi pusat perhatian.

Ya begitulah, mau jadi Ali Topan yang ada malah ……… jadi patung Pancoran.



Pesan Moral of the Story

He...he......
Masih inget aja lu..... itu sih peristiwa yang nggak bakal lupa dari ingetan gw dimana guru sampai copot kacamata nya gara-gara napsu mau berantem ama gw. Ya itu masa lalu gw yg memang salah, masa iya waktu pelajaran dia gw pake kaca mata item dan pake sapu tangan dililit di leher, maklum jaman Ali Topan dulu. Tapi dari pengalaman itu gw cerita sama isteri & anak-anak gw kalo jangan ditiru ya kelakuan ayahmu itu.

Aby

Selasa, 16 Desember 2008

Adu mulut dengan bu Mariana

Anak 1 sebelas’81

Ahmad Himawan,
Ada di benakku yang sampai sekarang tidak pernah terlupakan yaitu: sampai aku lulus SMA tidak pernah kujumpai murid yang secara jantan berani menghadapi guru galak yang sedang marah, tetapi murid yang dimarahi tetap tenang (dulu istilah cool belum kita pakai alias belum ngetop).
Kejadiannya kira-kira begini, entah apa penyebabnya, yang jelas mulai terjadi adu mulut antara Ibu Mariana dengan Alwin saat pelajaran bahasa Inggeris.
Sebagai murid yang berusaha menjadi murid yang baik tapi tidak pernah belajar, ada 2 harapan yang ada di kepalaku saat itu, pertama semoga keributan terus berlanjut, karena setelah Alwin maka aku yang akan mendapat giliran menjawab pertanyaan berikutnya, kedua rasanya memang kita membutuhkan murid yang mampu untuk mengimbangi dominasi guru yang terkenal SG alias Super Galak tsb.
Setelah pertengkaran berlangsung sekitar 2 menit terjadilah adu mulut seperti ini.
"Jadi mau lu apa?"
"Nah Ibu, maunya apa?"
"Gua mau lu keluar…………., keluuaar ………….. sekarang!!!!!!!!!!"
"Ya udah saya keluar"
Dengan santainya tanpa ekspresi bersalah (tapi pasti gusar juga dia he he he) Alwin berjalan melewati depan kelas, menuju pintu kelas untuk keluar.
Gile si Alwin, berani juga yah melawan guru, begitu hatiku berbicara. Tentu saja aku bergembira, karena tidak jadi ditunjuk untuk menjawab pertanyaan, karena setelah itu, sang guru pun kembali ke kantornya, untuk menangis barangkali yee.
Jangan-jangan Alwin sendiri sudah tidak mengingat peristiwa tersebut, aku saja yang GR mengenang sejarah orang lain, betul nggak Win? Ya iiyyaa LAAH, masa ya iiyya DONG.

Diah Krisdianti,
Alwin, tuch elu diingetin Iwan….emang iya kan …. Ngakuuuu.

Memang, kelas 1 11, benar-benar kelas yang ajaib dech, apalagi kalau pelajaran bahasa Inggeris alm bu Mariana, bukannya belajar bahasa, tetapi yang ada justru belajar mengelola stress akibat dimarahi terus, belum lagi Yanto yang dituduh nonton wayang klitik (wayang China gitu) …. Ayo komentar dong.

Alwin Wicaksono,
ya deh gw nimbul Dut ...
soalnya takut disangka ngelawan temen kalau nggak menjawab pertanyaan kak Iwan ;-)

Memang sejujurnya aku agak sedikit menyesal karena tidak sempat bersilahturahmi dengan almarhumah dan berharap bisa saling memaafkan karena setelah sekian puluh tahun rasanya ada juga manfaatnya berjumpa dengan beliau.

Saat itu memang aku tidak merasa bersalah, mungkin lebih tepatnya memang tidak bersalah, jadi aku coba untuk menjelaskan keadaan yang sesungguhnya, bukan berarti melawan kak Iwan, he he he.

Saat di Sekolah Dasar sering diungkapkan kalimat “berani karena benar” oleh sebab itu aku mencoba untuk memberanikan diri walaupun belakangan baru aku mengerti bahwa ternyata keberanian tanpa otak sama saja dengan nekat, ha ha ha.

Dan yang ini behind the screen ... belum pernah dirilis sebelumnya. Pertama kali dalam hidupku membuka rahasia kehidupan seorang siswa 1.11 ... jadi setelah itu dengan terpaksa, sekali lagi dengan terpaksa saudara-saudara..., aku belajar bahasa Inggeris mati-matian supaya bisa membuktikan bahwa kelak kalau gurunya diganti nilaiku pasti yang akan paling bagus (setidaknya sama dengan sang juara kelas) di pelajaran bahasa Inggeris ... (untung sekali aku punya bapak seorang instruktur bahasa asing hehe ... walaupun bukan anggota AURI)

Jadi moral of the story adalah ... setinggi-tinggi tupai melompat akhirnya makan juga, yang artinya ... walaupun badan kamu tinggi pasti kamu tidak lupa makan... sekian dan terima kasih wabilahi taufik walhidayah wasalamualaikum warohmatullohi waborakatuh ...

bleb 3x (nyilem lagi ...)
;-)

Selasa, 09 Desember 2008

Senyumnya itu loh!

Kelasku 1 IPA 2 berada di lantai 2, setelah menaiki tangga belok kanan, paling pojok di sisi kanan. Saat ingin kembali ke arah kelas aku berpapasan dengan cewek manis anak juragan roti Barliana, Vivi Mufida namanya, panggilan populernya Vivi roti.
Vivi memulai tersenyum kepadaku, ada angin apa pikirku, akupun tidak menyia-nyiakan suasana ini senyumku yang dikagumi Roy Matondang alias Omloy moderator media-smandel kulepaskan.

Supaya aku tidak dibilang pembual sebaiknya aku cantumkan tulisan Omloy di milis, "The O....gw kenalan ama ente di halaman rumah duka Almarhum Danar....senyumnya itu loh...ck ck ck...dah gitu becanda muluw.Selamat Ulang Tahun yeach....semoga makin Oo..."
Hariyanto Putra wrote at 08:24 on 27 May 2010
the ...O.. senyumnya....tuh.....aih=aihhhhh ....


Akibat senyumku, senyum Vivi bertambah manis, anehnya setelah melewatiku ekor mataku masih menangkap kok Vivi tersenyum terus, ada yang nggak beres nih, hatiku menjadi tidak enak. Kutolehkan kepalaku ke belakang baru kusadari bahwa Vivi bukan tersenyum kepadaku melainkan kepada Uki pacarnya yang kebetulan berjalan di belakangku.

Sayang mereka tidak dijinkan oleh Yang Maha Pencipta untuk menikah karena Uki meninggal dunia akibat penyakit ginjal di masa kami kuliah, semoga engkau berbahagia sobat, amin.