Sabtu, 24 Mei 2014

Brondong Bandara Soetta


Akhirnya hari yang kami tunggu datang juga, hari keberangkatan menuju Beijing melalui Kuala Lumpur. Tentu saja dengan sedikit deg-degan karena rute Kuala Lumpur - Beijing merupakan rute yang sama dengan MH 317 yang hilang tak tahu rimbanya.


Selepas shalat subuh aku sudah mulai bersiap, bawaanku koper kabin dan backpack. Sebetulnya berangkat dengan satu ransel sudah cukup, koper aku bawa buat tempat tentengan pesenan berupa topi tentara China dan coklat. Sederhana ya!.

Aku diantar hingga pangkalan Damri di Bekasi saat matahari beranjak naik. Mengunakan fasilitas wifi yang ada di dalam bis aku bisa mengetahui betapa hebohnya kawan sekelasku 2 IPA 8, Apadela, yang mau Temu Jidad Apadela: the Great Wall.


Bus melaju tanpa hambatan di luar perkiraanku, macet, naga-naganya bakal kecepetan. Mau bilang, “Pak supir, jalannya pelan-pelan!”, takut ditabokin para penumpang.

Untungnya sudah datang beberapa pasukan oranye, yang pasti bukan petugas kebersihan. Pertama datang Tatik dari Garut bersama rombongan sirkusnya.

Kami menunggu kawan yang belum datang di tempat check-in. Di sini setiap penumpang yang berpakaian oranye kami perhatian, tentu saja penumpang tersebut memperhatikan kami sesama oranye.


Nah, saat menunggu aku melihat Uun yang asyik berbincang dengan brondong, lelaki architek muda lulusan Undip. 30 menit kemudian mereka aku hampiri.
“Un, udah dapet namanya belum?”.
“Belum”.
“Udah dapet hapenya belum?”.
“Belum juga”.
“Aduh Un, masa udah 30 menit belum dapet juga. Ya udah tanya dong!”.

Akhirnya dapat deh nama dan nomor hape si architek yang namanya kami rahasiakan tetapi tampangnya nggak. Nah, berikut foto Uun dan si Brondong, kalau ada Jimbo di situ, anggap aja orang ketiga, maksudku sebagai saksi bahwa ceritaku nggak mengada-ada.


“Bikin cerita Men!, judulnya sudah 30 menit belum dapet apa-apa”, dan beberapa judul lain dari Apadelaers. Aku mempunyai judul sendiri, awalnya aku ingin beri judul Brondong Jagung Bandara Soetta.

Lumayan buat acara seru-seruan sambil menunggu Andrina si kepala rombongan yang datang paling telat, padahal dia menasehati kami untuk datang 2 jam sebelum boarding.

Nah, kembali ke soal brondong. Sebagai Kakak Pertama aku menasehati Uun agar jangan membuang waktu. Dalam mendekati brondong aku memang sangat berpengalaman.
Biasanya dalam waktu 3 menit aku sudah dapat nama si brondong.
Menit kelima aku dapat nomor hapenya.
Begitu menit kesepuluh aku sudah mendapatkan tabokan darinya.



Prambanan, Jawa Timur?



Kalau kamu membaca judul di atas, mungkin kamu kaget Prambanan kok ada di Jawa Timur? Aku sendiri kaget apalagi kamu.

Ceritanya begini, waktu kami, Apadela, bertemu jidad di Garut tahun 2013, kawan-kawan berencana ingin ke Bromo, Jawa Timur, tempat bertemu jidad berikutnya di tahun 2014.
Anna, di tengah, @ the Bund, Shanghai
Aku sih menebak nggak akan semudah itu ke Bromo, pasti ada ritual ganti tujuan, contohnya dua tahun sebelumnya mau ke Garut, eh pakai acara ke Kerawang, Bandung, Singapur, Thailand baru deh ke Garut, kali ini pasti seperti itu.

Bener juga dugaanku, baru aja beberapa hari sudah ada yang mengajak ke pulau Tidung. Eh, selang beberapa minggu berubah lagi jadi ke Beijing, dua hari kemudian beralih menjadi ke Beijing dan Shanghai. Dasar Apadela!. 

Tetapi justru itu yang bikin seru, tujuan selalu susah ditebak. Kalau gambang tertebak nggak seru kan?

Sekarang aku mau cerita tentang perubahan tujuan terakhir menjadi Beijing dan Shanghai, aku yakin kamu nggak menyangka, perubahan itu terjadi saat resepsi pernikahan putra Anna Lutfiana, nama ngetopnya waktu di kelas 2 IPA 8, Apadela, Anna Luthung.

Andrina bertanya, “Eh, Men, menurut elo sama Aria, kita ke Beijing aja apa sekalian Shanghai?”.
“Gue sih ke Beijing ayok, sekalian sama Shanghai juga nggak apa-apa”, itu kebiasaan Aria, pasrah aja orangnya.
Aku sih punya pendapat, mumpung sudah di Beijing kenapa nggak ke Shanghai sekaligus. Jadilah tujuan Apadela menjelajah dunia menjadi ke Beijing dan Shanghai.
Tim Pemburu Hantu, eh ... Tim Pemburu Tiket
Tujuan sudah disepakati sekarang tinggal mencari korban, dan korban pertama adalah Anna yang punya resepsi. Waktu aku bilang saat foto bersama, eh dia jingkrak-jingrak kegirangan, sampai aku takut, tubuh Anna yang begitu aduhai bisa merubuhkan panggung. Dia bersorak, “Ke China, gue ikut … gue ikut ..., sama Apadela kan?, gue ikut ….!!!”.

Kembali ke judul di atas Prambanan, Jawa Timur, ini karena si biang kerok Syamsi yang bilang tujuan awal yang seharusnya ke Bromo dia bilang ke Prambanan dan dibumbui Jawa Timur. Bisa ditebak nilai Geografi Syamsi waktu di Smandel berapa?.

Syamsi …. Syamsi ...... masa sih Prambanan di Jawa Timur!, padahal kan kita semua tahu kalau Prambanan itu adanya di Jawa Barat!.

Jumat, 28 Februari 2014

Memindahkan Awan

"Jadinya tanggal 21 apa 28? Diumumin sekalian dong Men", permintan kawan-kawanku di grup BB dan WA Apadela. Akupun mengeluarkan dekrit di grup tersebut dengan tema Temu Jidad Apadela: Hip Hip Hura Februari 2014, tanggal 28 Februari, setelah itu aku jadi mikir, "Yang ulang tahun Fiera, kok aku yang nentuin?".

Senja ini aku meluncurkan mobil putih mungilku menuju Tebet Timur Dalam Raya tempatnya Ojolali, usaha kulier milik Fiera. Zaman kami SMA, tempat ini menjadi Markas Besar untuk latihan  pertunjukan Apadela, 2 IPA 8, di acara perpisahan kelas 3 dengan tajuk Mencari Tempat Berpijak yang melibatkan seluruh penduduk 2 IPA 8. Mantabs nggak tuh!.


Selesai mengucapkan selamat ulang tahun, akupun menunaikan shalat magrib di ruangan yang dijadikan musholah, ada Himawan dan Syamsi, mereka ketua dan wakil ketua kelas 2 IPA 8. Kehadiran Tatik sudah tercium dari aroma rengginang dan ladu yang bertumpuk di atas meja. Andai malam ini Uun dan Pipin nggak sakit, Anna nggak teler, Benny Respati dan Aria nggak rapat, Vivi nggak terjebak macet bakalan rame nih!.

Sambil menunggu kawan berdatangan aku menikmati rujak cingur dan es doger yang menjadi gacoan di Ojolali, enak banget!, beneran, nggak pakai bohong.

Himawan, "Bapak-bapak semua nih, penampakan nggak dihitung"

Canda tawa yang nggak ada henti, mendengar pengalaman seru zaman dulu sampai sekarang, bisa lupa waktu kalau nggak aku ingatkan bahwa jarum jam sudah mendekati pukul 10, supaya nggak mengganggu Syamsi menjalankan proyeknya, memindahkan awan.

Secara teknis memang memungkinkan memindahkan jatuhnya hujan, seperti yang dilakukan Pemda Jakarta, dengan biaya 28 milyar, tapi itu kan skala besar, bagaimana dengan proyek skala pribadi. Nggak ada salahnya untuk dicoba.


Nah, ceritanya Syamsi yang bekerja di BMKG didatangi pimpinan proyek yang uring-uringan takut hujan turun saat melakukan pengecoran di proyeknya di Pulogadung, dia datang meminta bantuan memindahkan awan saat pengecoran yang berlangsung selama 3 hari. Syamsi menyanggupi karena dilihat dari data satelit hujan di Jakarta akan turun di selatan bukan di bagian timur. Sampai di rumah Syamsi mikir, ternyata Syamsi bisa mikir juga, "Emang awan bisa dipindahin?".

Kita semua kan tahu untuk urusan hujan tergantung Allah, makanya Syamsi menelpon tetua keluarga, sang nenek di Kuningan, "Nek, tolong doain biar nggak turun ujan di Pulogadung, ada yang mau ngecor".

Fiera, "Syamsi pawang gokilllll", Willem, "Sukses Syamsi ....!!"

Sepulang dari rumah Fiera saatnya Syamsi beraksi, menuju pasar untuk membeli bawang, cabe dan tusuk sate. Nggak ada salahnya teknologi satelit dipadukan dengan teknologi Majapahit. Semoga nggak turun hujan, kita doakan. Katanya kalau berhasil kita-kita mau ditraktir di Bakmi Gang Kelinci, Pasar Baru.

Kalau turun hujan juga!, dengan kata lain nggak berhasil, Syamsi sudah menyiapkan jawabannya untuk si pimpro, "Waduh, saya salah menentukan koordinat awannya".

Sabtu, 08 Februari 2014

Jumat, 07 Februari 2014

Sabtu, 01 Februari 2014