Kisah ini terjadi ketika aku masih duduk di kelas 1 IPA 2, waktu itu kelas 1 masih masuk siang. Jedah 15 menit dari bel kelas pagi pulang barulah giliran kami bersekolah.
Di kelasku ada kelompok yang rada-rada bandel, nggak tanggung-tanggung 5 orang bo! Kita sebut saja buat kenang-kenangan, mereka itu adalah Alfred, Andrew, Richard, Saud, dan Susilo, yang kusebut tadi berdasarkan alpabetik loh bukan berdasarkan urutan kenakalan.
Sebelum masuk kelas mereka mengisi daftar hadir di warung Mak Etek. Ketika bel masuk berdering mereka nggak buru-buru masuk tetapi menunggu mengabiskan rokok, padahal si rokok terkadang baru saja dinyalakan.
Kelasku ada di lantai 2, paling enak kalau terlambat masuknya melewati pintu pagar yang tidak bisa dilewati kendaraan, yang sekarang jadi gerbang utama, melewati kamar penjaga sekolah tempat tinggalnya pak Oher, masuk lorong melewati perpustakaan dan kantor guru, tepat disamping tangga terletak kantor kepala sekolah.
Agar tidak ketahuan terlambat datang mereka menitipkan tas di kamar pak Oher, “Pak nitip ya!”. Pak Oher mengiyakan sambil manggut-manggut.
Mereka masuk satu persatu ke dalam kelas dengan menyelipkan buku pelajaran pertama di punggung, alasannya pasti berbeda-beda, ada yang ke toilet, mengembalikan buku ke perpustakaan, shalat, pokoknya macam-macam deh! Pastinya mengganggu proses belajar mengajar, karena operandi yang sama dilakukan berkali-kali.
Suatu saat bu Hilma, orang nomor 1 di Smandel melakukan sidak termasuk kamar pak Oher, ditemukanlah 5 tas sekolah. Setelah mendapatkan penjelasan dari pak Oher, bu Hilma meminta pak Oher untuk meletakannya di meja sang kepala sekolah. Pak Oher mengiyakan sambil manggut-manggut.
Tapi memang pak Oher baik hati, hanya tiga buah tas yang dibawa ke kantor Kepala Sekolah, 2 lainnya disembunyikan di bawa ranjang beliau setelah melalui ritual cap, cip, cup.
Saat istirahat berkumpulah 5 sekawan, eh 6 deng dengan pak Oher. Silang pendapatpun terjadi.
Bagi yang tasnya diselamatkan pak Oher bilang begini, “Pak Oher, hafalin ya tas saya yang butut, rada bau dan agak sobek disini, lain kali diumpetin lagi ya!”.
Pak Oher mengiyakan sambil manggut-manggut.
Sedangkan yang harus mengambil tas di kantor bu Hilma bilangnya , “Lain kali kalau ada rahazia lagi, semua tas dikasihin ke bu Hilma, kalau perlu koper pak Oher juga, kan kita kompak!”
Reaksi pak Oher tetep ….. mengiyakan sambil manggut-manggut.
Minggu, 10 Januari 2010
Rabu, 25 November 2009
Pengemis di Padang Arafah
Dalam suatu pengajian angkatanku di rumah Tuti Rambutan, ustad Daud bertutur bahwa selama hayat kita akan ada 3 panggilan dari Yang Maha Kuasa, yaitu: panggilan pertama shalat 5 kali sehari, panggilan kedua berhaji ke tanah suci dan ketiga panggilan kematian yang tidak tahu kapan datangnya.
Aku temasuk salah satu yang beruntung dapat memenuhi panggilanNYA yang kedua pada tahun 2006, saat itu wukuf jatuhnya pada hari Jumat. Haji akbar kata kebanyakan orang.

Sebelum pelaksanan rukun haji kami melakukan tinjauan lapangan termasuk tempat wukuf di Arafah, disini terdapat bukit yang istimewa yang disebut Jabal Rahmah yang berarti bukit kasih sayang, tempat dipertemukannya Adam dan Hawa setelah 1000 tahun berpisah pasca mereka terusir dari surga. Di bukit ini pula tempat turunnya ayat terakhir Al Quran.
Di kaki bukit yang istimewa ini berkumpul pedagang asongan dan pengemis berbagai bentuk, ada yang tanpa tangan, ada yang kakinya buntung dan yang paling membuatku iba adalah pengemis buntung dari kedua pangkal paha dan pangkal lengan sehingga (maaf) mirip kepompong.
Jabal Rahmah tingginya hanya berkisar 20 meter akupun berkesempatan mencapai puncaknya, di puncak aku menghadap kiblat mendoakan keluarga dan teman-teman. Semoga saja doaku terkabulkan, amin.
Karena banyak sekali calon haji yang ingin berada di puncak aku turun untuk memberi kesempatan kepada mereka. Ada seorang ibu tua sedang duduk termenung sambil menengadahkan kedua tangan meminta belas kasihan.
Kuhampiri dan kuulurkan lembaran real ketangannya, tiba-tiba jemari tangan kanannya menutup sehingga ujung jari-jariku berada dalam genggamannya. Kami saling berpandangan karena hanya itu yang bisa kami lakukan, mungkin si ibu ingin mengucapkan terima kasih dalam bahasa Indonesia tidak bisa, aku berbahasa Arab lebih tidak bisa lagi.
Dari raut mukanya si ibu rasanya berasal dari timur tengah, kerasnya hidup terlukis diwajahnya apalagi disertai linangan air mata membasahi kedua kedua pipi.
Sesaat kemudian dilepasnya jemari tanganku, kuberikan senyuman sebelum melanjutkan menuruni Jabal Rahmah.
Dari kaki bukit kupandangi wanita tua tadi, masya Allah kini baru kusadari bahwa ibu tua itu bukanlah seorang pengemis tetapi ……. tengah khusyuk berdoa.
Aku temasuk salah satu yang beruntung dapat memenuhi panggilanNYA yang kedua pada tahun 2006, saat itu wukuf jatuhnya pada hari Jumat. Haji akbar kata kebanyakan orang.

Sebelum pelaksanan rukun haji kami melakukan tinjauan lapangan termasuk tempat wukuf di Arafah, disini terdapat bukit yang istimewa yang disebut Jabal Rahmah yang berarti bukit kasih sayang, tempat dipertemukannya Adam dan Hawa setelah 1000 tahun berpisah pasca mereka terusir dari surga. Di bukit ini pula tempat turunnya ayat terakhir Al Quran.
Di kaki bukit yang istimewa ini berkumpul pedagang asongan dan pengemis berbagai bentuk, ada yang tanpa tangan, ada yang kakinya buntung dan yang paling membuatku iba adalah pengemis buntung dari kedua pangkal paha dan pangkal lengan sehingga (maaf) mirip kepompong.
Jabal Rahmah tingginya hanya berkisar 20 meter akupun berkesempatan mencapai puncaknya, di puncak aku menghadap kiblat mendoakan keluarga dan teman-teman. Semoga saja doaku terkabulkan, amin.
Karena banyak sekali calon haji yang ingin berada di puncak aku turun untuk memberi kesempatan kepada mereka. Ada seorang ibu tua sedang duduk termenung sambil menengadahkan kedua tangan meminta belas kasihan.
Kuhampiri dan kuulurkan lembaran real ketangannya, tiba-tiba jemari tangan kanannya menutup sehingga ujung jari-jariku berada dalam genggamannya. Kami saling berpandangan karena hanya itu yang bisa kami lakukan, mungkin si ibu ingin mengucapkan terima kasih dalam bahasa Indonesia tidak bisa, aku berbahasa Arab lebih tidak bisa lagi.
Dari raut mukanya si ibu rasanya berasal dari timur tengah, kerasnya hidup terlukis diwajahnya apalagi disertai linangan air mata membasahi kedua kedua pipi.
Sesaat kemudian dilepasnya jemari tanganku, kuberikan senyuman sebelum melanjutkan menuruni Jabal Rahmah.
Dari kaki bukit kupandangi wanita tua tadi, masya Allah kini baru kusadari bahwa ibu tua itu bukanlah seorang pengemis tetapi ……. tengah khusyuk berdoa.
Sabtu, 24 Oktober 2009
Kesurupan
Ahmad Himawan ’81
Memang kuakui bahwa ingatanku tidak terlalu tajam, bahkan sebetulnya ingatanku juga tidak tajam, oleh sebab itu aku tidak bisa mengenang peristiwa ini terjadi ketika Jambore atau Memory Camp, yang pasti aku bersama Hendra (korban dan saksi hidup Bom Marriott 1) dan Beton saat itu sudah lulus dari Smandel.

Memang kuakui bahwa ingatanku tidak terlalu tajam, bahkan sebetulnya ingatanku juga tidak tajam, oleh sebab itu aku tidak bisa mengenang peristiwa ini terjadi ketika Jambore atau Memory Camp, yang pasti aku bersama Hendra (korban dan saksi hidup Bom Marriott 1) dan Beton saat itu sudah lulus dari Smandel.

Layaknya acara kemping tidak terlewatkan tanpa api unggun. Panitia seperti biasa menghimbau peserta untuk mengelilingi sang unggun, pesertapun berkumpul entah takut kepada panitia atau masih norak melihat si unggun. Ajakan itu tidak berlaku kepada kami, maklum kami kan sudah jadi alumni, boleh dong ngerumpi di tenda.
Sebagai senior kami ingin membuat acara yang lebih seru daripada buatan panitia, begini skenarionya: Hendra berpura-pura kesurupan, aku menjaganya sementara Beton memberitahukan kepada panitia bahwa Hendra tengah kesurupan.
Sontak acara kami jauh lebih seru!, beberapa peserta meninggalkan api unggun untuk mengelilingi tenda kami. Abdul Azis '82 yang mempunyai kelebihan sejak kecil untuk menangani masalah seperti ini masuk ke dalam tenda agar dapat menunjukkan kebolehannya. Mulutnya komat-kamit untuk mengusir makluk halus sambil sesekali ditiup-tiupnya muka Hendra. Berhasil tidaknya sepenuhnya tergantung Hendra. Hendra memutuskan Azis berhasil, entah tak tahan menahan geli atau tak tahan ditiup-tiup Azis. Hore! Azis berhasil. Pesertapun kembali ke api unggun.
Permainan kesurupan babak kedua dimulai, Hendra tetap sebagai pelakon kesurupan, Beton si penjaga sedangkan aku mendapat giliran melaporkan ke panitia.
Maaf ya? Sekali lagi acara kami lebih ngetop dari bikinan panitia.Azis lagi-lagi menjadi juru penyembuh. Peserta dan panitia ketipu kok bisa sampai 2 kali padahal katanya anak Smandel pinter-pinter.
Bosan berada di dalam tenda aku dan Beton ikut bergabung di api unggun. Ketika asyik menikmati acara tiba-tiba ada yang memberitakan kesurupan dan ternyata terjadi di tenda kami. Azis masuk ke dalam sementara aku tetap berada di luar, sumpah aku takut!, karena hal ini di luar skenario, artinya bisa saja Hendra kesurupan beneran. Aku bersyukur Hendra akhirnya berhasil disembuhkan.

Sebagai senior kami ingin membuat acara yang lebih seru daripada buatan panitia, begini skenarionya: Hendra berpura-pura kesurupan, aku menjaganya sementara Beton memberitahukan kepada panitia bahwa Hendra tengah kesurupan.
Sontak acara kami jauh lebih seru!, beberapa peserta meninggalkan api unggun untuk mengelilingi tenda kami. Abdul Azis '82 yang mempunyai kelebihan sejak kecil untuk menangani masalah seperti ini masuk ke dalam tenda agar dapat menunjukkan kebolehannya. Mulutnya komat-kamit untuk mengusir makluk halus sambil sesekali ditiup-tiupnya muka Hendra. Berhasil tidaknya sepenuhnya tergantung Hendra. Hendra memutuskan Azis berhasil, entah tak tahan menahan geli atau tak tahan ditiup-tiup Azis. Hore! Azis berhasil. Pesertapun kembali ke api unggun.
Permainan kesurupan babak kedua dimulai, Hendra tetap sebagai pelakon kesurupan, Beton si penjaga sedangkan aku mendapat giliran melaporkan ke panitia.
Maaf ya? Sekali lagi acara kami lebih ngetop dari bikinan panitia.Azis lagi-lagi menjadi juru penyembuh. Peserta dan panitia ketipu kok bisa sampai 2 kali padahal katanya anak Smandel pinter-pinter.
Bosan berada di dalam tenda aku dan Beton ikut bergabung di api unggun. Ketika asyik menikmati acara tiba-tiba ada yang memberitakan kesurupan dan ternyata terjadi di tenda kami. Azis masuk ke dalam sementara aku tetap berada di luar, sumpah aku takut!, karena hal ini di luar skenario, artinya bisa saja Hendra kesurupan beneran. Aku bersyukur Hendra akhirnya berhasil disembuhkan.

Aku berdoa agar malam itu tidak terjadi kesurupan lagi, dan doaku terkabul karena semalaman tidak lagi ada gangguan, namun ………. pagi harinya anak kelas 1 sambil memegang golok kerasukan makluk halus di tengah arena, mungkin akibat ulah kami membuat para penghuni halus tersinggung.
Kulihat Azis turun tangan dari kejauhan dengan komat-kamitnya.
“Berarti Azis semakin sakti dong????”
“Nggak juga sebenernya. Lagian siapa sih yang berani nyembuhin orang kesurupan deket-deket kalau lagi megang golok????”
Hariyanto
November 8, 2009 3:40 AM
mr.Omen...ini kejadian di ciampea..gunung Salak....waktu itu surveyor-gw, Sulis kecil,dll..guru yg.datang pak Ugi, b.Mariana...Hri terachir mau pulang banyak.yg. kesurupan di tenda2..lu kurang copy.....si Hendra cs..datangnya belakangan, ..gw.bareng Beny respati.Danar. Dll.datang duluan 2hari sebelumnya.buat nyiapin lokasi dan tenda.dsb.
hari terachir pulang naik kekawah...banyak oknum yang ngaco2--en sok jagoan di Gunung salak.
ada yang pacaran aja nempel kaya prangko.(pulangnya ada juga yg.engga kuat turun belaga sakit...ada 3 orang...satu anak cewe..nyusahin akibat kelakuannyaa sendiri ( Mojok).gw. lupa namanya...... yg.ditandu kebawah....sampe bawah..ternyata bohong ngga apa2......Siapa ya...?
pas api ungun datang si Krisna - Pepeng dkk nya.alumnus bareng guru2....pulang satu Truk ama gw.......
peserta yang gw salut waktu itu si Sulis adik kelas yg. rajin banget kecil tapi lincah.....where is he now ?
o.k mr. chormen sedikit alkisah di balik yg.lu ngga tau--sebab dan akibat nya....sembarangan di wilayah orang lain...ngga pamit /salam kepada yg.nunggu(Kuncen) disana.....
Salam bwt. ex Smandel tim PUAPALA...Heriawan, hendra, Iwan, dllnya
Kulihat Azis turun tangan dari kejauhan dengan komat-kamitnya.
“Berarti Azis semakin sakti dong????”
“Nggak juga sebenernya. Lagian siapa sih yang berani nyembuhin orang kesurupan deket-deket kalau lagi megang golok????”
Hariyanto
November 8, 2009 3:40 AM
mr.Omen...ini kejadian di ciampea..gunung Salak....waktu itu surveyor-gw, Sulis kecil,dll..guru yg.datang pak Ugi, b.Mariana...Hri terachir mau pulang banyak.yg. kesurupan di tenda2..lu kurang copy.....si Hendra cs..datangnya belakangan, ..gw.bareng Beny respati.Danar. Dll.datang duluan 2hari sebelumnya.buat nyiapin lokasi dan tenda.dsb.
hari terachir pulang naik kekawah...banyak oknum yang ngaco2--en sok jagoan di Gunung salak.
ada yang pacaran aja nempel kaya prangko.(pulangnya ada juga yg.engga kuat turun belaga sakit...ada 3 orang...satu anak cewe..nyusahin akibat kelakuannyaa sendiri ( Mojok).gw. lupa namanya...... yg.ditandu kebawah....sampe bawah..ternyata bohong ngga apa2......Siapa ya...?
pas api ungun datang si Krisna - Pepeng dkk nya.alumnus bareng guru2....pulang satu Truk ama gw.......
peserta yang gw salut waktu itu si Sulis adik kelas yg. rajin banget kecil tapi lincah.....where is he now ?
o.k mr. chormen sedikit alkisah di balik yg.lu ngga tau--sebab dan akibat nya....sembarangan di wilayah orang lain...ngga pamit /salam kepada yg.nunggu(Kuncen) disana.....
Salam bwt. ex Smandel tim PUAPALA...Heriawan, hendra, Iwan, dllnya
Selasa, 26 Mei 2009
Mendadak Insomnia dan Satria Bergitar
Rosana Harahap '81
Seminggu telah berlalu sejak perjalanan wisata ke Cirebon. Gurau canda dan gelak tawa masih terngiang-ngiang di telingaku, demikian juga dengan tingkah polah dan lagak lagu sobat 81 masih tergambar jelas di benakku… lucu, norak dan kadang aneh.
Dimulai pagi dini hari tanggal 16 Mei di stasiun Gambir. Peserta wisata kuliner ke Cirebon satu persatu berdatangan, baku salam, baku peluk, baku cium .. bahkan baku “pukul”pun nyaris terjadi karena rasa kangen dan saking gemasnya jumpa lagi dengan sesama rekan. Aura kegembiraan dan keceriaan mulai terasa bersamaan dengan saat memasuki gerbong Cirebon Ekspress. Sebenarnya antusiasme beberapa teman sudah mucul beberapa hari sebelum keberangkatan. Bahkan satu hari sebelumnya, beberapa teman mengalami gangguan tidur…alias mendadak insomnia, sulit tidur atau setiap beberapa saat terbangun,..… khawatir tidak dapat bangun sesuai jadwal dan takut ketinggala kereta ke Cirebon . Yang mengaku mendadak insomnia adalah Mahendra dan Kania….inilah akibat terlalu “excited” untuk berwisata ke Cirebon (mungkinkah saat muda dulu mereka kurang piknik ??).

Sesaat setelah menduduki tempat masing-masing, .. wisata kulinerpun dimulai. Dengan semangat kebapakan dan antusiame yang tinggi Mahendra mulai menawarkan panganan pertama untuk sarapan pagi. Makanan kecil bawaan para Ibu mulai beredar ; dari aneka cake, arem-arem, gemblong, rempeyek dsb..dsb.. (begitu banyaknya sampai aku mendadak amnesia untuk menyebutkan kembali jenis makanan yang diedarkan itu sekarang). Makanan mulai berpindah dari tangan Mahendra, Chormen dan Manca ke perut peserta wisata yang didominasi oleh para ibu (pria : wanita = 1 : 7)
Acara berlanjut dengan kejutan kecil untuk Liza dan Etna yang berulang tahun pada minggu kedua bulan Mei ini. Mereka dinobatkan menjadi Princess sehari lengkap dengan asesoris tiara dan kalungnya.

Perjalanan ke Cirebon masih cukup panjang, Elly - salah satu biduanita 81 mulai “gatel” untuk ”mengeluarkan” suaranya. Sibuklah dia mencari Satria Bergitar untuk mengiringinya menyanyi… “ayo dong, mainkan gitarnya “ katanya. Arief – sang Satria Bergitar bergeming, ..santai… melihat ke luar jendela. “Ayolah” kata Elly kembali. ”El, bisa request gak?” kataku … “Bisa dong...” kata Elly. “Coba mainkan Ungu”kata Elly pada Arief (maksudnya lagu group band Ungu terkini : Hampa Hatiku)… , Arief diam saja (diam karena masih lapar atau ngantuk, tak jelas ... karena beda keduanya sangatlah tipis ) ….atau “Bukan Cinta Biasanya, Afgan deh “ kataku. “Tau ah” kata Arief… “yang biasa aja An, jangan yang gak biasa ...mungkin lagu masa kini dia gak kenal tuh” celetuk Eneng. “Udah lagu jaman kita kecil aja” sambung Eneng. “Okey, kalo lagu Ungu gak bisa ... lagu yang hijau, kuning, kelabu aja (maksudnya lagu Balonku ada Lima)” tambahku. Namanya juga emak-emak,… semakin tidak ditanggapi semakin keluar omongan-omong asbun (asal bunyi) nya… “Ya udah nyanyi aja, ntar gue iringi…”kata Arief. “Request dong,… lagu nya Kuburan aja deh, … abis gak ingat semua sih?” kataku… “dibilang’in lagu masa kini kagak kenal” kata Elly… “ooh yang lupa kuncinya itu ya?” kata Eneng. ”Pantesan ... lupa kuncinya sih,.. tuh gitar jadi gak bunyi deh ” tambahku... huahahahaha sontak kita tertawa semua (dasar emak-emak !!). Daripada para emak semakin tak terkendali, Arif mengeluarkan daftar lagu yang siap untuk dibawakan.... ”dari tadi keq” kata Elly... kemudian mulailah Elly “in action” menyalurkan hasratnya.... lagu-lagu lawas mulai mengalun, .. bersama Manca,...keluarlah lagu Country Road, beberapa lagu Beatless, Saving all my Love for You, Kidung sampai Terajana dan Kopi Dangdut..... Rupanya semakin lama chemistry diantara sang biduanita dan Satria Bergitar semakin klop ... terbukti akhirnya lagu-lagu anyar mulai mengalir, dari Sempurna-nya Andra & the Back Bone, lagu Dewa 19 dilantunkan oleh Elly. Sementara mereka berdua sibuk dengan lagunya, aku dan Eneng masih cekikikan mengganggu Satria Bergitar & mitranya. Sayangnya... tak lama kemudian kereta mulai memasuki Jatibarang yang berarti tak lama lagi kereta akan tiba di Cirebon..... alunan lagupun selesai. Kami yang duduk di dekat sang Biduanita dan Satria Bergitar... SENANG…. Karena dapat mengganggu & menjahili keduanya. Rupanya,… walau usia akan menuju LIMAPULUH tahun.... kelakuan masih tetap LIMABELASAN bila berkumpul kembali dengan sahabat-sahabat lama semasa muda dulu.... hhmm ... aassiiiknya.
Seminggu telah berlalu sejak perjalanan wisata ke Cirebon. Gurau canda dan gelak tawa masih terngiang-ngiang di telingaku, demikian juga dengan tingkah polah dan lagak lagu sobat 81 masih tergambar jelas di benakku… lucu, norak dan kadang aneh.
Dimulai pagi dini hari tanggal 16 Mei di stasiun Gambir. Peserta wisata kuliner ke Cirebon satu persatu berdatangan, baku salam, baku peluk, baku cium .. bahkan baku “pukul”pun nyaris terjadi karena rasa kangen dan saking gemasnya jumpa lagi dengan sesama rekan. Aura kegembiraan dan keceriaan mulai terasa bersamaan dengan saat memasuki gerbong Cirebon Ekspress. Sebenarnya antusiasme beberapa teman sudah mucul beberapa hari sebelum keberangkatan. Bahkan satu hari sebelumnya, beberapa teman mengalami gangguan tidur…alias mendadak insomnia, sulit tidur atau setiap beberapa saat terbangun,..… khawatir tidak dapat bangun sesuai jadwal dan takut ketinggala kereta ke Cirebon . Yang mengaku mendadak insomnia adalah Mahendra dan Kania….inilah akibat terlalu “excited” untuk berwisata ke Cirebon (mungkinkah saat muda dulu mereka kurang piknik ??).

Sesaat setelah menduduki tempat masing-masing, .. wisata kulinerpun dimulai. Dengan semangat kebapakan dan antusiame yang tinggi Mahendra mulai menawarkan panganan pertama untuk sarapan pagi. Makanan kecil bawaan para Ibu mulai beredar ; dari aneka cake, arem-arem, gemblong, rempeyek dsb..dsb.. (begitu banyaknya sampai aku mendadak amnesia untuk menyebutkan kembali jenis makanan yang diedarkan itu sekarang). Makanan mulai berpindah dari tangan Mahendra, Chormen dan Manca ke perut peserta wisata yang didominasi oleh para ibu (pria : wanita = 1 : 7)
Acara berlanjut dengan kejutan kecil untuk Liza dan Etna yang berulang tahun pada minggu kedua bulan Mei ini. Mereka dinobatkan menjadi Princess sehari lengkap dengan asesoris tiara dan kalungnya.

Perjalanan ke Cirebon masih cukup panjang, Elly - salah satu biduanita 81 mulai “gatel” untuk ”mengeluarkan” suaranya. Sibuklah dia mencari Satria Bergitar untuk mengiringinya menyanyi… “ayo dong, mainkan gitarnya “ katanya. Arief – sang Satria Bergitar bergeming, ..santai… melihat ke luar jendela. “Ayolah” kata Elly kembali. ”El, bisa request gak?” kataku … “Bisa dong...” kata Elly. “Coba mainkan Ungu”kata Elly pada Arief (maksudnya lagu group band Ungu terkini : Hampa Hatiku)… , Arief diam saja (diam karena masih lapar atau ngantuk, tak jelas ... karena beda keduanya sangatlah tipis ) ….atau “Bukan Cinta Biasanya, Afgan deh “ kataku. “Tau ah” kata Arief… “yang biasa aja An, jangan yang gak biasa ...mungkin lagu masa kini dia gak kenal tuh” celetuk Eneng. “Udah lagu jaman kita kecil aja” sambung Eneng. “Okey, kalo lagu Ungu gak bisa ... lagu yang hijau, kuning, kelabu aja (maksudnya lagu Balonku ada Lima)” tambahku. Namanya juga emak-emak,… semakin tidak ditanggapi semakin keluar omongan-omong asbun (asal bunyi) nya… “Ya udah nyanyi aja, ntar gue iringi…”kata Arief. “Request dong,… lagu nya Kuburan aja deh, … abis gak ingat semua sih?” kataku… “dibilang’in lagu masa kini kagak kenal” kata Elly… “ooh yang lupa kuncinya itu ya?” kata Eneng. ”Pantesan ... lupa kuncinya sih,.. tuh gitar jadi gak bunyi deh ” tambahku... huahahahaha sontak kita tertawa semua (dasar emak-emak !!). Daripada para emak semakin tak terkendali, Arif mengeluarkan daftar lagu yang siap untuk dibawakan.... ”dari tadi keq” kata Elly... kemudian mulailah Elly “in action” menyalurkan hasratnya.... lagu-lagu lawas mulai mengalun, .. bersama Manca,...keluarlah lagu Country Road, beberapa lagu Beatless, Saving all my Love for You, Kidung sampai Terajana dan Kopi Dangdut..... Rupanya semakin lama chemistry diantara sang biduanita dan Satria Bergitar semakin klop ... terbukti akhirnya lagu-lagu anyar mulai mengalir, dari Sempurna-nya Andra & the Back Bone, lagu Dewa 19 dilantunkan oleh Elly. Sementara mereka berdua sibuk dengan lagunya, aku dan Eneng masih cekikikan mengganggu Satria Bergitar & mitranya. Sayangnya... tak lama kemudian kereta mulai memasuki Jatibarang yang berarti tak lama lagi kereta akan tiba di Cirebon..... alunan lagupun selesai. Kami yang duduk di dekat sang Biduanita dan Satria Bergitar... SENANG…. Karena dapat mengganggu & menjahili keduanya. Rupanya,… walau usia akan menuju LIMAPULUH tahun.... kelakuan masih tetap LIMABELASAN bila berkumpul kembali dengan sahabat-sahabat lama semasa muda dulu.... hhmm ... aassiiiknya.
Minggu, 17 Mei 2009
Ke Jakarta Kami kan Kembali
Seharian sudah kami bersama dengan acara photo session di Cirebon
dengan cengdem, nasi jamblang, Pasar Pagi, Keraton, Mesjid Agung, empal
gentong, desa Trusmi, Sunyaragi, Iwan Fals, nongbar sampai tiba saatnya
untuk kembali ke Jakarta. Sejak matahari terbit hingga terbenam kami
bercengkerama tak kenal lelah, kini saat mentari semakin tenggelam canda
tawa kami justru semakin kentara.
Sebenarnya sepanjang malam bisa saja kami berhaha-hihi di kereta, namun hal tersebut tidak memungkinkan karena sang kereta harus beristirahat sebelum menunaikan tugas keesokan hari.

Ahmad Himawan wrote at 20:39 on 03 June 2009
" PENYAMUN DI SARANG PERAWAN "
Yang paling ganteng tetap Chormen
Liza Soenar Windarti wrote at 20:46 on 03 June 2009
Yang pasti semuanya udah gak ada yang perawan kaleeee
Tri Utami wrote at 09:14 on 04 June 2009
Liza..si Iwan komen terus krn nyesel g bisa ikutan....
Ahmad Himawan wrote at 20:39 on 08 June 2009
Ya udah judulnya di ganti, PREMAN DI SARANG EMAK_EMAK
Tri Utami wrote at 07:57 on 09 June 2009
tambahin Emak2 yg Keren2...he he he....aduh Wan klo kamu ikut...pasti semua jd lebih gokil kali ya....eh klo ketemu muka si Iwan bisa ngelucu g sih?
Weny Dyah Sitoresmi wrote at 08:02 on 05 June 2009
Ratih....ada setori apa nih di cirebon sama bang Omen....kayanya beraaaat banget mau pisah sama Chormen...lihat tuh tangan si abang sampai dipegang kenceng he...he...he...
Ahmad Himawan wrote at 20:08 on 08 June 2009
Biaasaa....udah mau sampai, pembayaran tiket kurang satu, dari pada kabur, mending dipegangin.
Perang candid camera antara Eneng dan Andy meramaikan suasana namun sangat disayangkan tidak bisa ditampilkan disini karena telah terjadi kesepakatan yaitu kalau Eneng memasukan foto Andy dengan pose yang memalukan ke dalam milis sebagai ganjaran Andy tidak tanggung-tanggung akan memasukan 3 foto Eneng dengan pose yang tidak kalah memalukannya.
Acara kuliner belum saatnya bersayonara masih ada 2 buah kue salah satunya kue ketan hitam yang rasanya luar biasa, berbagai camilan keluar pertanda sebentar lagi jam sembilan, jadual kereta tiba di Gambir.
Tanpa aba-aba bubar jalan kami berpencar sesampainya di Gambir, ada yang memerlukan bantuan porter untuk mengangkut oleh-oleh Cirebon, ada yang dijemput keluarganya, ada yang dijemput supir taksi dan ada juga yang nebeng mobil Kania, tahu kan siapa?

Elly Muflihah wrote at 15:56 on 26 May 2009
ups....bedinde mo pulang kampung, pamit ama nyonyah, besok balik lagi.....buntelannya jangan ketinggalan ya yemm......hehe
Elly Muflihah wrote at 15:51 on 26 May 2009
pembagian goody bag, peserta cirex tour of cirebon, mo turun jatinegara....padahal hasil nyontek semua, dari beli oleh2 sampe makan semua pake nyontek, gak kreatip.....haha....
Ahmad Himawan wrote at 20:36 on 03 June 2009
Seguru, seperguruan dilarang membocorkan rahasia.
Ahmad Himawan wrote at 20:46 on 08 June 2009
Tapi bener ya Ely, cuma tulisan nama yang bedain, lainnya sama, termasuk muka pada ancur semua, kecapean.
Tidak semua turun disini ada 5 orang yang turun di stasiun Jatinegara 2 orang alumni SMP 3 dan 3 orang aluni SMP 14. Ratih yang semula ingin turun dari pintu depan nggak jadi setelah melihat Rosana, Uun, Elly dan Yeni turun dari pintu belakang, “Eh, salah ya? Turunnya dari pintu belakang ya?”.
Kejadian tersebut membuat Ketum angkat bicara untuk sekedar mengingatkan, mungkin Ratih lupa kalau naik kereta turun di depan atau dibelakang sama saja, turunnya ya …… di Jatinegara juga.
Sebenarnya sepanjang malam bisa saja kami berhaha-hihi di kereta, namun hal tersebut tidak memungkinkan karena sang kereta harus beristirahat sebelum menunaikan tugas keesokan hari.

Ahmad Himawan wrote at 20:39 on 03 June 2009
" PENYAMUN DI SARANG PERAWAN "
Yang paling ganteng tetap Chormen
Liza Soenar Windarti wrote at 20:46 on 03 June 2009
Yang pasti semuanya udah gak ada yang perawan kaleeee
Tri Utami wrote at 09:14 on 04 June 2009
Liza..si Iwan komen terus krn nyesel g bisa ikutan....
Ahmad Himawan wrote at 20:39 on 08 June 2009
Ya udah judulnya di ganti, PREMAN DI SARANG EMAK_EMAK
Tri Utami wrote at 07:57 on 09 June 2009
tambahin Emak2 yg Keren2...he he he....aduh Wan klo kamu ikut...pasti semua jd lebih gokil kali ya....eh klo ketemu muka si Iwan bisa ngelucu g sih?
Weny Dyah Sitoresmi wrote at 08:02 on 05 June 2009
Ratih....ada setori apa nih di cirebon sama bang Omen....kayanya beraaaat banget mau pisah sama Chormen...lihat tuh tangan si abang sampai dipegang kenceng he...he...he...
Ahmad Himawan wrote at 20:08 on 08 June 2009
Biaasaa....udah mau sampai, pembayaran tiket kurang satu, dari pada kabur, mending dipegangin.
Perang candid camera antara Eneng dan Andy meramaikan suasana namun sangat disayangkan tidak bisa ditampilkan disini karena telah terjadi kesepakatan yaitu kalau Eneng memasukan foto Andy dengan pose yang memalukan ke dalam milis sebagai ganjaran Andy tidak tanggung-tanggung akan memasukan 3 foto Eneng dengan pose yang tidak kalah memalukannya.
Acara kuliner belum saatnya bersayonara masih ada 2 buah kue salah satunya kue ketan hitam yang rasanya luar biasa, berbagai camilan keluar pertanda sebentar lagi jam sembilan, jadual kereta tiba di Gambir.
Tanpa aba-aba bubar jalan kami berpencar sesampainya di Gambir, ada yang memerlukan bantuan porter untuk mengangkut oleh-oleh Cirebon, ada yang dijemput keluarganya, ada yang dijemput supir taksi dan ada juga yang nebeng mobil Kania, tahu kan siapa?

Elly Muflihah wrote at 15:56 on 26 May 2009
ups....bedinde mo pulang kampung, pamit ama nyonyah, besok balik lagi.....buntelannya jangan ketinggalan ya yemm......hehe
Elly Muflihah wrote at 15:51 on 26 May 2009
pembagian goody bag, peserta cirex tour of cirebon, mo turun jatinegara....padahal hasil nyontek semua, dari beli oleh2 sampe makan semua pake nyontek, gak kreatip.....haha....
Ahmad Himawan wrote at 20:36 on 03 June 2009
Seguru, seperguruan dilarang membocorkan rahasia.
Ahmad Himawan wrote at 20:46 on 08 June 2009
Tapi bener ya Ely, cuma tulisan nama yang bedain, lainnya sama, termasuk muka pada ancur semua, kecapean.
Tidak semua turun disini ada 5 orang yang turun di stasiun Jatinegara 2 orang alumni SMP 3 dan 3 orang aluni SMP 14. Ratih yang semula ingin turun dari pintu depan nggak jadi setelah melihat Rosana, Uun, Elly dan Yeni turun dari pintu belakang, “Eh, salah ya? Turunnya dari pintu belakang ya?”.
Kejadian tersebut membuat Ketum angkat bicara untuk sekedar mengingatkan, mungkin Ratih lupa kalau naik kereta turun di depan atau dibelakang sama saja, turunnya ya …… di Jatinegara juga.
Iwan Fals dan Nongbar
Iwan Fals senang sekali berfoto dengan gadis SMA di jamannya yang kini sudah menjadi emak-emak. Ingat Iwan Fals ingat lagu Umar Bakri yang bisa menghadirkan kenangan terhadap bapak Sachroni yang doyan gowes sepeda ke sekolah, kebiasaan sang guru ketika lama tinggal di Jerman.
Bercanda dengan Iwan Fals sangat menyenangkan tutur temanku, pekerja seni tempo dulu yang bisa disetarakan dengan Afgan di jaman ini atau mungkin lebih dari itu. Sayangnya Iwan Fals tidak bisa bergabung dengan acara kami berikutnya Nongbar sembari menunggu kereta.

Diah Krisdianti wrote
at 11:43 on 18 May 2009
Nah ini buat rombongan yang ngga ikutan ke Gua..... lumayan foto sama Iwan False.
Ahmad Himawan wrote
at 13:12 on 18 May 2009
Iwan False....ngewakilii ogut he2x.
Ya Ampun, itu Ratih yang dulu kecil mungil, sekarang udah 2X lipat ?!
Di dalam bis aku sampaikan kepada teman-teman bahwa mulai dari sini seandainya ada pengeluaran harus saweran atau bayar sendiri-sendiri, mereka memaklumi bahkan kalau si Terminator (Arnold Schwarzenegger) ikut niscaya dia berkata “No problema”.
Tenda CSB tujuan nongkrong bareng kami, pujasera terbuka yang baru selesai dibangun. Jangan mengharapkan pelayanan prima, pramusajinya masih dikatagorikan trainee sehingga banyak pesanan yang tertukar.

Ery Supriyadi (Indonesia) wrote
at 06:29 on 18 May 2009
Sukses ya buat Wisata Smandel 81 ke Cirebon. Setelah lihat foto-fotonya ternyata.... luar biasa....28 tahun yang lalu lulus dari Smandel ...dan perubahan itu nampak..jelas.
Chairul Firmansyah wrote
at 07:50 on 18 May 2009
Perubahan nampak jelas, makin muda kan pa Ery ...??, he he he..
Ery Supriyadi (Indonesia) wrote
at 05:57 on 19 May 2009
Subhanallah... Kang Chairul kelihatan makin berisi...berbobot.. nampak jelas....nampak kita memang perlu banyak tafakur..tasyakur atas nikmat perjalanan selama 28 tahun...
Chairul Firmansyah wrote
at 06:20 on 19 May 2009
Amiin, Insya Allah....
Pesanan yang dominan adalah mendoan dan mie ayam, ketika kunikmati mendoan orderan Heppy kurasakan kelezatan, pantas saja Pipin dan Octy membeli untuk dibawa pulang. Kubilang enak bukan karena lapar, bagaimana mau lapar dari setadi makan melulu.
Bak wanita hamil yang tengah mengidam aku menikmati es kelapa muda yang dibandrol 7.000 dan air mineral botol 600 ml berharga 3.000 rupiah yang sebagian kusisakan untuk bekal di kereta.
“Yuk kita pulang, sudah setengah enam” ajak Liza, mungkin jam tangan Liza mereknya lebih cepat lebih baik, karena jam tanganku masih menunjukan pukul 5:20.
Sesampainya di dalam bis masih ada 2 orang yang belum masuk, Pipin dan Octy, mudah sekali menduganya, “Lagi nungguin mendoan” kata teman-teman.
Mencari tempat pedagang mendoan tidaklah sulit karena dari kejauhan kulihat dua wanita berpakaian putih dan bercelana jeans, dress-code kami.
Bicara mengenai dress-code ada juga yang bertanya, “Jeansnya yang masih ada warnanya atau yang udah belel?.
“Biar nggak bingung pakai aja blue jeans yang warnanya biru”
Bercanda dengan Iwan Fals sangat menyenangkan tutur temanku, pekerja seni tempo dulu yang bisa disetarakan dengan Afgan di jaman ini atau mungkin lebih dari itu. Sayangnya Iwan Fals tidak bisa bergabung dengan acara kami berikutnya Nongbar sembari menunggu kereta.

Diah Krisdianti wrote
at 11:43 on 18 May 2009
Nah ini buat rombongan yang ngga ikutan ke Gua..... lumayan foto sama Iwan False.
Ahmad Himawan wrote
at 13:12 on 18 May 2009
Iwan False....ngewakilii ogut he2x.
Ya Ampun, itu Ratih yang dulu kecil mungil, sekarang udah 2X lipat ?!
Di dalam bis aku sampaikan kepada teman-teman bahwa mulai dari sini seandainya ada pengeluaran harus saweran atau bayar sendiri-sendiri, mereka memaklumi bahkan kalau si Terminator (Arnold Schwarzenegger) ikut niscaya dia berkata “No problema”.
Tenda CSB tujuan nongkrong bareng kami, pujasera terbuka yang baru selesai dibangun. Jangan mengharapkan pelayanan prima, pramusajinya masih dikatagorikan trainee sehingga banyak pesanan yang tertukar.

Ery Supriyadi (Indonesia) wrote
at 06:29 on 18 May 2009
Sukses ya buat Wisata Smandel 81 ke Cirebon. Setelah lihat foto-fotonya ternyata.... luar biasa....28 tahun yang lalu lulus dari Smandel ...dan perubahan itu nampak..jelas.
Chairul Firmansyah wrote
at 07:50 on 18 May 2009
Perubahan nampak jelas, makin muda kan pa Ery ...??, he he he..
Ery Supriyadi (Indonesia) wrote
at 05:57 on 19 May 2009
Subhanallah... Kang Chairul kelihatan makin berisi...berbobot.. nampak jelas....nampak kita memang perlu banyak tafakur..tasyakur atas nikmat perjalanan selama 28 tahun...
Chairul Firmansyah wrote
at 06:20 on 19 May 2009
Amiin, Insya Allah....
Pesanan yang dominan adalah mendoan dan mie ayam, ketika kunikmati mendoan orderan Heppy kurasakan kelezatan, pantas saja Pipin dan Octy membeli untuk dibawa pulang. Kubilang enak bukan karena lapar, bagaimana mau lapar dari setadi makan melulu.
Bak wanita hamil yang tengah mengidam aku menikmati es kelapa muda yang dibandrol 7.000 dan air mineral botol 600 ml berharga 3.000 rupiah yang sebagian kusisakan untuk bekal di kereta.
“Yuk kita pulang, sudah setengah enam” ajak Liza, mungkin jam tangan Liza mereknya lebih cepat lebih baik, karena jam tanganku masih menunjukan pukul 5:20.
Sesampainya di dalam bis masih ada 2 orang yang belum masuk, Pipin dan Octy, mudah sekali menduganya, “Lagi nungguin mendoan” kata teman-teman.
Mencari tempat pedagang mendoan tidaklah sulit karena dari kejauhan kulihat dua wanita berpakaian putih dan bercelana jeans, dress-code kami.
Bicara mengenai dress-code ada juga yang bertanya, “Jeansnya yang masih ada warnanya atau yang udah belel?.
“Biar nggak bingung pakai aja blue jeans yang warnanya biru”
Sunyaragi
Tulisan Situs Sunyaragi tertera di sebidang papan di pintu masuk,
rumput yang tidak terawat menyambut, istilah rumput tetangga lebih indah
benar adanya, menyembunyikan situs cantik dari abad ke-18.
Sang architek pastilah berkulit putih dan bermata sipit begitu yang kubayangkan selepas juru pandu mengatakan bahwa beliau berasal dari negeri China.
Tata air yang indah pernah hadir yang kini hanya tinggal kenangan. Patung gajah Siam tengkurap seukuran aslinya berada di dalam salah satu bekas kolam, menurut kepercayaan di musim kemarau panjang sang patung kadang dimandikan dengan maksud menghadirkan hujan. Air kolam ini berasal dari tirai air menutupi tempat bersemedi menyucikan diri untuk kesatria yang ilmu sucinya belum terlampau tinggi. Menyucikan raga itulah makna Sunyaragi.
Ada patung berbentuk tonggak yang tidak boleh disentuh perempuan jomlo, konon menyebabkan si jomblo jauh dari jodoh berdiri menghalangi jalan sehingga kami semua mau tidak mau menyentuhnya. Setelah semua menyentuh barulah si pemandu menjelaskan. Oh Oh!

Lelaki pemandu menyalakan 2 batang lilin untuk menerangi gua buatan yang gelap dan terjal, “Kita balik aja yuk”, Jimbo mencari teman. Nggak ada yang mau akhirnya dia ikutan masuk gua yang timbulnya di Bale Kambang sebelum sampai ke tempat kesatria berilmu tinggi bersunyaragi.

Bilik sebelah kanan di latar belakang foto tempat memindahkan jiwa dan raga menuju China, konon Sunan Gunung Jati kerap menemui Putri China dari sini. Di sebelah kiri untuk menujuh Mekah, sayangnya tidak ada yang menuju Gambir, jadi kami tidak bisa menghemat ongkos kereta.
Telepon Hendra kepada Andy tidak diindahkan, telepon beralih ke hapeku untuk memberitahu acara foto bersama dengan Iwan Fals. Bercanda kali ….?.
Aroma Lintas Perdesaan di jaman kami sekolah berinteraksi saat kami kembali, “Kok situsnya nggak terawat sih pak!”, keluar dari mulut Heppy.
“Mesin potong rumputnya rusak!”, jawab si pemandu.
Walaa… memang merawat situs cukup dengan mesin rumput doang!.
Sang architek pastilah berkulit putih dan bermata sipit begitu yang kubayangkan selepas juru pandu mengatakan bahwa beliau berasal dari negeri China.
Tata air yang indah pernah hadir yang kini hanya tinggal kenangan. Patung gajah Siam tengkurap seukuran aslinya berada di dalam salah satu bekas kolam, menurut kepercayaan di musim kemarau panjang sang patung kadang dimandikan dengan maksud menghadirkan hujan. Air kolam ini berasal dari tirai air menutupi tempat bersemedi menyucikan diri untuk kesatria yang ilmu sucinya belum terlampau tinggi. Menyucikan raga itulah makna Sunyaragi.
Ada patung berbentuk tonggak yang tidak boleh disentuh perempuan jomlo, konon menyebabkan si jomblo jauh dari jodoh berdiri menghalangi jalan sehingga kami semua mau tidak mau menyentuhnya. Setelah semua menyentuh barulah si pemandu menjelaskan. Oh Oh!

Lelaki pemandu menyalakan 2 batang lilin untuk menerangi gua buatan yang gelap dan terjal, “Kita balik aja yuk”, Jimbo mencari teman. Nggak ada yang mau akhirnya dia ikutan masuk gua yang timbulnya di Bale Kambang sebelum sampai ke tempat kesatria berilmu tinggi bersunyaragi.

Bilik sebelah kanan di latar belakang foto tempat memindahkan jiwa dan raga menuju China, konon Sunan Gunung Jati kerap menemui Putri China dari sini. Di sebelah kiri untuk menujuh Mekah, sayangnya tidak ada yang menuju Gambir, jadi kami tidak bisa menghemat ongkos kereta.
Telepon Hendra kepada Andy tidak diindahkan, telepon beralih ke hapeku untuk memberitahu acara foto bersama dengan Iwan Fals. Bercanda kali ….?.
Aroma Lintas Perdesaan di jaman kami sekolah berinteraksi saat kami kembali, “Kok situsnya nggak terawat sih pak!”, keluar dari mulut Heppy.
“Mesin potong rumputnya rusak!”, jawab si pemandu.
Walaa… memang merawat situs cukup dengan mesin rumput doang!.
Langganan:
Postingan (Atom)