Selasa, 26 Mei 2009

Mendadak Insomnia dan Satria Bergitar

Rosana Harahap '81

Seminggu telah berlalu sejak perjalanan wisata ke Cirebon. Gurau canda dan gelak tawa masih terngiang-ngiang di telingaku, demikian juga dengan tingkah polah dan lagak lagu sobat 81 masih tergambar jelas di benakku… lucu, norak dan kadang aneh.

Dimulai pagi dini hari tanggal 16 Mei di stasiun Gambir. Peserta wisata kuliner ke Cirebon satu persatu berdatangan, baku salam, baku peluk, baku cium .. bahkan baku “pukul”pun nyaris terjadi karena rasa kangen dan saking gemasnya jumpa lagi dengan sesama rekan. Aura kegembiraan dan keceriaan mulai terasa bersamaan dengan saat memasuki gerbong Cirebon Ekspress. Sebenarnya antusiasme beberapa teman sudah mucul beberapa hari sebelum keberangkatan. Bahkan satu hari sebelumnya, beberapa teman mengalami gangguan tidur…alias mendadak insomnia, sulit tidur atau setiap beberapa saat terbangun,..… khawatir tidak dapat bangun sesuai jadwal dan takut ketinggala kereta ke Cirebon . Yang mengaku mendadak insomnia adalah Mahendra dan Kania….inilah akibat terlalu “excited” untuk berwisata ke Cirebon (mungkinkah saat muda dulu mereka kurang piknik ??).

Sesaat setelah menduduki tempat masing-masing, .. wisata kulinerpun dimulai. Dengan semangat kebapakan dan antusiame yang tinggi Mahendra mulai menawarkan panganan pertama untuk sarapan pagi. Makanan kecil bawaan para Ibu mulai beredar ; dari aneka cake, arem-arem, gemblong, rempeyek dsb..dsb.. (begitu banyaknya sampai aku mendadak amnesia untuk menyebutkan kembali jenis makanan yang diedarkan itu sekarang). Makanan mulai berpindah dari tangan Mahendra, Chormen dan Manca ke perut peserta wisata yang didominasi oleh para ibu (pria : wanita = 1 : 7)

Acara berlanjut dengan kejutan kecil untuk Liza dan Etna yang berulang tahun pada minggu kedua bulan Mei ini. Mereka dinobatkan menjadi Princess sehari lengkap dengan asesoris tiara dan kalungnya.

Perjalanan ke Cirebon masih cukup panjang, Elly - salah satu biduanita 81 mulai “gatel” untuk ”mengeluarkan” suaranya. Sibuklah dia mencari Satria Bergitar untuk mengiringinya menyanyi… “ayo dong, mainkan gitarnya “ katanya. Arief – sang Satria Bergitar bergeming, ..santai… melihat ke luar jendela. “Ayolah” kata Elly kembali. ”El, bisa request gak?” kataku … “Bisa dong...” kata Elly. “Coba mainkan Ungu”kata Elly pada Arief (maksudnya lagu group band Ungu terkini : Hampa Hatiku)… , Arief diam saja (diam karena masih lapar atau ngantuk, tak jelas ... karena beda keduanya sangatlah tipis ) ….atau “Bukan Cinta Biasanya, Afgan deh “ kataku. “Tau ah” kata Arief… “yang biasa aja An, jangan yang gak biasa ...mungkin lagu masa kini dia gak kenal tuh” celetuk Eneng. “Udah lagu jaman kita kecil aja” sambung Eneng. “Okey, kalo lagu Ungu gak bisa ... lagu yang hijau, kuning, kelabu aja (maksudnya lagu Balonku ada Lima)” tambahku. Namanya juga emak-emak,… semakin tidak ditanggapi semakin keluar omongan-omong asbun (asal bunyi) nya… “Ya udah nyanyi aja, ntar gue iringi…”kata Arief. “Request dong,… lagu nya Kuburan aja deh, … abis gak ingat semua sih?” kataku… “dibilang’in lagu masa kini kagak kenal” kata Elly… “ooh yang lupa kuncinya itu ya?” kata Eneng. ”Pantesan ... lupa kuncinya sih,.. tuh gitar jadi gak bunyi deh ” tambahku... huahahahaha sontak kita tertawa semua (dasar emak-emak !!). Daripada para emak semakin tak terkendali, Arif mengeluarkan daftar lagu yang siap untuk dibawakan.... ”dari tadi keq” kata Elly... kemudian mulailah Elly “in action” menyalurkan hasratnya.... lagu-lagu lawas mulai mengalun, .. bersama Manca,...keluarlah lagu Country Road, beberapa lagu Beatless, Saving all my Love for You, Kidung sampai Terajana dan Kopi Dangdut..... Rupanya semakin lama chemistry diantara sang biduanita dan Satria Bergitar semakin klop ... terbukti akhirnya lagu-lagu anyar mulai mengalir, dari Sempurna-nya Andra & the Back Bone, lagu Dewa 19 dilantunkan oleh Elly. Sementara mereka berdua sibuk dengan lagunya, aku dan Eneng masih cekikikan mengganggu Satria Bergitar & mitranya. Sayangnya... tak lama kemudian kereta mulai memasuki Jatibarang yang berarti tak lama lagi kereta akan tiba di Cirebon..... alunan lagupun selesai. Kami yang duduk di dekat sang Biduanita dan Satria Bergitar... SENANG…. Karena dapat mengganggu & menjahili keduanya. Rupanya,… walau usia akan menuju LIMAPULUH tahun.... kelakuan masih tetap LIMABELASAN bila berkumpul kembali dengan sahabat-sahabat lama semasa muda dulu.... hhmm ... aassiiiknya.

Minggu, 17 Mei 2009

Ke Jakarta Kami kan Kembali

Seharian sudah kami bersama dengan acara photo session di Cirebon dengan cengdem, nasi jamblang, Pasar Pagi, Keraton, Mesjid Agung, empal gentong, desa Trusmi, Sunyaragi, Iwan Fals, nongbar sampai tiba saatnya untuk kembali ke Jakarta. Sejak matahari terbit hingga terbenam kami bercengkerama tak kenal lelah, kini saat mentari semakin tenggelam canda tawa kami justru semakin kentara.

Sebenarnya sepanjang malam bisa saja kami berhaha-hihi di kereta, namun hal tersebut tidak memungkinkan karena sang kereta harus beristirahat sebelum menunaikan tugas keesokan hari.

Ahmad Himawan wrote at 20:39 on 03 June 2009
" PENYAMUN DI SARANG PERAWAN "
Yang paling ganteng tetap Chormen
Liza Soenar Windarti wrote at 20:46 on 03 June 2009
Yang pasti semuanya udah gak ada yang perawan kaleeee
Tri Utami wrote at 09:14 on 04 June 2009
Liza..si Iwan komen terus krn nyesel g bisa ikutan....
Ahmad Himawan wrote at 20:39 on 08 June 2009
Ya udah judulnya di ganti, PREMAN DI SARANG EMAK_EMAK
Tri Utami wrote at 07:57 on 09 June 2009
tambahin Emak2 yg Keren2...he he he....aduh Wan klo kamu ikut...pasti semua jd lebih gokil kali ya....eh klo ketemu muka si Iwan bisa ngelucu g sih?
Weny Dyah Sitoresmi wrote at 08:02 on 05 June 2009
Ratih....ada setori apa nih di cirebon sama bang Omen....kayanya beraaaat banget mau pisah sama Chormen...lihat tuh tangan si abang sampai dipegang kenceng he...he...he...
Ahmad Himawan wrote at 20:08 on 08 June 2009
Biaasaa....udah mau sampai, pembayaran tiket kurang satu, dari pada kabur, mending dipegangin.


Perang candid camera antara Eneng dan Andy meramaikan suasana namun sangat disayangkan tidak bisa ditampilkan disini karena telah terjadi kesepakatan yaitu kalau Eneng memasukan foto Andy dengan pose yang memalukan ke dalam milis sebagai ganjaran Andy tidak tanggung-tanggung akan memasukan 3 foto Eneng dengan pose yang tidak kalah memalukannya.

Acara kuliner belum saatnya bersayonara masih ada 2 buah kue salah satunya kue ketan hitam yang rasanya luar biasa, berbagai camilan keluar pertanda sebentar lagi jam sembilan, jadual kereta tiba di Gambir.

Tanpa aba-aba bubar jalan kami berpencar sesampainya di Gambir, ada yang memerlukan bantuan porter untuk mengangkut oleh-oleh Cirebon, ada yang dijemput keluarganya, ada yang dijemput supir taksi dan ada juga yang nebeng mobil Kania, tahu kan siapa?

Elly Muflihah wrote at 15:56 on 26 May 2009
ups....bedinde mo pulang kampung, pamit ama nyonyah, besok balik lagi.....buntelannya jangan ketinggalan ya yemm......hehe
Elly Muflihah wrote at 15:51 on 26 May 2009
pembagian goody bag, peserta cirex tour of cirebon, mo turun jatinegara....padahal hasil nyontek semua, dari beli oleh2 sampe makan semua pake nyontek, gak kreatip.....haha....
Ahmad Himawan wrote at 20:36 on 03 June 2009
Seguru, seperguruan dilarang membocorkan rahasia.
Ahmad Himawan wrote at 20:46 on 08 June 2009
Tapi bener ya Ely, cuma tulisan nama yang bedain, lainnya sama, termasuk muka pada ancur semua, kecapean.


Tidak semua turun disini ada 5 orang yang turun di stasiun Jatinegara 2 orang alumni SMP 3 dan 3 orang aluni SMP 14. Ratih yang semula ingin turun dari pintu depan nggak jadi setelah melihat Rosana, Uun, Elly dan Yeni turun dari pintu belakang, “Eh, salah ya? Turunnya dari pintu belakang ya?”.

Kejadian tersebut membuat Ketum angkat bicara untuk sekedar mengingatkan, mungkin Ratih lupa kalau naik kereta turun di depan atau dibelakang sama saja, turunnya ya …… di Jatinegara juga.

Iwan Fals dan Nongbar

Iwan Fals senang sekali berfoto dengan gadis SMA di jamannya yang kini sudah menjadi emak-emak. Ingat Iwan Fals ingat lagu Umar Bakri yang bisa menghadirkan kenangan terhadap bapak Sachroni yang doyan gowes sepeda ke sekolah, kebiasaan sang guru ketika lama tinggal di Jerman.

Bercanda dengan Iwan Fals sangat menyenangkan tutur temanku, pekerja seni tempo dulu yang bisa disetarakan dengan Afgan di jaman ini atau mungkin lebih dari itu. Sayangnya Iwan Fals tidak bisa bergabung dengan acara kami berikutnya Nongbar sembari menunggu kereta.

Diah Krisdianti wrote
at 11:43 on 18 May 2009
Nah ini buat rombongan yang ngga ikutan ke Gua..... lumayan foto sama Iwan False.
Ahmad Himawan wrote
at 13:12 on 18 May 2009
Iwan False....ngewakilii ogut he2x.
Ya Ampun, itu Ratih yang dulu kecil mungil, sekarang udah 2X lipat ?!


Di dalam bis aku sampaikan kepada teman-teman bahwa mulai dari sini seandainya ada pengeluaran harus saweran atau bayar sendiri-sendiri, mereka memaklumi bahkan kalau si Terminator (Arnold Schwarzenegger) ikut niscaya dia berkata “No problema”.

Tenda CSB tujuan nongkrong bareng kami, pujasera terbuka yang baru selesai dibangun. Jangan mengharapkan pelayanan prima, pramusajinya masih dikatagorikan trainee sehingga banyak pesanan yang tertukar.

Ery Supriyadi (Indonesia) wrote
at 06:29 on 18 May 2009
Sukses ya buat Wisata Smandel 81 ke Cirebon. Setelah lihat foto-fotonya ternyata.... luar biasa....28 tahun yang lalu lulus dari Smandel ...dan perubahan itu nampak..jelas.
Chairul Firmansyah wrote
at 07:50 on 18 May 2009
Perubahan nampak jelas, makin muda kan pa Ery ...??, he he he..
Ery Supriyadi (Indonesia) wrote
at 05:57 on 19 May 2009
Subhanallah... Kang Chairul kelihatan makin berisi...berbobot.. nampak jelas....nampak kita memang perlu banyak tafakur..tasyakur atas nikmat perjalanan selama 28 tahun...
Chairul Firmansyah wrote
at 06:20 on 19 May 2009
Amiin, Insya Allah....


Pesanan yang dominan adalah mendoan dan mie ayam, ketika kunikmati mendoan orderan Heppy kurasakan kelezatan, pantas saja Pipin dan Octy membeli untuk dibawa pulang. Kubilang enak bukan karena lapar, bagaimana mau lapar dari setadi makan melulu.

Bak wanita hamil yang tengah mengidam aku menikmati es kelapa muda yang dibandrol 7.000 dan air mineral botol 600 ml berharga 3.000 rupiah yang sebagian kusisakan untuk bekal di kereta.

“Yuk kita pulang, sudah setengah enam” ajak Liza, mungkin jam tangan Liza mereknya lebih cepat lebih baik, karena jam tanganku masih menunjukan pukul 5:20.

Sesampainya di dalam bis masih ada 2 orang yang belum masuk, Pipin dan Octy, mudah sekali menduganya, “Lagi nungguin mendoan” kata teman-teman.

Mencari tempat pedagang mendoan tidaklah sulit karena dari kejauhan kulihat dua wanita berpakaian putih dan bercelana jeans, dress-code kami.

Bicara mengenai dress-code ada juga yang bertanya, “Jeansnya yang masih ada warnanya atau yang udah belel?.
“Biar nggak bingung pakai aja blue jeans yang warnanya biru”

Sunyaragi

Tulisan Situs Sunyaragi tertera di sebidang papan di pintu masuk, rumput yang tidak terawat menyambut, istilah rumput tetangga lebih indah benar adanya, menyembunyikan situs cantik dari abad ke-18.

Sang architek pastilah berkulit putih dan bermata sipit begitu yang kubayangkan selepas juru pandu mengatakan bahwa beliau berasal dari negeri China.

Tata air yang indah pernah hadir yang kini hanya tinggal kenangan. Patung gajah Siam tengkurap seukuran aslinya berada di dalam salah satu bekas kolam, menurut kepercayaan di musim kemarau panjang sang patung kadang dimandikan dengan maksud menghadirkan hujan. Air kolam ini berasal dari tirai air menutupi tempat bersemedi menyucikan diri untuk kesatria yang ilmu sucinya belum terlampau tinggi. Menyucikan raga itulah makna Sunyaragi.

Ada patung berbentuk tonggak yang tidak boleh disentuh perempuan jomlo, konon menyebabkan si jomblo jauh dari jodoh berdiri menghalangi jalan sehingga kami semua mau tidak mau menyentuhnya. Setelah semua menyentuh barulah si pemandu menjelaskan. Oh Oh!

Lelaki pemandu menyalakan 2 batang lilin untuk menerangi gua buatan yang gelap dan terjal, “Kita balik aja yuk”, Jimbo mencari teman. Nggak ada yang mau akhirnya dia ikutan masuk gua yang timbulnya di Bale Kambang sebelum sampai ke tempat kesatria berilmu tinggi bersunyaragi.

Bilik sebelah kanan di latar belakang foto tempat memindahkan jiwa dan raga menuju China, konon Sunan Gunung Jati kerap menemui Putri China dari sini. Di sebelah kiri untuk menujuh Mekah, sayangnya tidak ada yang menuju Gambir, jadi kami tidak bisa menghemat ongkos kereta.

Telepon Hendra kepada Andy tidak diindahkan, telepon beralih ke hapeku untuk memberitahu acara foto bersama dengan Iwan Fals. Bercanda kali ….?.

Aroma Lintas Perdesaan di jaman kami sekolah berinteraksi saat kami kembali, “Kok situsnya nggak terawat sih pak!”, keluar dari mulut Heppy.
“Mesin potong rumputnya rusak!”, jawab si pemandu.
Walaa… memang merawat situs cukup dengan mesin rumput doang!.

Jam 3

Weny Dyah Sitoresmi '81

Setelah kunjungan ke nasi jamblang, pasar pagi, keraton kasepuhan dan empal gentongnya bu Darma rombongan menuju sentra batik di desa Trusmi.

Berhubung aku termasuk dalam rombongan pertama yang akan kembali ke Jakarta dengan Cirex jam 15.00 dengan alasan takut pulang terlalu malam, jujur aku sempet ‘ketar-ketir’ alias was-was kalau-kalau aku nggak akan sempat mengunjungi Trusmi. Memang aku sudah sering ke Cirebon tapi belum pernah sekalipun mengunjungi Trusmi. Kesempatan wisata kuliner kali ini benar-benar ingin kumanfaatkan untuk bisa melihat batik Trusmi itu seperti apa sich?.

Tiba di empal gentong bu Darma kalau nggak salah sudah jam 12.30an….. yang ada dalam pikiranku : “sampai nggak ya aku ke Trusmi????”. Begitu empal gentong datang tanpa ba…bi…bu…lagi langsung cepat-cepat kusikat abis…hmmmm yummy….beruntung temen-temen yang lain juga nggak berlama-lama menyantap empal gentong masing-masing, jadi setelah berfoto ria (teteuppp…ngga pernah dilewatkan sesi yang satu ini) akhirnya kami semua ke Trusmi pergi.

Finally, Trusmi here we come……,sampai juga. Kami masuk ke salah satu toko batik yang denger-dengernya sih punya kualitas produk dan motif batik paling bagus. Rasanya baru saja menginjakan kaki ke toko itu dan baru saja memegang blus batik, tiba-tiba ada suara yang menggelegar…, "Jam tigaaaaa………", haaaa….. masak sih udah jam 3???? Aduh…Didut ngagetin aja nich…… pegang sana…pegang sini…pilih sana…pilih sini….. nggak ada kain batik/kemeja/blus yang sreg di hati…. Aduh gimana nih…kok udah nyampe Trusmi ngga ada yang bisa dibeli buat kenang-kenangan???

Lagi-lagi….."Jam tigaaaaa……" yang bunyinya bagai peluit kereta, duh tambah stress deh…… Didut mengingatkan kalau waktu udah semakin mepet buat mengejar kereta jam 3. Akhirnya aku jatuh hati pada sepotong kain…..tapi karena masih ada keragu-raguan, aku letakkan lagi kain itu ditumpukannya yang dikelilingi oleh ibu-ibu yang kalap lihat kain yang bagus-bagus.

Masih mencoba mendapatkan batik yang terbaik, tiba-tiba suara itu terdengar lagi….."Jam tigaaaaa…..". Akhirnya daripada nggak bawa apa-apa dari Trusmi aku putuskan untuk mengambil kain yang tadi... lho…kok nggak ada ditumpukannya???? Ternyata…. kain itu berada ditangan Hendra….. tapiii dengan kebaikan hati beliau akhirnya aku bisa membawa pulang sang kain (million thanks ya Ndra, GBU).

Sebelum suara yang memekakan telinga terdengar lagi (Jam tigaaa….), buru-buru deh rombongan kami (Manca, Aku, Evi, Dyah dan Lina) keluar dari toko batik dan meninggalkan desa Trusmi sekaligus meninggalkan teman-teman yang masih sibuk berburu batik menuju stasiun….. Sayonara…..sampai ketemu lagi diperjalanan reuni wisata yang lain. I love you all…… especially for Didut yang sudah mengingatkan kita supaya nggak ketinggalan kereta he…he…he…..

Batik Lesehan

Masuk toko batik seperti mau masuk mesjid harus melepas alas kaki. Setelah masuk kini aku mengerti, belanja batik yang unik; bisa berdiri, jongkok maupun lesehan, bahkan kalau mau ngesot dan berguling-guling juga tidak dilarang.

Tidak lengkap rasanya kalau tidak berbelanja batik bila berada di Cirebon, itulah sebabnya kami hadir disini. Melalui by-pass ke arah Jakarta, Trusmi kami kunjungi, sentra batik di tengah perumahan dengan suasana yang agak berbeda, lebih tertata dan bersih.

Rombongan yang masuk mendahului kami belum beranjak pulang, menyebabkan toko batik menjadi sesak. “Men sini!”, suara Wati dan Erlina memanggil, mereka duduk di kursi kayu panjang sambil minum air mineral dan makan kerupuk gratisan di ruangan berpenyejuk udara. Giliran gratisan ngajak-ngajak deh!.

Yang tergoda bukan aku sendiri, beberapa teman ikut berpartisipasi, tak lengkap tanpa berfoto-ria. Lah seperti main tamu-tamuan, nggak seperti di toko batik, selembar batik di dekat kami segera menjadi obyek pelengkap penderita yang benar-benar menderita.


Eneng Nurcahyati at 17:47 on 27 May
akhirnya gue mejeng juga....thank men...


Setelah agak lowong aku mulai mencari yang berbahan katun, nggak ada yang pas, XXL saja tidak muat apalagi yang XL, nggak jelas yang salah ukuran batiknya atau ukuran badanku. Elly juga mengeluh “Gue mau beli batik untuk Uum nggak ada ukurannya”.

Gepeng yang lagi mencoba batik model kelalawar kuhampiri, “Tri, cariin satu lagi buat istri gue”. Banyak yang membantu mencarikan sebut saja Manzilah, Iriani, Octy, Wati, dan Dewi. Kan jatahnya 1 lelaki dibantu 7 perempuan, kapan lagi!.

Ada yang bagus yang dipakai manekin, “Mbak, yang kayak gini ada lagi nggak?”, oh oh sudah habis. “Yang ini aja ya?”, si mbak mengangguk tanda setuju. Tidak sulit menanggalkan baju dari si manekin, ternyata batik tersebut justru yang sesuai dengan selera istriku, chemistry juga yang bicara.

Karena kasir penuh sesak kutitipkan uang kepada Gepeng, biar dia sekalian yang bayar, diserahkan uang 5.000 sebelum dia ke kasir. Belakangan uang itu dimintanya lagi.
“Men, mana uang yang 5.000 yang tadi? Gue tuker sama 10.000”.
“Emangnya kenapa? Salah harga?”.
“Bukan!, dapet diskon …..”


Rosita Tagor at 06:51 on 03 July
Boleh juga nih Batik Lesehan...I like Batik


Lain halnya dengan Intan, ketika ia ingin memasukan pilihan untuk anak lelakinya ke dalam plastik aku lihat di bagian belahan depan motif boneka tentara tidak menyatu jadi agak janggal, eh dia malah bilang, “Batik dua puluh lima ribuan aja motifnya mau nyambung”. Namun rasanya ucapanku menancap dibenaknya, giliran dia yang bingung mencari motif yang nyambung, sudah 2 lusin diperiksanya akhirnya terdengar juga kejujuran, “Chormeeeeeeeeenn …… gara-gara elo ah gue jadi bingung!”.
“Lagian batik dua puluh lima ribuan motifnya mau nyambung”.

Empal Gentong Bu Darma

Matahari di atas kepala sudah mulai turun, jamnya makan siang, kini giliran empal gentong Bu Darma. Kok makan melulu? Namanya juga wisata kuliner jadi acaranya makan dan makan lagi.

Bu Darma yang terkenal laris terlihat sepi pembeli karena memang sudah habis sedari tadi kecuali ….. 40 porsi pesanan kami. Ketika kami makan nasi jamblang, pak Sugeng salah satu supir memesan kemari.

Melihat rombongan kami, banyak yang mengira Bu Darma masih buka, mereka kecele, bu Darma dan pegawai tak bosan mengatakan “Sudah habis …..!”, berulang kali.

Tinggal menuangkan kuah panas dari gentong ke dalam mangkok yang berisi empal yang sudah diracik entah dari jam berapa, disajikanlah bersama sepiring nasi hangat. Pinggan berisi kerupuk kulit turut disajikan untuk dimakan bersama, dari penampakannya kerupuk kulit itu bukan dari kelas 1, entahlah kelas 2 atau 3 bahkan mungkin saja kerupuk kulit kelas 7 alias esempe.

“Men, tolongin gue dong, nasi gue kebanyakan”.
“Elo bukannya pesen separoh”.
“Ya udahlah Men, tolongin gue pliiiiiiiis …”, Lucy setengah merengek, untung tidak diikuti enam wanita lainnya, maklum jumlah kami 1 berbanding 7 untuk kekalahan kaum lelaki.

Setelah setengah perjalanan baru aku teringat untuk menambahkan citra rasa pedas bubuk cabe merah dan perasan jeruk nipis, hhemm makin terasa lezat saja!.

“Enak banget! Kuahnya nggak berminyak kayak empal gentong lainnya”, Jimbo berkomentar.

Aku makan empal gentong baru kali kedua, sebelumnya di ruko komplek perumahanku, persis disamping restoran Korea kegemaran sahabatku. Punya Bu Darma memang lebih enak lebih tepatnya menang telak!.

Teman makan kami es jeruk yang segar sekali, untukku tak cukup satu, “Saya minum dua!”.

Acara klasik, photo session, tidak bakalan terlewatkan. Kadang Lina, terkadang Intan panggilan untuk perempuan bernama lengkap Evlina Intan yang menunjukan gambar di kameranya “Ada buaya putih”, sambil menunjuk ke tampangku, seolah melihat penampakan sang siluman keraton.

Akhirnya foto bersama dengan gentong Bu Darma, “Kok gentong foto dengan gentong!”. Tumbuh tuh ke atas bukan kesamping, jika memperhatikan postur kami yang dulunya pernah gepeng.


Denok Sri Sukartinah
Wah acara reuni wisata smandel'81 nya sukses bgt ya. Ngiri nih, bs jadi referensi nih tuk angk'79 yg mau buat acara 30 taon.
21 May at 06:33 · Comment · LikeUnlike · Show feedback (2)Hide feedback (2)
You like this.
Erlinawati Arief at 07:07 on 21 May
Iya mbak, Alhamdulillah.
Saking senengnya ... br jg plng, kita dah berencana untk jln-2 lg. Mungkin ke Banten, ... ngunjungin tmen kita yg meresmikan rmh baru, he he he ....
Iya kan Eneng ?
Chairul Firmansyah at 15:09 on 28 May
Emang boleh jalan jalan mulu....??