Sabtu, 24 Mei 2014

Prambanan, Jawa Timur?



Kalau kamu membaca judul di atas, mungkin kamu kaget Prambanan kok ada di Jawa Timur? Aku sendiri kaget apalagi kamu.

Ceritanya begini, waktu kami, Apadela, bertemu jidad di Garut tahun 2013, kawan-kawan berencana ingin ke Bromo, Jawa Timur, tempat bertemu jidad berikutnya di tahun 2014.
Anna, di tengah, @ the Bund, Shanghai
Aku sih menebak nggak akan semudah itu ke Bromo, pasti ada ritual ganti tujuan, contohnya dua tahun sebelumnya mau ke Garut, eh pakai acara ke Kerawang, Bandung, Singapur, Thailand baru deh ke Garut, kali ini pasti seperti itu.

Bener juga dugaanku, baru aja beberapa hari sudah ada yang mengajak ke pulau Tidung. Eh, selang beberapa minggu berubah lagi jadi ke Beijing, dua hari kemudian beralih menjadi ke Beijing dan Shanghai. Dasar Apadela!. 

Tetapi justru itu yang bikin seru, tujuan selalu susah ditebak. Kalau gambang tertebak nggak seru kan?

Sekarang aku mau cerita tentang perubahan tujuan terakhir menjadi Beijing dan Shanghai, aku yakin kamu nggak menyangka, perubahan itu terjadi saat resepsi pernikahan putra Anna Lutfiana, nama ngetopnya waktu di kelas 2 IPA 8, Apadela, Anna Luthung.

Andrina bertanya, “Eh, Men, menurut elo sama Aria, kita ke Beijing aja apa sekalian Shanghai?”.
“Gue sih ke Beijing ayok, sekalian sama Shanghai juga nggak apa-apa”, itu kebiasaan Aria, pasrah aja orangnya.
Aku sih punya pendapat, mumpung sudah di Beijing kenapa nggak ke Shanghai sekaligus. Jadilah tujuan Apadela menjelajah dunia menjadi ke Beijing dan Shanghai.
Tim Pemburu Hantu, eh ... Tim Pemburu Tiket
Tujuan sudah disepakati sekarang tinggal mencari korban, dan korban pertama adalah Anna yang punya resepsi. Waktu aku bilang saat foto bersama, eh dia jingkrak-jingrak kegirangan, sampai aku takut, tubuh Anna yang begitu aduhai bisa merubuhkan panggung. Dia bersorak, “Ke China, gue ikut … gue ikut ..., sama Apadela kan?, gue ikut ….!!!”.

Kembali ke judul di atas Prambanan, Jawa Timur, ini karena si biang kerok Syamsi yang bilang tujuan awal yang seharusnya ke Bromo dia bilang ke Prambanan dan dibumbui Jawa Timur. Bisa ditebak nilai Geografi Syamsi waktu di Smandel berapa?.

Syamsi …. Syamsi ...... masa sih Prambanan di Jawa Timur!, padahal kan kita semua tahu kalau Prambanan itu adanya di Jawa Barat!.

Jumat, 28 Februari 2014

Memindahkan Awan

"Jadinya tanggal 21 apa 28? Diumumin sekalian dong Men", permintan kawan-kawanku di grup BB dan WA Apadela. Akupun mengeluarkan dekrit di grup tersebut dengan tema Temu Jidad Apadela: Hip Hip Hura Februari 2014, tanggal 28 Februari, setelah itu aku jadi mikir, "Yang ulang tahun Fiera, kok aku yang nentuin?".

Senja ini aku meluncurkan mobil putih mungilku menuju Tebet Timur Dalam Raya tempatnya Ojolali, usaha kulier milik Fiera. Zaman kami SMA, tempat ini menjadi Markas Besar untuk latihan  pertunjukan Apadela, 2 IPA 8, di acara perpisahan kelas 3 dengan tajuk Mencari Tempat Berpijak yang melibatkan seluruh penduduk 2 IPA 8. Mantabs nggak tuh!.


Selesai mengucapkan selamat ulang tahun, akupun menunaikan shalat magrib di ruangan yang dijadikan musholah, ada Himawan dan Syamsi, mereka ketua dan wakil ketua kelas 2 IPA 8. Kehadiran Tatik sudah tercium dari aroma rengginang dan ladu yang bertumpuk di atas meja. Andai malam ini Uun dan Pipin nggak sakit, Anna nggak teler, Benny Respati dan Aria nggak rapat, Vivi nggak terjebak macet bakalan rame nih!.

Sambil menunggu kawan berdatangan aku menikmati rujak cingur dan es doger yang menjadi gacoan di Ojolali, enak banget!, beneran, nggak pakai bohong.

Himawan, "Bapak-bapak semua nih, penampakan nggak dihitung"

Canda tawa yang nggak ada henti, mendengar pengalaman seru zaman dulu sampai sekarang, bisa lupa waktu kalau nggak aku ingatkan bahwa jarum jam sudah mendekati pukul 10, supaya nggak mengganggu Syamsi menjalankan proyeknya, memindahkan awan.

Secara teknis memang memungkinkan memindahkan jatuhnya hujan, seperti yang dilakukan Pemda Jakarta, dengan biaya 28 milyar, tapi itu kan skala besar, bagaimana dengan proyek skala pribadi. Nggak ada salahnya untuk dicoba.


Nah, ceritanya Syamsi yang bekerja di BMKG didatangi pimpinan proyek yang uring-uringan takut hujan turun saat melakukan pengecoran di proyeknya di Pulogadung, dia datang meminta bantuan memindahkan awan saat pengecoran yang berlangsung selama 3 hari. Syamsi menyanggupi karena dilihat dari data satelit hujan di Jakarta akan turun di selatan bukan di bagian timur. Sampai di rumah Syamsi mikir, ternyata Syamsi bisa mikir juga, "Emang awan bisa dipindahin?".

Kita semua kan tahu untuk urusan hujan tergantung Allah, makanya Syamsi menelpon tetua keluarga, sang nenek di Kuningan, "Nek, tolong doain biar nggak turun ujan di Pulogadung, ada yang mau ngecor".

Fiera, "Syamsi pawang gokilllll", Willem, "Sukses Syamsi ....!!"

Sepulang dari rumah Fiera saatnya Syamsi beraksi, menuju pasar untuk membeli bawang, cabe dan tusuk sate. Nggak ada salahnya teknologi satelit dipadukan dengan teknologi Majapahit. Semoga nggak turun hujan, kita doakan. Katanya kalau berhasil kita-kita mau ditraktir di Bakmi Gang Kelinci, Pasar Baru.

Kalau turun hujan juga!, dengan kata lain nggak berhasil, Syamsi sudah menyiapkan jawabannya untuk si pimpro, "Waduh, saya salah menentukan koordinat awannya".

Sabtu, 08 Februari 2014

Jumat, 07 Februari 2014

Sabtu, 01 Februari 2014

Minggu, 29 Desember 2013

Nongol Embat

Tinggal 1 acara Temu Jidad Apadela: Garut 2013 yang tersisa sebelum kembali ke rumah masing-masing, wisata kuliner, sudah pasti makanannya harus ada bau-bau Sundanya. Nama restorannya Pujasega, letaknya di tengah kota Garut tapi jangan kaget kalau ditemukan sawah di pinggir saung, ukurannya sih nggak besar.

Muka-muka lapar
Reservasi pukul 13.00 sudah kelewat, gara-gara macet kami sampai di sini jarum jam sudah nyaris menyentuh angka 3, berhubung makanan belum siap shalat dulu lebih baik. Seolah sudah diatur yang datang terakhir di saung Uni. Aku bilang kepada kawan-kawan sambil memainkan kamera handycam, "Siap ya!, satu ..., dua ..., tiga".
"Panjang umurnya, panjang umurnya, panjang umurnya serta mulia ....".
Uni yang berulang tahun kaget banget!, kedua tangannya menutup mulutnya, biar nggak ketahuan melongo.

Uni keliling menyalami kami satu-persatu, perasaan bahagia tergambar di wajahnya. Ketika duduk dia memengang tas tangannya dengan gemasnya, "Jadi berat ninggalinnya!, Seumur-umur gue nggak penah ngerasain seseneng ini!".


Aku teringat saat Reuni Akbar 55 tahun Smandel, Uni mendatangiku, "Men, gue ikutan Apadela dong!, maksud gue ....., gue bukan Apadela tapi gue pingin ikutan acaranya". Kebersamaan Apadela yang asyik banget yang didengar Uni dari kawan-kawan yang pernah ikut, kini dirasakan sendiri. Apadela emang sip banget!

Namanya juga sudah kelaparan, apa saja yang disajikan para begitu nongol langsung diembat, otak-otak aku kebagian, kerupuk kampung nongol kena embat juga, kroket mampir ke mejaku tinggal piringnya doang keduluan diembat, satu-satu yang yang nggak segera diembat cuma teh hangat.


Makanan utamanya ayam goreng, empal, gurame, lalapan, keredok, sayur asem dan sunda-sundaan lainnya mantep banget, nggak salah memilih tempatnya.

Mencari buah tangan nggak susah tinggal mampir ke toko sebelah yang menjual aneka dodol, keripik dan kerupuk. Lengkap sudah, pipis dulu, baru pulang.


Sedikit evaluasi biar acara berikutnya bertambah bagus. Ketiga bintang tamu merasa puas dan berharap-harap cemas bisa diajak lagi di acara Temu Jidad Apadela berikutnya. Semua peserta senang dan puas kecuali sedikit kritik untuk urusan konsumsi.

Seperti gadis jujur aku tulis aja semuanya. Kekurangan konsumsi bukan karena makanannya kurang banyak, bukan karena makanannya nggak enak, tetapi karena piringnya ...... kurang lebar dan ..... kurang dalam.

Cendol

Penduduk sementara Vila Mewah bertambah dua orang lagi, Ipeng dan kawannya, yang datang jam 12 malam dari Tasikmalaya, mereka nggak lama, jam 1 pagi pulang.


Sepulang Ipeng kawan-kawan sudah dalam posisi tidur, aku mulai mematikan penerangan yang tidak dibutuhkan, mengunci pintu, membagikan selimut, Syamsi salah satunya, "Syamsi, elo belum tidur kan? Mau selimut nggak?". Tangannya mengembil selimut yang aku sodorkan. Eh, emang dasar Syamsi, daya ingatnya nggak panjang, paginya dia bilang, "Semalam aku diselimutin siapa ya?".
Aku bilang aja, "Enak aja diselimutiin!, emang gue emak loh!".

Aku memejamkan mata, mencoba untuk tidur, rasa kantuk sudah lewat, kulihat jam dinding sudah pukul 2, meram lagi, lihat jam lagi sudah nyaris pukul 3, sementara kawan-kawan dengan posisi enak lengkap dengan dengkurnya, aku mulai mengukur dengkur mereka yang aku beri skala 0 sampai dengan 10 sebagai dengkur yang paling keras. Aria dengkur skala 5, Purnomo 4, Ady 7, Syamsi 8, Iriana 6. Lagi asyik menilai tiba-tiba terdengar dengkur dengan skala 12, sakin kencengnya, dan ternyata berasal dari Dicky yang mendengkur persis di kuping kananku.


Nggak hanya dengkur yang aku dengar,  ada juga yang kentutnya keras banget, aku nggak berani asal tuduh karena tidak ada saksi, jam 5 pagi berbunyi lagi untung ada Uun turun mendengar, "Un, siapa yang kentut?.
"Itu yang baju kuning".
Ternyata Ady si anak mama, kalau ada lomba kentut biar Ady yang mewakili Apadela.

Kembali ke jam 3 pagi, aku bangun aja, percuma nggak bisa tidur, menuju kamar mandi yang ada di luar kamar, sudah ada yang mengantri mengambil wudhu shalat tahajut, setelah Wati masuk Fiera, Marlinah sudah menunggu, tapi kok Fiera lama banget ....., ternyata dia mandi, jam 3 pagi mandi? Jangan-jangan melakukan ritual pesugihan.

Iriana Wihardja hooooooooooooi muantaaaab euy air panas gunung daradjat, tambah panas dipeluk om syamsi neeeeh

Sehabis sarapan dan semuanya beres kamipun meninggalkan Vila Mewah menuju Puncak Darajat, tempat pemandian air panas, jalanan lumayan padat, ditambah banyaknya tukang palak.

Pemandangan di Puncak Darajat bagus banget. Berhubung datangnya sudah kesiangan, kolam pemandiannya sudah kayak cendol, kami nggak berlama-lama di sini, sudah saatnya makan siang.



Ke Garut lagi, macet lagi! Lama be-eng, bikin kebelet pipis, untungnya ada pom bensin Pertamina, acara kencing barengpun dimulai, lega banget ....!.

Sakin kebeletnya, di bis kawan-kawan nggak berani minum, sementara aku walaupun ngantuk berat nggak berani tidur ..... takut ngompol!.