Minggu, 02 Oktober 2011

Hawa Pegunungan


Selepas halal bi halal di sekolah aku mengarahkan laju kendaraanku menuju rumah Tupe ’87 di Kemang Utara tempat diselengarakannya halal bi halal Expa. Undangan jam 3, aku sampai jam 3 lewat dikit.

Sudah banyak orang yang datang terutama perempuan, tumben acara Expa banyak perempuannya, jangan-jangan ini acara Expi atau aku mengikuti jejak Ayu Ting Ting yang mendapatkan alamat palsu. Belakangan aku dengar album Ayu Ting Ting sudah tidak diburu pembeli karena ternyata alamatnya sudah ketemu!.

Perempuan-perempuan yang aku sebutkan tadi dari angkatan 87, ayu sih ayu tapi udah nggak ting-ting.

Makanan sudah tersedia, nggak boleh cuma dilihat, makanya aku coba 2 buah somay dan 2 pentul bakso, enak!. Sekarang coba minuman berupa campuran sirup, susu kental manis, jeli aneka bentuk dan rasa serta es batu, nikmat!. Abis gitu nyobain pastel, sip!.

Biar nggak terlihat kelaparan bagusnya ngobrol-ngobrol dulu, ada basa-basinya dikit!. Selanjutnya tancap lagi sate kambing, empek-empek, dan gule, sayang asinan Kayumanis nggak aku jamah, nggak ada kapling lagi!.

Mendekati pukul 8 aku memimpin beberapa teman permisi pulang, karena Jati, Embong, Fajrin dan Sri satu jurusan. Ketika menyalami Boy, dia bilang begini, “Men, jangan lupa  ... !”, sambil mengerakkan jemari tangan kanannya seolah memainkan tuts piano.
“Maksud lo apaan?”.
“Biasa .... ada ceritanya!”.
Oalah nggak dimana-mana mereka mengangapku penulis sejarah, bahasa kerennya sejarahwan.

Nah, sebagai sejarahwan aku nggak boleh mengabaikan bukti otentik. Pertama, tulisan Neni di milis.
Alhamdulillah... Kemarin bisa ketemu aki2, oom2, abang2.. And mbak Lia cantik.. Di Halbil Expa.
Salut euy pada kuat makan and ketawa.. Hihihi
Kompak selalu yaaaa
Hidup Expa!!
Kedua, Keong, PO Rumah Jompo Expa, yang suka ngelawak dan bermuka sangar hari ini nggak hadir, seperti biasa karena nggak mendapat izin dari istrinya. Sangar sih sangar tapi takut istri!. Nah loh Keong lewat blog ini sekarang semua tahu kalau ente takut istri.

Bukan berarti nggak ada Keong nggak rame, di acara halal bi halal Expa yang nggak rame disuruh pulang. Ada yang baru kali ini aku lihat tapi ngocolnya minta ampun, Gepeng namanya. Kata Tupe si Gepeng kalau lagi kaya menghilang, kalau miskin muncul lagi, sekarang Gepeng ada di sini artinya dia lagi miskin.

Aku berbagi sedikit pengalaman Gepeng sewaktu mendaki gunung. Saat di puncak gunung Gepeng mengeluarkan kantong plastik dari ransel, lantas diisinya kantong tersebut dengan udara dan diikat keras-keras, sampai di rumah diberikannya plastik berisi udara itu kepada ibunya, sembari berkata,
“Mak, ini Gepeng bawain oleh-oleh ......, hawa pegunungan!”.

Minggu, 25 September 2011

Sandal Jepit

Baru saja pukul 8 pagi Deden sudah menelpon, “Jadi nggak Men?”, dia sudah nggak sabar ingin bertemu dengan kawan-kawan di Halal bi Halal Smandel 81. Aku jawab aja kalau berangkatnya jam 9. Jujur omong, bukan dia aja yang nggak sabar, sebetulnya aku juga, makanya kami berangkat agak pagi, jam setengah 10 jadinya.


10 lewat sedikit kami sudah sampai di Sate Bang Dul, Cibubur setelah menjemput Deden di pintu gerbang Kemang Pratama 3

Vocal Group Smandel
Jendro, Didut, Eko, Buset, Gelly (nyempil), Restu, Roy, the O, Baskoro, Mustakim, Bucip
duduk: Ihya, Harireko (nyempil) Jonny, Azwardi, Zainal, Adit

Panitia dan bunitia sudah pada tempatnya masing-masing, Elly asyik membungkus door price, Luci, Diah, dan Lisa mengurus makanan, Fiera menghitung uang, Rory dan Hendra menemani kawan yang sudah datang, Mundi sang Emsi mengucapkan kata sambutan saat aku menyalaminya, “Men, si Eneng tadi telpon nanyain serunya halal bi halal, gue jawab aja, elo baca aja blognya Chormen”. 
Oalah, acara belum aja dimulai sudah dimintain cerita.
Sementara panitia yang lain, Hariyanto, seperti biasa ..... setelah mengambil honor ... mangkir!

Makanan sudah siap, untuk sarapan aku memilih lumpia dan bola-bola daging bang Udin, tukang bakso langganan Presiden yang tinggal di Cikeas. Bang Udin digeret ke lokasi lengkap dengan dandang dan peralatannya.
Bersama Tim Basket Smandel
Yogi, Baskoro, Dicky, the O, Deden, Benny, Arif Darmawan, Mega, Restu
duduk Arief Mooyoto

Bang Franky, tukang bubur motor langganan ibu pejabat tinggi yang tidak etis untuk diungkapkan namanya turut dibajak, kita sebut aja si ibu pejabat bernama Nyonya Genggong yang dulunya preman pasar Cijantung. Sengaja aku tidak meminta bubur, nanti aja, belakangan aku nggak kebagian.Nyesel!.

Cerita mengenai makanan dan minuman nggak perlu berpanjang-panjang, yang pasti enak dan enak banget serta lengkap, ada lunch box untuk vegetarian dari Koni dan serabi, sepupunya cucur tebem sih!
Pemandu Sorak Smandel
Ivone, Bucip, Herry & istri, Ami, Retno, Diah L, Winny, Bowo
duduk: Wenny, Wisnu, Elly, Mundi, Selvi

10 menit berlalu, sepatuku tidak bisa diajak berkompromi, sol sepatu kiriku lepas, tahun lalu lepas yang kanan di rumah Ello saat HBH juga. Aku suka banget memakai sepatu santaiku ini, selain karena hadiah ulang tahun dari anak-anakku, sepatu santaiku memang hanya sepasang.

Aku hampiri Lisa, “Lis, punya sendal jepit nggak?”.
“Ada, sebentar gue ambilin”.
Beberapa menit kemudian aku mendapatkan 2 pasang sendal jepit yang baru dibeli oleh staffnya, keduanya berukuran kecil. Aku pilih yang berwarna hijau, lumayan dari pada nyeker!.
Jadi begitulah teman-teman, mengapa aku memakai sandal jepit, bukan karena nggak sopan atau sok eksis.
Kalau nggak kekecilan sebetulnya enakan pakai sandal jepit, ada yang ngiri juga loh, Udeng misalnya, “Enak banget, elo pake sandal jepit”.

Bersama Tim Bola Bekel Smandel
Eko, Zainal. Indri, Nia, Atun, Elly, Jimbo, Udeng, Didut, the O
Pakaian kami yang blang-blon-teng, itu memang disengaja karena semua motif pakaian kecuali polka dot pernah kami gunakan, makanya dress code kali ini sederhana aja ........ yang penting pakai baju!, nggak pakai celana dalam juga nggak apa-apa.


2 comments:

mieta'thatha' said...
Saking buru burunya karena harus bertugas dulu,,sy tidak sempat berhias,,tapi kupikir tak usah jadi masalah lah,,kok gara gara tidak pakai bedak jadi ga datang lagi,,baru kali ini setelah 30 thn sy bergabung dg teman2,,mula2 ragu2,,coz sy cuma naik angkutan umum,,(maklum my car sdh loss dibawa pencuri skitar 2-3 thn lalu & smpai kini blum ada gantinya,he he,,curhat)sedikit ada rasa tidak PD,tp akhirnya rasa itu hilang,,ketika ingat di FB saat slg menyapa di OL shbt smandel misalnya shbt Rory,shbt Omen,shbt Hendra Marsila,shbt Haryanto P,,mmbri smngat utk dtg dg penuh keramahan,,wah akhirnya sy kuatkan utk menuju RM Bang Dul,yg sebenarnya lumayan jauh,,senang rasanya bertemu bbrpa shbt yg sgt welcome,mbak Liza,mb Mundi shbtku dikls 3,mb Kania,mb Rossa Diana,mb Wenny,mb Winny,mb Tri Utami,& semua shbt yg tdk bisa disebut satu persatu,,terakhir smpat slg sapa dg shbt Wisnu,mb Ivone,mb Elly,mas Bucip,& mas2 lainnya,,wah rasanya ga rugi jauh2 dtg ketmpt mbak Liza,,tksh utk smua panpel,,mas Rory,mas Chormen,yg baik,dkk,,mas Hendra yg juga bri smngat krn brgkt dr semarang lebih jauh dr bogor ya,,tks utk smuanya,,tksh kpd Tuhan yg mmmbri kesempatan kpd kami smua diusia yg tidak muda lg ini,,kecanggihan teknologi membuat sebagian dr kita
bisa berjumpa lg,,Tksh ya Allah utk sarana ini,,akhirnya tks utk pemakarsa acara ini,,wlo tanpa bedak akhirnya akupun bisa jumpa dg smua yg kukasihi,,smg Tuhan ijinkan kebahagiaan ini berulang & dpt dirasakan oleh smua alumni smandel baik angk 81,,maupun lintas angkatan,,Trimaksh Tuhan,,utk hati putih dan hati yg indah yg sdh memenuhi reuni kami di HBH ke 30 dari smandel 81,,smg Tuhan memberkati kita semua dg kebahagiaan,kesehatan,kesembuhan & rahmat utk menghibur sdr2 sekitar kita,dimanapun qt berada,salam
mieta'thatha' said...
yang pergi tanpa bedak itu adalah anggota smandel 81,,Era Maria Retno,,salam persahabatan,,GBU all

Sabtu, 13 Agustus 2011

Justin Bieber dan Katarak

Setelah tarawih berjamaah kawan-kawan masih terus berdatangan di acara Bukber 2011, Amita salah satu diantaranya.
“Amita, kemana aja kok baru nongol lagi?”.
“Biar nggak nongol tapi kan gue selalu baca novel-novel elo”.
“Novel apaan?”
“Ah, pura-pura elo kan selalu nulis cerita-cerita ya kan? the O”.

Setelah membaca tulisan di atas kamu jangan lantas buru-buru ke toko buku untuk membeli novelku karena memang belum terbit, membuatnya aja belum. Maksud Amita tentang novel tadi adalah tulisanku di blog.

Amita salah satu duta Smandel 81 yang aktif di acara tahun emas, 3 tahun lalu, dia menjadi Danops, Komandan Operasi Katarak, acara operasi katarak gratis. Jabatan yang pas dengan profesinya sebagai pimpinan rumah sakit mata terkemuka di negeri ini.
Amita berdiri ke-3 dari kanan, Luki nungging paling kiri

Amita dulu kuliah di Fakultas Kedokteran UI bagian Kristen alias UKI, Universitas Kristen Indonesia. Berkaitan dengan keahliannya aku mencoba menawarkan Amita untuk mengadakan Baksos Operasi Katarak untuk kalangan sendiri, Smandel 81.
“Iya Mit, gue udah mulai tumbuh katarak nih”, kata bu Mod yang mendengarkan pembicaraan kami.
“Sebanyak ini?”, sambil matanya menyapu ongokan manusia Smandelers 81.
“Ya, kalau lo cape nanti gue yang ngegantiin”, aku menawarkan diri menjadi sukarelawan.
“Elo yang ngegantiin!!!, gue nggak mau!!!, daripada elo mending gue ngoperasi katarak gue sendiri”, bu Mod sewot.

Kalau Luki, kakak suster Nurhayati alias Nunuk’82 lain lagi, dia baru pertama kali datang, setelah 30 tahun baru pertama kali kelihatan batang hidung, mata, telinga, tangan, kaki dan lainnya. Dia menyalami semua, cekikikan, masih seperti dulu bicaranya nyaring cenderung teriak.

Setelah agak tenang dia mencari tempat duduk sambil matanya menyapu semua orang yang hadir, tiba dia bicara (harap dibaca teriak) sehingga semua orang di bawah tenda mendengar.
“Men, kayaknya dari semua orang yang hadir cuma elo yang kayak Justien Bieber!”.
Ups! Ada juga yang bilang aku mirip Justin Bieber. Satu lagi pasien katarak Amita.
Aku tersenyum teringat komentarnya Hernowo waktu aku dibilang mirip Franco Nero, mungkin dia akan bilang “Mirip Justin Bieber yang jatuh dari jurang”.

  • Weny Dyah Sitoresmi Biarpun cuma lengan..... Yang penting tetep eksis ya Chormen....xixixixixi
    14 August at 08:29 · 

  • Mohamad Rory Faizal Gumay Foto spontanitas dan hasilnya lumayan karena daru memberikan ekspresi yang mantaaab
    14 August at 08:30 · 

  • Mohamad Rory Faizal Gumay Ya itu si "Tangan Panjang" nya Chormen... Pantas dimana2 ada foto dia
    14 August at 09:44 · 

Setelah dipikir-pikir, rencana operasi katarak bareng dibatalin aja, soalnya nanti nggak ada lagi yang bilang aku mirip justin Bieber!

Patin dan Empek-Empek

Setelah numpang mandi di rumah masa kecilku di Berlan aku menuju ke bilangan Gatot Subroto untuk membeli suplemen kesehatan, maklum sudah berumur. Sang kasir memberikan kupon gratis 3 jam parkir, buat apa selama itu? Kalau aku manfaatkan sepenuhnya bisa-bisa datang ke markas terlambat.

Buru-buru aku meninggalkan gedung itu agar terhindar macet, sampai di markas alias Sekretariat angkatanku belumlah pukul 5 sore, sudah cukup banyak yang datang, setelah kuhitung ada 12 aku menjadi orang ke-13, ups nomor sial. Aku mulai was-was dan mulai menyesali mengapa pakai aku hitung-hitung segala!. Untung aku sadari bahwa Luci yang tinggal di Sekretariat pasti sudah datang, jadi aku orang yang ke-14 artinya nggak sial-sial banget.

Kisna Purwana ’77 aku pastikan sedang tidak siaran sebab Didit hadir di sini, beberapa muka baru juga hadir, tanda-tanda acara bukber akan sukses sudah kelihatan.

Azan magrib mulai berkumandang, minuman mulai diserbu, aku memilih es kelapa muda untuk membatalkan puasaku. Aku belum beranjak jauh dari meja tempat si minuman kelapa muda bercokol, sehingga aku dapat mendengarkan dialog ini.
“Kok es kelapa mudanya nggak pake sirup?”.
“Chormen tadi yang minta sirupnya dipisah!, tuh sirupnya ada di botol”, Fiera si pembawa kelapa muda menjelaskan.

Setelah memberi izin beberapa makanan ringan melewati tenggorokanku, aku menuju kamar mandi untuk berwudhu melewati 3 wanita Smandel 83, cantik-cantik semua, adik Luci, Yeyen dan seorang yang belum aku tahu namanya. Aku mulai sok akrab.
“Nggak ke Handayani? Kan ada buka puasa”, buka puasanya alumni berbagai angkatan.
“Enakan disini .....!!!”, mereka menjawab serempak, aku bilang dalam hati, “Aku juga tahu!”.

Peserta shalat magrib kian tahun kian banyak termasuk 3 Smandelers 83, ruang makan dan ruang tamu dipenuhi shalaters. Alhamdulillah!

Tidak semua makanan yang disajikan aku santap, hanya separuh perut ikan patin bakar dalam bambu dari Cimanggis, beberapa tusuk sate, asinan betawi dan empek-empek.
“Waduh bener-bener orang Palembang! Empek-empek makan empek-empek!” Roy berkomentar saat aku dan kak Ros berbagi lenjeran.
“Ini empek-empek Garudo yang ada di Kemayoran”, emak Didut menjelaskan.
“Elo ke Kemayoran dulu?”.
“Kan deket kantor gue”.

Ketika aku berjalan melewati Rosana, Rike dan Heppy, pita suara Rosana bergetar,
“Men, elo udah ngisi absen?”, sambil memperlihatkan daftar hadir.
“Udah!, eh, ada berapa orang yang dateng?”.
“Sebentar gue lihat dulu ...., ada 53, sedikit amat! Banyak yang nggak ngisi!”. Di akhir acara hanya 63 dari 80 orang yang mengisi daftar hadir.
“Diedarin lagi aja sambil bilang yang ngisi absen bisa foto bareng gue”, aku menyarankan.
“WHAAAAATTTTTT ......!!!”, batak asli Rosana keluar.
“Men...., haa.....ciiiii .....!!!”, Rike si orang Garut ikut-ikutan, sedangkan Heppy berkomentar kalem, kayak lembu, mungkin ini yang menyebabkan Rory dulu jatuh hati.
Heppy berkata lembut, mukanya mengarah ke Rosana, “Ada tip-ex nggak? Gue pingin ngapus nama gue!”.

Minggu, 29 Mei 2011

Mana Jempolnya


Pedagang oleh-oleh khas Banten diboyong ke pabrik batik sehingga kami tidak usah susah-susah mencari buah tangan, aku sempat membeli 2 buah sate bandeng ternyata hanya itu otak-otak bandeng yang tersisa.

Dari lokasi batik kami menuju restoran taman dengan berjalan kaki, kuat? Iyalah, Cuma 20 meter sudah sore pula. Dua acara terakhir ini diadakan gara-gara aku protes ke bunda. Begini nih, si bunda mengirimkan itinerary ke panitia melalui email, aku sendiri nggak tahu mengapa aku juga dikirimi padahal aku bukan panitia apalagi bunitia.

Kelihatannya mereka cuma manggut-manggut, seminggu kemudian mereka masih manggut-manggut, nggak tahan aku sampaikan keberatan, “Neng, pulangnya kecepetan!, masa masih sore udah sampe Jakarta, paling cepet pulang dari Serang abis magrib”.

Ternyata bacotku menyuarakan bacot hati kawan-kawan, waktu di bis saat pulang mereka berharap jalan macet terus sampai Jakarta, supaya bisa berlama-lama bercengkerama.

Di restoran taman kami makan icip-icip, sate ayam, sate bebek beserta lontongnya, nasi sumsum, dan bakso. Icip-icip kok banyak banget!. Semuanya enak terlebih sate bebek, sayang baksonya nggak enak.

Aku curiga baksonya bakalan nggak enak sejak pramusaji meraciknya. Daun sawi dan toge tidak direbus tetapi hanya disiram dengan kuah bakso yang suam-suam kuku, jadi yang aku makan sayuran mentah. Kalau ini kuliner baru aku akan menamakannya selada bakso, bukan berarti setelah aku namakan makanan ini menjadi enak.

Sebelum matahari jatuh kepelukan malam, kami berfoto berjamah yang dilakukan oleh Wawan Gumay Senja, dan seperti biasa banyak titipan kamera gurem. Saat kamera gurem beraksi, gaya kami gurem juga, kalau kamera serius sudah pasti kami serius juga.

Aku berpesan untuk mengacungan jempol pada pose terakhir, saat itu tiba Wawan sang photographer berkata, “Ini yang terakhir”, seolah mengintruksikan, “Mana jempolnya …, mana jempolnya …”.
Jadinya keren ya!.

Atas dakika: Zaenal, Titi, Tri, Iriani, Mundi, Tatik, Fiera, Iin, Puger, Rosana, Nia, Kasfiana, Yeni, Ratih, Gaus, Iriana, Tono, Rahmadi, Anto, Heppy, Rory. Tengah: Ockty, Titut, Liza, Tri, Diah, Rike, Fida, Eni. Bawah: Hary, Roy, Haryo, Adji, the O, Andy, Eneng, Iwan, Hendra, Luci







Untuk acara berikutnya bagaimana kalau aku usulkan berpose dengan gaya, “Mana mata genitnya …, mana mata genitnya …”, sambil ngedip-ngedipin mata. Aku yakin Neni ’87 pasti ngiri.

Inget Batik Inget Mak Uwok

Kami mengunjungi pabrik batik bukanlah kali pertama, namun yang satu ini tempat pembuatan batik Banten. Aku hanya lihat-lihat aja nggak berbelanja batik, soalnya nggak ada ukurannya. Kemeja batik yang ada paling besar berukuran L untuk ukuran pria Banten, kalau ukuran baju yang biasa aku beli batik tadi berukuran M.
Tukang jemur batik sedang bergaya

Kemeja batik lengan pendek dibandrol dengan harga Rp 175 ribu, menurutku terlalu mahal, tetapi mungkin aja karena aku yang nggak tahu harga.

Motifnya sederhana, nggak jelimet, tipenya batik pesisir, aku kurang suka. Tulisan ini bukan upayaku untuk tidak mau membeli batik Banten loh.

Aku mencoba untuk mewarnai batik, awalnya ragu-ragu karena takut blobor. Si perajin batik batik memperagakan acara mewarnai dengan benar, nggak sulit ternyata.

Aku juga melihat ketrampilan perajin melukis batik, tangan mereka cekatan sekali, di sampingku Susyanto turut memperhatikan.
“Men, gue jadi inget karya tulis gue”
“Guru pembimbing elo siapa?”
“Mak Uwok”.
“Elo cuma dapet enam ya?”.
Susyanto menganguk dan tersenyum malu.

Aku buka rahasia angkatanku ya, bukan karena Mak Uwok, yang bernama asli ibu Siti Anifah, yang kecam menilai karya tulis murid yang dibimbingnya dengan nilai paling mentok kepala 6.
Mak Uwok pasti bosenlah karena hampir separuh murid yang study tour ke Jogjakarta membikin karya tulis tentang batik. Emang nggak bisa bikin karya tulis selain batik.

“Elo juga dapet enem ya?”, Susyanto mencari teman.
“Enak aja!, nilai gue 8”.
Karya tulisku dibimbing pak Dasril, aku beri judul Taman Nasional Ujung Kulon, dengan Rhinoceros sondaicus, badak jawa, sebagai master piece-nya.

Kalau kamu bikin karya tulis tentang batik, bacanya sambil senyum-senyum ya?, soalnya cuma dapat 6 sih!.

Pangeran Kodok


Bis kami memasuki halaman kantor mantan Gubernur Jendral Bantam, sebutan Banten di zaman kolonial. Van Bronckhorst salah satu sang Gubernur Jendralnya.

Sudah barang tentu kami berkunjung bukan untuk menemui arwah sang Gubernur Jendral dalam rangka uji nyali, lagian ngapain juga!.

Kami ke sini apa lagi kalau bukan untuk bapoto. Cukup kreatif mencari tempatnya, rasanya belum ada foto angkatan lain yang lokasinya seunik ini. “Bagus”, kalau mengingat pak Tino Sidin.

Sebulan sebelum berangkat aku dibilangin bahwa nanti kami photo session di tangga, aku pikir tangganya agak tinggi sehingga aku bilang kalau kami dipotret dari atas dengan format 81, eh, panitianya, kak Iwan, kak Ros, dan bunda pada ngomel, “Nggak ada waktu! Susah ngaturnya!”. Rasanya seperti dimarahi nenek sihir, maklum mereka kan sudah nenek-nenek.

Akhirnya kami berfoto dengan gaya pejabat teras, maksudku pejabat yang bekerja di teras.

Aku jadi ingat kakak kelasku yang 10 tahun lebih tua, dari jurusan Sipil, beliau bekerja di teras rumahnya, komputer dan perlengkapan kantor lainnya bercokol di teras, prinsipnya urusan rumah nggak mengganggu urusan kantor, begitu sebaliknya

Nah, kalau kamu bertamu ke rumah, eh kantornya, kamu harus pipis dulu. Soalnya kalau kamu kebelet pipis kamu harus pipis di musholah dekat rumahnya, kan urusan kantor nggak boleh mengganggu urusan rumah. Minumannya, biasanya teh hangat manis dalam cangkir, dibeli dari warung di depan rumah, begitu juga urusan makan siang.
@ Kantor Gubernur Banten
Untung aku dua kali ke sana istrinya lagi ke luar kota, jadi aku diizinkan pipis di dalam rumah.

Kembali ke cerita awal, tentang potret-potretan.
Kalau kamu melihat foto di atas aku kok nggak berada di deretan paling depan, nggak seperti biasanya, sudah pasti ada sejarahnya. Ketika aku berdiri di depan, nenek-nenek sihir pada protes, “Meennnn, elo jangan di depan teruuussss ….!!!”.

Akupun bergeser ke deretan belakang karena takut disihir jadi kodok. Aku menduga keras kalau aku disihir akan berubah menjadi kodok, soalnya pangeran ganteng kalau disihir biasanya berubah menjadi kodok, ya kan?

kamipun berfoto-ria. Keren ya!
Nggak percuma, angkatan 81 gitu loh yang punya prinsip.
Urusan semangat ….. nggak ada matinya!!!
Urusan narsis ….. nggak ada malunya!!!