Minggu, 23 Mei 2010

Smandelers masih di jalan Riau

Setiap angkatan pasti punya keunikan tersendiri, kalau yang unik di angkatanku nih yang jadi bos si anak buah, yang kerja bapak buahnya. Nggak percaya?.

Saat kami terpenjara di jalan Riau karena hujan, anak buah pada santai, ada yang ngopi, ada yang merokok, ada yang mencoba merayu Fida, sedangkan bapak buah menuju bis dibawah guyuran hujan untuk menjemput kami semua, titik penjemputan Dakken Café. “Hoi bisnya udah siap di depan kafe …!” suara bapak buah melalui hape. Percaya kan?.
Rosana Harahap wrote at 10:27 on 31 May 2010
... rusuh deh ... banner udah gak bener ... hehehehe.. EGP !!
Tri Utami wrote at 09:16 on 04 June 2010
amburadullllll nih judulnya........yg penting foto....he he he....
Nursyamsi Kurnia Utama wrote at 16:23 yesterday
kangen deh sama semua hehehehe
Tri Utami wrote at 16:25 yesterday
Syamsi apa kbr?
Diah Krisdianti wrote at 17:08 yesterday
@Tri... kangen ya sama peramal cuaca .....


Bis masih belum penuh, banyak yang berteduh di beberapa FO, bus melakukan tawaf untung nggak sampai 7 putaran. Untuk menghindari hujan mereka yang dijemput menggunakan ojek payung, berbagai macam ukuran, ada yang kecil berupa payung lipat, ada payung besar berwujud payung golf, ada juga yang besar banget yaitu payung untuk menjual teh botol.
Buat anak nangkring, jalan Riau memang cocok dijadikan wish kill, arena cuci mata terutama buat bujangan, Syamsi salah satunya. Banyak yang bahenol disini, Dewa Angin serasa di habitatnya bisa mengekspresikan jati diri, untungnya si dewa dikawal oleh ustad Rory.
“Rory, ada cewek cakep tuh di depan kita. Yuk kita kejar!”
“Emang elu udah buta…?! Itu cewek yang barengan satu bis sama kita!”
”Bukan ah …! Itu cewek Bandung … putih-putih lagi”
“Jangan Syamsi … itu temen kita sendiri, itu .. Tri sama Fida!”

Oh oh, sudah ada tanda-tanda, sudah waktunya mengadakan program baksos berikutnya …. operasi katarak bareng.

Chormen Omen wrote at 10:17 on 30 May 2010
Gaya pengemis dan tukang beca
Arief Mooyoto wrote
at 02:29 on 01 June 2010
ki-ka: sutradara, pengemis2, tk beca..
Chairul Firmansyah wrote
at 02:33 on 01 June 2010
Paling kanan tukang becek bene......
Ah gak jadi aaah...... Takut kualat ...
Wkwkwkwkw......
Ahmad Himawan wrote
at 08:25 on 05 June 2010
Yang pasti yang paling kanan provokator.........yang punya ide foto beginikan dia...he 4x
Tri Utami wrote at 08:28 on 05 June 2010
hua ha ha ha.....


Hampir lupa untuk menceritakan, tadi tuh waktu di Dakken Café bayar minumannya patungan, nah kalau patungan begini aku jadi patungnya deh!

Smandelers di jalan Riau

Kalau episode sebelumnya aku bercerita tetang wish cool, kali ini boleh ya aku bercerita tentang wish kill atau wisata sikil. Tempatnya masih di Bandung.

“Kreekkkk…..” pak Samijan menempatkan si burung besar di halaman dalam Pusimpur yang mungkin memiliki kepanjangan PUsat SIM temPUR, di jalan Halmahera. Jam 4 sore waktu yang ditentukan untuk berkumpul kembali disini, yang telat akan ditinggal. Terkesan kejam! Sekejam-kejamnya ibu tiri masih lebih kejam ibu panitia!.
Ahmad Himawan wrote at 21:26 on 26 May 2010
Masa sih dari puluhan ukuran yang tersedia, nggak ada yang cocok buat Mama Liza. Bagus ya warna-warni.
Liza Soenar Windarti wrote at 21:28 on 26 May 2010
Whuakakakak... Dek Iwaaaannnnn....


Dari jalan Halmahera kami menuju Secret salah satu factory outlet di jalan Riau, seragam ungu sudah tidak wajib dipakai. Aku berniat memburu celana blue jeans, yang menjadi celana dinas komunitasku. Saking asyiknya aku mulai terpisah dari rombongan, atau memang sebaiknya begitu, kalau bergerombol takut dikira kawanan tukang copet Tongtek.

Tidak perlu tergesa-gesa, masih ada waktu 2 jam, aku mulai menjelajah FO lainnya, harga jeans yang punya nama relative sama dari tempat ke tempat, berkisar 200 ribuan, lebih murah daripada di Rumah Mode. Aku coba melihat satu FO lagi, Heritage, sebelum menjatuhkan pilihan.
Luciana Darmansyah- Wewengkang wrote at 18:04 on 30 May 2010
iwan sebenernya mau diri apa jongkok wan.....
Chormen Omen wrote at 07:15
Takut menghalangi kumis Hernowo yang jadi inspirasi logo


Ketika menyeberangi jalan menuju Heritage kujumpai Iriana, Rory, Syamsi, Eri, Iwan, Zainal, dkk, kalau yang ini aku yakin bukan rombongan copet tetapi ….. rombongan garong.
“Kita mau ke Dakken Café diajakin nongkrong sama pak pendeta", Yana menjelaskan.

Rumah jaman Belanda, persis disebelah Heritage, yang dijadikan café pilihan Berty memang enak untuk dijadikan tempat nongrong apalagi kami mengambil posisi di teras belakang. Minuman yang kupilih hot chocolate cappuccino pas banget menemaniku menikmati rintik hujan yang mulai turun. Lama-lama si rintik berubah menjadi gerimis.
“Men, gue juga mesen minuman yang sama dengan elo”, kata Iwan dengan bangga, dia salah satu fans beratku yang menjadi pemasok ide tulisan bansos dan wish cool kali ini.
Ahmad Himawan wrote at 08:16 on 05 June 2010
Para anggota dewan sedang dengar pendapat dengan masyarakat setempat.


Ramalan cuaca Syamsi mulai diragukan, dia bilang tadi pagi Bandung bakal cerah. Dewa Angin yang bekerja di BKMG Kemayoran ini meyakinkan bahwa hujannya tidak akan lebat. Eh, si hujan malah menjadi. Hujan lebat sekarang.
“Hujannya cuma sebentar kok, jam 4 juga berhenti”, Dewa Angin menenangkan.

Dingin begini enaknya ngemil, singkong goreng yang dibeli DK tandas seketika, gulali Okem nggak berbeda takdirnya. Ngolor-ngidul tidak terasa, jam 4 sudah.
“Syi, kata elo jam 4 hujannya berhenti, kok sekarang malah tambah deres?”, kami protes.
“Maksud gue hujannya berhenti tuh jam 4 pagi!”.

Melihat Syamsi sekarang sama aja melihat Robin Hood, …….. pinter ngeles!

Akhir-akhir ini ramalan cuaca si Dewa Angin mulai kacau, konon semenjak ditinggal Mama Laurent untuk selamanya, pasokan ramalan cuaca Syamsi kini berasal dari …. Mama Lemon.

Gepuk Surprise!

“Kreekkk …..” bis meninggalkan panti menuju tempat wish cool, kali ini Dapurku. Di suatu pertigaan pak Samijan ragu-ragu pasalnya Dapurku tinggal belok kanan dikit sudah sampai hanya saja verboden, harus memutar maklum Bandung kan banyak jalan satu arahnya mana macet lagi.

Lumayan memakan waktu hampir 15 menit untuk memutar saja. Di Dapurku si Ungu diarahkan ke lokasi prasmanan, makanan nusantara tampaknya. Beberapa susunan meja sudah disediakan untuk kami, teh hangat sudah pula dihidangkan, menyusul es jeruk cincau. Aku memilih meja yang di tengah karena biasanya menjadi tempat orang-orang bawel. Sayangnya selesai aku mengambil makanan tempatku sudah ditempati orang paling bawel, Iwan.

Meja di sebelah kiri masih kosong, semoga saja ada yang bisa diceritakan disini. Mangkuk kecil sayur asem kuletakan menyusul pinggan putih berisi semua yang disajikan kecuali ayam goreng karena belum sempat dikeluarkan, si ayam masih digoreng atau masih dikejar-kejar untuk disembelih.

Berhubung acara wish cool aku ceritakan ya hidangannya. Pertama minumannya dulu, tehnya hangat, es jeruk cincaunya habis segelas sudah aku minum dari tadi, lupa rasanya! Bagaimana mau cerita nih kalau lupa! Harapan belum pupus, ada segelas penuh di atas meja, pasti punya tetangga, kita tanya aja.
“Etna, nih minuman elo kayaknya?”
“Aku nggak minum, lagi diare udah 2 minggu. Buat kamu aja!”
Yihuii …. aku mendapatkan satu gelas lagi minuman merah, kuning, hijau seperti traffic light. Sirup merah di bawah, cincau hijau di tengah, kuningnya jeruk di atas. Jeruknya segar banget, namun terlalu dominan menyebabkan si cincau nggak kentara rasa dan aromanya.

Sayur asemnya aneh, rasanya manis, nggak oke boleh dibilang. Nasinya pulen, tempe goreng, otak-otak dan pergedel tahu biasa aja, gurame bakarnya oks banget, sambel terasinya pantes banget untuk menemani lalapan, kerupuk kampung cocok untuk pelengkap, gepuk surprise top banget.
“Kok dinamain gepuk surprise?”

Hariyanto Putra wrote at 19:12 on 26 May 2010
cowo2..cute
Hernowo Djati wrote at 19:54 on 26 May 2010
lho...bukannya itu syarat utama waktu daftar ke sma 8?
Dadit Priyadi wrote at 00:40 on 27 May 2010
Angkatan REMAKO (remaja kolot) bergaya...


Begini ceritanya. Aku mengunya si gepuk yang enak banget, kok nggak alus-alus, ada yang nggak beres! Aku keluarkan dari mulut, ternyata biting. Surprise!.

Yasti yang duduk berseberangan dengan posisi kanan dalam menambahkan, “Elo masih mending, cuma satu biting, nah gue bitingnya dua-duanya gue kunya!”. Surprise!.

Biting sebanyak 2 buah dipergunakan untuk menyatukan gepuk agar tidak berantakan.

Ceritanya belum berhenti sampai disitu ….., Eni si professor, entah atas nama penelitihan atau atas nama rakus dan lapar bilang begini, “Elo masih mending itu biting dikunya, nah gue … satu biting ketelen”, Surprise!

Anak Manis Siapa yang Punya?

Ahmad Himawan wrote at 14:38 on 23 May 2010
Hadi selamat ya sudah punya cucu, putih lagi ( hi hi hi )
Diah Krisdianti wrote at 09:38 on 24 May 2010
Adit udah pengen bawa kabur tuch, sayang dikejar suzter nya..... barudak na bodan n kasep pisan nya....

Fiera Basuki wrote at 22:20 on 24 May 2010
Subhanallah, anak secakep ini... kemana ortunya? baik2 ya nak ama pakde2 dan bude2mu itu.
Tri Utami wrote
at 08:56 on 25 May 2010
Iya Fiera.....semoga menjadi anak2 yg baik n sukses ya.


Chairul Firmansyah wrote at 09:55 on 23 May 2010
Good Dad....!

Diah Krisdianti wrote at 12:24 yesterday
Bungkus Tri, bawa pulang....

Uang Seribuan

Acara potret-potretan dan bercanda membuat perut terasa lapar, untung di bis masih ada arem-arem bawaan Weni, ehm nikmat banget. Masih tersisa 2 buah saat terdengar suara dengan sedikit mengancam, “Buat gue ..!!”. Nggak ada yang berani mengambil karena suara berasal dari Okem si preman pasar Cijantung.
Diah Krisdianti wrote at 12:16
Gang Pangkalan Airforce Base.....
Hariyanto Putra wrote at 19:22 on 26 May 2010
Dynasti Tong-Tek...?????


“Kreekkk …..”, bis meninggalkan Rumah Mode menuju Panti Asuhan Bayi Sehat Muhammadiyah Cabang Sukaraja, selain itu kami juga meninggalkan 3 tukang foto jalanan. Ngapain ya mereka motret-motret kami tadi, mereka mungkin nggak tahu kalau tujuan ke Rumah Mode hanya untuk ganti baju. Salah mereka sendiri nggak pakai nanya!.

Jarak tempuh nggak seberapa tetapi jalan sedikit macet, namun justru itu yang kami cari karena di dalam bis ada acara “the secret revealed”. Sekedar promosi nih ada teman kita yang naksir cewek, jangankan diajak ngobrol ngelihat genteng rumah sang idola aja sudah senang.

Cerita lengkapnya belum bisa diungkapkan sekarang karena rahasia itu belumlah berusia 30 tahun, jadi kalau aku ceritakan sekarang takut dituduh membocorkan rahasia negara.
“Tapi tahun depan Smandel 81 kan 30 tahun?!”
“Insya Allah bisa sabar menunggu sampai tahun depan”

“Kreekkk …….”, bis berhenti di depan panti, acara disini nggak lama hanya 1 jam 30 menit.
Rosana Harahap wrote at 10:26
saat banner masih terpampang jelas ...
Heppy Indrayati wrote
at 11:17
Diketeduhan pohon, seteduh hati setelah beramal Insya Allah. Thanks ya Rosana


Di pintu masuk disambut Uun yang sudah datang duluan, matanya berlinang air mata haru, bukan karena kami datang tetapi disebabkan haru melihat bayi yang sungguh memerlukan kasih sayang. Bagusnya aku nggak menulis ketika kami berada di dalam panti, cerita edisi berikutnya biar photo yang bicara tentang mereka.
Rosana Harahap wrote at 10:28
saat banner mulai terabaikan
Dadit Priyadi wrote
at 11:32
kegedean sih bennernya...pdhal kan kita2 pada gile difoto...nggak kalah ama generasi anak2 kita ...tul nggak bu Ana..??
Rosana Harahap wrote
at 11:35
Em-Ber Dit ... narsis abisss
Diah Krisdianti wrote
at 12:18
An/Dit, tapi kalo ngga ada banner, pasti pada nyari..... wes tua ora sadar umur ya gini ini... tapi kan fun toh Dit.
Rosana Harahap wrote at 10:27
... rusuh deh ... banner udah gak bener ... hehehehe.. EGP !!
Fiera Basuki wrote at 14:12
lihat tuh si Enny D, lambaiannya udah persis kayak ratu Elizabeth


Selesai berkunjung, di halaman depan 3 orang tukang foto jalanan sudah menggelar pameran foto si Ungu di Rumah Mode. Buat yang narsis berat bingung untuk nebusnya, mereka seperti uang seribuan, ada dimana-mana.

Sabtu, 22 Mei 2010

Ungu

Begitu sampai di Rumah Mode langsung disambut professional photographers, itu dalam bahasa kerennya, tukang foto keliling dalam bahasa sehari-hari. Makanan empuk, pikiran yang ada di benak mereka maklum yang datang komunitas banci foto.
Chairul Firmansyah wrote at 22:12 on 24 May 2010
waduuh,,,,,koq malah ngadep belakang yaa...??
Siapa itu hayooo, bisa tebak..??
Hehehehehe
Tri Utami wrote at 08:50 on 25 May 2010
Enny kenapa tuh.....sakit peyuuut ya.....


Rumah Mode dipilih sebagai tempat pertemuan kami dengan OSIS Smandel 81 cabang Bandung, dan sebagai tempat ganti baju seragam yang dibagikan di dalam bis. Untuk antisipasi panitia sudah menyiapkan peniti buat yang seragamnya kekecilan, mereka tinggal penitiin seragam itu di baju yang dipakai.

Ada beberapa yang sudah memakainya di dalam bis, salah satunya Qe alias Rike. Qe boleh dikata sebagai bahan acuhan, begitu Qe bilang “Muat”, yang lainnya ….. aman.

Diah Krisdianti wrote at 15:38 on 24 May 2010
Seru seru....
Elly Muflihah wrote at 16:30 on 24 May 2010
dari berangkat sampe balik lagi ke jkt,ketawaaa.....seneng bgt,makasiiiih temanz2, serasa muda truuuzzz....
Luciana Darmansyah- Wewengkang wrote at 17:01 on 24 May 2010
eh memangnya elly dah tuwir... kan msh kecil ky kita hahahaha


Ungu dalam bahasa Inggris purple, orang Belanda menyebutnya purper, orang Arab bilang بنفسجي, bahasa mandarin Zǐsè, púrpura kalau orang Spanyol, bahasa Jermannya purpur, ada juga bangsa lain yang mengatakan violet yang menjadi dress code kali ini. Ibu Genggong terima kasih banyak kaos gratisnya ya!.

Warna ungu menggantikan dress code kembang-kembang buat kaum perempuan, motif kembang-kembang sebetulnya cocok banget dipergunakan di Kota Kembang, cuma kasihan kaum lelaki yang harus menyesuaikan diri dengan mengenakan dress code kembung-kembung.

Bawahannya tetap blue jeans berwarna biru.

Rombongan berpencar, sebagian kecil buang air kecil, sebagian kecil lagi makan makanan kecil, sebagian kecil lainnya tertawa kecil dan sebagian besar, sekali lagi sebagian besar tetap menjadi banci tampil.


Di buku acara sebetulnya sekarang saatnya coffee morning, harus diganti menjadi photo morning.
Mereka sudah nggak ada malu-malunya potret sana potret sini, jepret sana jepret sini. Ana yang dokter ahli syaraf aja sudah putus syaraf malunya. Dokter syaraf aja begitu bagaimana pasiennya!
“Men, kok tadi elo bilangnya mereka bukan kami? Emang elo nggak ikut-ikutan apa?!”
“Kan gue yang ngajarin”

Bandung, Kami Datang

Ada 3 tawaran wish cool di bulan Mei 2010, ke Anyer, Bandung dan Garut, kalau nggak ikut semuanya takut dibilang bokek, kalau ikut semuanya lebih-lebih, takut dibilang kurang piknik.

Harus pinter memilih, jatuhnya ke Bandung bersama komunitas yang paling oks dan narsis dengan acara yang serunya sudah pasti dijamin, makanya Sabtu pagi tanggal 22 bulan ini belum lagi jam 6 aku sudah berangkat ke Jatiwaringin untuk menitipkan mobil dan naik bis Big Bird berkapasitas 54 orang dari rumah kawanku yang berinisial DK yang punya nama lengkap Diah Kheriawati.

Meninggalkan mobil rasanya legah karena dijaga 4 orang satpam kompleks, lagian di mobilku nggak ada juga yang bisa diambil.

“Kreekkkk ….”, setengah tujuh lebih-lebih dikit bis berangkat langsung masuk tol, aku naik bis pertama yang dikemudikan oleh pak Samijan, sedang bis yang lain dikemudikan oleh pak Heriawan.

Aroma canda tawa sudah tercium sebelum berangkat bahkan 7 hari sebelumnya. Kini suara canda tawa semakin membahana bahkan suara teriakan kerap terdengar konon akibat seorang teman sudah memerlukan alat bantu dengar.

Suara Chrisye yang keluar dari sound system mengalun merdu, yang membuat Rory si pembawa 6 CD Chrisye orderanku terbengong-bengong, pasalnya Syamsi yang duduk disebelahnya dan tepat di belakangku berkata dengan lugunya, “Ini lagu Koes Plus yang mana ….?”. Waduh ada juga kawan kami yang kuper!, atau mungkin lebih tepatnya stress, jangan malu-maluin angkatan ah!.

Perayaan ulang tahun Eni, Liza, Etna, Jendro, Iwan, sebetulnya juga dengan Uun, aku sengaja tidak mencatat kejadian ini pukul berapa dan di kilometer berapa?, karena bukan merupakan hal yang penting, bukankah hepi-hepian tidak dibatasi ruang dan waktu.

Ada game seru, hadiah yang paling menarik dari Amex dengan pertanyaan, “Ada berapa orang professor di angkatan 81, sebutkan siapa aja?”.
Semua menunjuk tangan dan menjawab 3 orang, namun yang beruntung hanya Wenny.
“Ada 3” tegasnya.
“Siapa aja?”
“Eni, Hendra dan Chormen“, Waduh, ada perasaan nggak enak namaku disebut-sebut.
“Chormen …? Emang Chormen professor apa …?”
“Prof … enghhh…. prof … enghhh …. Provokator!”

Emsian
Iwan dan Hendra, 2 dedengkot Puapala jaman dulu, emang top banget membuat kami tak terasa sudah sampai Bandung. Bis keluar tol Pasteur menuju jalan Pajajaran melewati jalan Cipaganti.

Nah, ngomong-ngomong Pajajaran itu nama kerajaan sedangkan Cipaganti itu berasal dari bahasa Sunda yang diterjemahkan bebas ke dalam bahasa kita menjadi ….. travel.