Sabtu, 17 April 2010

Ira Berlianti '81

Pesan singkat Gepeng baru-baru ini untuk makan bareng Ira sungguh menarik hati, apalagi aku punya kenangan yang sulit itu dilupakan bersama Ira. Untuk bertemu dengannya sulit sekali, maklum Ira bersama keluarga menetap di Magelang. Sayangnya my body is not delicious jadi aku nggak bisa ikut makan malam bersamanya.

Dalu kami pernah kemping bareng dalam acara Memory Camp sekolah, saat itu kami baru dinyatakan naik ke kelas 3. Nggak aku duga bahwa itulah saat terakhir aku melihat wajahnya yang mungil dan lucu, kalau dihitung-hitung hampir 30 tahun bo!. Rupanya Ira pindah sekolah nggak bilang-bilang, kalau tahu kita buat acara perpisahan berupa bermain basket bareng. Ira biar mungil tapi kalau bermain basket lincahnya seperti bola bekel.

Tenda kami di Memory Camp yang saling bertetangga mempermudahkan kami bercanda dan ledek-ledekan. Di hari terakhir ini aku dan kawan-kawan sedang ngerumpi di depan tenda ketika kulihat Ira berjalan menuju tendanya. Urat isengku ingin menunjukan jati dirinya.
“Ira, elo nggak mandi?”
”Emang kenapa Men?”
“Gue mau ngintip …!”

Gelak tawa terdengar di penjuru arena, sementara yang ditertawakan masuk tenda dengan memasang muka masam namun tidak berhasil, Ira gitu loh, biar cemberut tetap aja manis!.

Penyesalan selalu datang menyusul. Bercandaku kamseuk banget ya! Bikin Ira malu, marah dan sakit hati. Aku mesti minta maaf, kalau perlu dengan menyembah!.

Tak berapa lama Ira keluar tenda dengan membawa handuk dan perlengkap mandi lainnya berjalan lambat namun pasti menghampiriku. Aku bersiap menghadapi amarah dan caci-makinya. Dihadapanku keluarlah kalimat dari mulutnya.
“Men, kok elo masih disini??? …. katanya mau ngintip ..!”
“Emang kenapa Ra?”
“Gue mau mandi nih …!”

Ah, ternyata Ira kamseuk juga!



Berlianti Ira Ekana 16 April at 11:41
Ada ada ajah deh loe... Gw lupa bener kejadian dulu itu... Makasih diingetin crita lama...

Jumat, 16 April 2010

Novi Irawati '82

Wanita hitam manis ini memang sudah berkacamata sejak jaman SMA, selisihnya setahun lebih muda dari angkatanku. 

Sekarang Novi hampir setiap bulan ke Palembang atas tuntutan pekerjaan sehingga sering bertemu dengan Sunu teman sekelasku sebelum penjurusan. “Mau nitip salam nggak ke Sunu?”. Jaman sekarang masih main salam-salaman, nggak penting, yang penting oleh-olehnya, empek-empek gitu loh!

Biografi ini bukan cerita tentang sejarah panjang keberhasilan Novi, tetapi cerita tentang masa sekolah.

Novi aktif di OSIS, karena pengurus OSIS makanya saat penerimaan murid baru Novi menjadi salah satu pembimbing kelas anak 83, satu kelas dibimbing oleh dua orang, lelaki dan perempuan. Novi bertugas sendirian sehingga terkadang memintaku untuk menemaninya karena kebetulan si rekan lelaki berhalangan sejak dari hari pertama hingga terakhir, Smandel gitu loh! Lelaki bisa berhalangan!

Acara masa perkenalan seperti yang sudah-sudah, bernyanyi bersama, mendengar ceramah, berburu tanda tangan dan yang paling menarik buat para senior mungkin, aku cuma bilang mungkin loh, surat cinta dari anak yang baru lulus esempe, dulu istilah ABG belum dikenal.

Aku kan sering mampir ke dalam kelas Novi, masa sih nggak dapat barang sepucuk surat cinta. 
“Novi, gue pingin ah dapet surat cinta dari kelas elo”.
“Ya udah, elo belagak marah abis gitu elo keluar”.

Selepas aku keluar kelas Novi menjelaskan kepada anak baru kalau aku tuh sebenarnya galak banget, makanya jangan sampai nggak dapat surat cinta, bisa ngamuk tambahnya.
“Ada nggak surat cinta yang belum tahu mau dikasihin ke siapa? Kalau ada yang belum dikasih nama tulis deh Kak Chormen yang tercinta, daripada dimarahin satu kelas”.

Aktingku cukup lumayan, nyatanya surat cinta untukku tidak hanya satu, kudapat dua. Tulisannya luar biasa yang bisa membuat gede rasa, tapi kok aku nggak kepingin tahu siapa pengirimnya. 
“Takut….? Takut sama perempuan ya?”, mungkin kamu menduga begitu.

Novi pastilah ingin tahu komentarku, kamu juga kan?, buktinya kamu masih baca tulisan ini.
“Gimana Men, surat cintanya udah dibaca?”
“Nov, surat cintanya bisa membuat hati berbunga-bunga”
”Iya punya gue juga, mesra banget ….! Anak sekarang emang genit-genit!”
“Mesra sih mesra …. tapi …..”
“Emang kenapa Men kok pake tapi-tapian segala!”
“Tapiiiii ….. surat cinta yang gue terima kok dari laki-laki semua??!!”



NoVi Irawati Haryokusumo 17 April at 05:38
ya ampyun Omen... Subuh2 aku dah ketawa2 baca ceritamu, untung suamiku hbs subuhan lgsg cabut nyangkul...
Kalau nggak, bisa2 aku dikira stress stlh terkapar kecapean malam td krn hrs ngajar tmn2 perhubungan seharian kmrn.
Kalau inget2 cerita jaman SMA dulu, rasanya kenangan2 lgsg deras mengalir..

Kapan2 janjian ketemuan yuk, sama Sunu, Prasetyo, Maul dll deh tmn2 angkatanmu.
Btw inget yg namanya Mega angkatanmu?

Makasih ya Men dah mengingat aku dgn 'kelucuanku'



Jumat, 02 April 2010

Ulang Tahun Edi Kumis

Seusai bel sekolah kami tidak lantas berhamburan pulang tapi berkumpul untuk berangkat bersama ke rumah Edi Kumis merayakan hari yang istimewa. Terntu saja kami mengajak ketua kelas Apadela alias 2 IPA 8.
“Wan kok elo pulang nggak ke rumah Kumis?”
”Gue pulang dulu dong! Mandi dulu baru biar keren kan Kumis ulang tahun”
Iwan lantas mengendarai motor vespa kesayangannya pulang ke rumahnya di Halim.
Kami beramai-ramai naik Metromini berwarna oranye menuju perumahan Bullet Warehouse alias Gudang Peluru.

Di rumah Kumis kami bercengkrama sampai puas walaupun tidak ada acara tiup lilin. Tapi kok si ketua kelas yang ditunggu-tunggu belum nongol juga.
Bercanda sudah bosen dan hari sudah petang, kami beranjak pulang sebelum peteng, tanpa diduga datang vespa persis berhenti di depan rumah Kumis dengan pengendara yang necis banget, maklum cuma dia sendiri yang sudah mandi dan nggak pakai seragam, keharuman minyak wangi si nyong-nyong menebar semerbak. Kedua ujung bibirnya ditarik ke atas, ceria banget kelihatannya.
“Wan, ngapain lo keren-keren amat!”
”Kan Edi Kumis ulang tahun!”
“Kena dikibulin satu kelas lo! Hari ini kan April Mob!”
Tak sampai sedetik kedua ujung bibir Iwan mengarah kebawah, kecut banget mukanya, keki banget pastinya, bayangkan ketua kelas dikerjain kawan-kawan sekelas. Kalau mau dibuat komplit pasti ada sebel, marah, malu dan teman-temannya hadir semua.

dakika: Uun, Ade, Tri, Nia, Fiera, Ratih, Dicky, Iwan, O, Ai, Benres, Adi, Deden

Masih dengan muka cemberut Iwan menghampiri biang keladinya, memang tidak sulit mencarinya karena semua telunjuk mengarah kepadaku.
“Men, biar April Mob kalau bohong tetep dosa! Pokoknya nggak gue maafin seumur-umur!”

Ketika aku ingatkan cerita 30 tahun lalu ini, kamipun tertawa bersama.
“Engak kok Men! Gue udah maafin dari dulu! Gue dulu sebagai ketua kelas kayaknya dikerjain terus sama elo!”


Buat Chormen yang nakal,
Kalau dipikir-pikir lucu juga loe yah, he he he. ( waktu itu Gw binggung, masa undangan Ulang Tahun ngak ada makanannya ?, waktu itu gw juga belum tahu, makhluk apa itu Aprilmob).
Jaman dulu Chormen suka jailin orang tapi sembunyi badan, korbannya pasti nggak cuma satu, siapa lagi Men ?
Ayo Men cerita lagi, biar kita bisa tambah inget lagi.
Temen-temen yang merasa jadi korban Chormen dimasa lalu, dapat mengadukan kasusnya kepada moderator, pengaduan dilayani 24 Jam setiap harinya.

salam,
himawan

Sabtu, 13 Maret 2010

3 Angka Keramat

Ingatanku masih melekat kuat bahwa di bulan Syawal tahun ini beberapa teman begitu bersemangat mengajakku menghadiri halal bi halal akbar seluruh angkatan alumni SMPN 3. Tepat sehari sebelumnya ada acara halal bi halal alumni Smandel angkatanku di rumah Ello yang dihadiri 110 orang, aku konfirmasikan kepada teman eSeMPe mereka nggak ada yang mau datang apalagi setelah mendapatkan penjelasan dari Jaya bahwa halal bi halal di sekolah adalah dalam rangka reuni akbar angkatan 80 alias bukan acara reuni akbar seluruh angkatan. Lucunya di hari H ada juga temanku yang kecele menelponku untuk hadir padahal aku sudah mendapatkan kepastian dari Shinta ‘80 satu jam sebelum telpon berdering bahwa acara reuni hanya milik angkatan 80. Kecele kok ngajak-ngajak!.

Sama dengan Reuni Emas Smandel setahun lalu tepatnya tanggal 23 November 2008 kalau diterjemahkan secara Berdasarkan Primbon SMANDEL 23/11/2008 angka 2,3,1,1,2,0,0,8 kalau dijumlah 17. Angka 1 & 7 jadi 8, oleh Rini, ketua panitia Reuni Emas perhitunganku dimasukan ke dalam buku acara loh!. Nah, kalau sms wisata kuliner tanggal 3 Desember 2010 3/1+2/2+0+1+0 menjadi 3/3/3, alias serba angka 3.

Jam tigaan hape flexy berdering dengan Faisal Arif nama yang muncul di layar, posisiku di kamar mandi sedang tanpa busana karena memang mau mandi.
“Men, elo ke wisata kuliner nggak? Kalau elo kesana gue nebeng ... abis ashar gue berangkat dari rumah, entar gue nunggu di Giant!”, seperti senjata otomatis laras panjang Ari memuntahkan kata-katanya.

Bada ashar dan bada ganti oli mobil aku menjemput Ari di seberang Giant, sebelum tingkungan masuk pintu tol Bekasi Barat. Kalau begini kecele-kecele deh yang penting ada teman, ya ... teman kecele!. Ari juga punya prinsip kalau kecele ya dinikmati aja!.
“Ri, kayaknya Sundari mau ikutan bareng Sri Utari, kalau dia nggak barengan Sri Utari kita jemput aja!”, kebetulan kami berencana shalat magrib di mesjid Disbintalad, Berlan.

Sekarang sudah ada 3 orang yang siap kecele masuk ke dalam pondok Nasi Uduk Gondangdia yang terkenal yahut. Aku semula memesan ayam goreng tapi berubah pikiran setelah Ari dan Sundari memesan ayam bakar, aku belum pernah makan ayam bakar di sini, pesananku dada sedangkan mereka mamesan paha, masih ada tambahan lagi tempe, tahu dan hati ayam goreng, sementara 2 jenis sambal kacang sudah tersedia di atas meja, rasanya pedas dan agak pedas. Nasi uduk dengan bawang goreng dibungkus daun pisang yang dibentuk kerucut 6 buah disajikan dalam 1 piring.

Tempat duduk kami persis menghadap panggung tempat 4 orang musisi memainkan organ, bongo, bas dan gitar berirama latin dan cha-cha. Kami diberi kesempatan memilih lagu, aku pilih Soy dari Gipsy King untuk dilantunkan, mereka agak kebingungan mungkin di buku lagu di depan mereka tidak ada lagu itu. “Ya, udah lagu apa aja dari Gipsy King”, lanjutku. Tak lama kemudian terdengar dentingan gitar dipadukan dengan 3 alat musik yang lain dengan selaras mengiring sang vokalis mendendangkan Bamboleo, mantap!. Mereka mendapatkan tepukan meriah sudah pasti.

Ari bilang, “Men, kayaknya lagu Yesterday, Beatles mereka pasti bisa!”, aku terseyum, dalam hati aku menilai Ari setia banget! Dari dulu lagu favoritnya Yesterday, atau cuma lagu itu yang dia tahu.
Pukul 20:30 kami beranjak, angka 82.500 berwarna hijau tertera di mesin hitung di atas meja kasir, tak berapa lama mesin kijang berwarna hijau menderu. Kalau kalian bertanya, “Berapa orang yang hadir di wisata kuliner?”. Namanya eSeMPe 3 ya .... angka keramatnya tiga!.

Kami sudah tidak perduli siapa si pengirim sms iseng, karena sekarang hati kami senang dan perut kenyang!. Bahkan aku mendapatkan mood untuk membuat blog ini. Tengkyu ya!

Minggu, 07 Februari 2010

Ingin Jadi Presiden

Panca Andra Wiyanugraha '90

Cerita ini dapat melukiskan betapa perhatiannya sekolah kita atas jalan hidup yang ingin kita tempuh. Sekolah menyediakan ruangan bimbingan karir yang disingkat BK, sudah barang tentu ada guru pembimbingnya merangkap wali kelasku yang benar-benar perhatian karena hampir semua murid pernah dimarahi beliau, siapa lagi kalau bukan ….. ibu Mariana yang paling terkenal itu loh!.

Kali ini yang mendapat giliran dimarahi aku dan teman sekelasku Christiawan gara-gara cita-cita kami dianggap beliau terlalu muluk, sebetulnya sih nggak juga!. Bukankah kita sudah dicekoki dari kecil bahwa gantunglah cita-citamu setinggi langit, makanya ketika ditanya aku tulis di secarik kertas cita-citaku ingin jadi Presiden.

Kini sudah bertambah jelas bahwa sang cita-cita jauh jemuran dari setrikaan, eh maksud jauh panggang dari api alias belum tercium juga baunya untuk jadi Presiden!.

Gara-gara itu aku mendapat undangan ke ruang BK bersama Christiawan, disana bu Mariana tidak hanya menjelaskan, maksudku menjelaskan ditambah marah-marah gitu loh!, beliau bilang bahwa Presiden bukan merupakan profesi, yang namanya profesi menurut beliau adalah tukang insinyur, dokter, pengacara, ahli fisika, guru, dan lain sebagainya.


Iso Eddy wroteat 23:53 on 19 October 2008
wah foto ini bagus bgt...mau kasih komen tapi ga tega gua...
Mukti Wibowo (Universitas Indonesia) wroteat 07:00 on 14 November 2008
Ca' lo lagi jambak rambut siapa....hus hayo.. nakal!!Wakakakakakk....
Sigit Sudibyo wroteat 23:50 on 01 March 2009
Memang mirip ya...


Setelah dijelaskan, cita-cita kami tetap belum berubah akibatnya selama satu jam pelajaran kami diomeli mulai dari kebun binatang hingga ensiklopedia lengkap hewan keluar semua, terlebih setelah mendengar jawaban Christiawan.

“Nah, sekarang kamu, Christiawan, apa cita-cita kamu …. !!!”, sengaja kutulis dengan 3 tanda pentung untuk menggambarkan betapa angry-nya beliau.

Minggu, 10 Januari 2010

5 Sekawan, 6 dengan Pak Oher

Kisah ini terjadi ketika aku masih duduk di kelas 1 IPA 2, waktu itu kelas 1 masih masuk siang. Jedah 15 menit dari bel kelas pagi pulang barulah giliran kami bersekolah.

Di kelasku ada kelompok yang rada-rada bandel, nggak tanggung-tanggung 5 orang bo! Kita sebut saja buat kenang-kenangan, mereka itu adalah Alfred, Andrew, Richard, Saud, dan Susilo, yang kusebut tadi berdasarkan alpabetik loh bukan berdasarkan urutan kenakalan.

Sebelum masuk kelas mereka mengisi daftar hadir di warung Mak Etek. Ketika bel masuk berdering mereka nggak buru-buru masuk tetapi menunggu mengabiskan rokok, padahal si rokok terkadang baru saja dinyalakan.

Kelasku ada di lantai 2, paling enak kalau terlambat masuknya melewati pintu pagar yang tidak bisa dilewati kendaraan, yang sekarang jadi gerbang utama, melewati kamar penjaga sekolah tempat tinggalnya pak Oher, masuk lorong melewati perpustakaan dan kantor guru, tepat disamping tangga terletak kantor kepala sekolah.

Agar tidak ketahuan terlambat datang mereka menitipkan tas di kamar pak Oher, “Pak nitip ya!”. Pak Oher mengiyakan sambil manggut-manggut.

Mereka masuk satu persatu ke dalam kelas dengan menyelipkan buku pelajaran pertama di punggung, alasannya pasti berbeda-beda, ada yang ke toilet, mengembalikan buku ke perpustakaan, shalat, pokoknya macam-macam deh! Pastinya mengganggu proses belajar mengajar, karena operandi yang sama dilakukan berkali-kali.

Suatu saat bu Hilma, orang nomor 1 di Smandel melakukan sidak termasuk kamar pak Oher, ditemukanlah 5 tas sekolah. Setelah mendapatkan penjelasan dari pak Oher, bu Hilma meminta pak Oher untuk meletakannya di meja sang kepala sekolah. Pak Oher mengiyakan sambil manggut-manggut.

Tapi memang pak Oher baik hati, hanya tiga buah tas yang dibawa ke kantor Kepala Sekolah, 2 lainnya disembunyikan di bawa ranjang beliau setelah melalui ritual cap, cip, cup.

Saat istirahat berkumpulah 5 sekawan, eh 6 deng dengan pak Oher. Silang pendapatpun terjadi.

Bagi yang tasnya diselamatkan pak Oher bilang begini, “Pak Oher, hafalin ya tas saya yang butut, rada bau dan agak sobek disini, lain kali diumpetin lagi ya!”.
Pak Oher mengiyakan sambil manggut-manggut.

Sedangkan yang harus mengambil tas di kantor bu Hilma bilangnya , “Lain kali kalau ada rahazia lagi, semua tas dikasihin ke bu Hilma, kalau perlu koper pak Oher juga, kan kita kompak!”
Reaksi pak Oher tetep ….. mengiyakan sambil manggut-manggut.

Rabu, 25 November 2009

Pengemis di Padang Arafah

Dalam suatu pengajian angkatanku di rumah Tuti Rambutan, ustad Daud bertutur bahwa selama hayat kita akan ada 3 panggilan dari Yang Maha Kuasa, yaitu: panggilan pertama shalat 5 kali sehari, panggilan kedua berhaji ke tanah suci dan ketiga panggilan kematian yang tidak tahu kapan datangnya.

Aku temasuk salah satu yang beruntung dapat memenuhi panggilanNYA yang kedua pada tahun 2006, saat itu wukuf jatuhnya pada hari Jumat. Haji akbar kata kebanyakan orang.


Sebelum pelaksanan rukun haji kami melakukan tinjauan lapangan termasuk tempat wukuf di Arafah, disini terdapat bukit yang istimewa yang disebut Jabal Rahmah yang berarti bukit kasih sayang, tempat dipertemukannya Adam dan Hawa setelah 1000 tahun berpisah pasca mereka terusir dari surga. Di bukit ini pula tempat turunnya ayat terakhir Al Quran.

Di kaki bukit yang istimewa ini berkumpul pedagang asongan dan pengemis berbagai bentuk, ada yang tanpa tangan, ada yang kakinya buntung dan yang paling membuatku iba adalah pengemis buntung dari kedua pangkal paha dan pangkal lengan sehingga (maaf) mirip kepompong.

Jabal Rahmah tingginya hanya berkisar 20 meter akupun berkesempatan mencapai puncaknya, di puncak aku menghadap kiblat mendoakan keluarga dan teman-teman. Semoga saja doaku terkabulkan, amin.

Karena banyak sekali calon haji yang ingin berada di puncak aku turun untuk memberi kesempatan kepada mereka. Ada seorang ibu tua sedang duduk termenung sambil menengadahkan kedua tangan meminta belas kasihan.

Kuhampiri dan kuulurkan lembaran real ketangannya, tiba-tiba jemari tangan kanannya menutup sehingga ujung jari-jariku berada dalam genggamannya. Kami saling berpandangan karena hanya itu yang bisa kami lakukan, mungkin si ibu ingin mengucapkan terima kasih dalam bahasa Indonesia tidak bisa, aku berbahasa Arab lebih tidak bisa lagi.

Dari raut mukanya si ibu rasanya berasal dari timur tengah, kerasnya hidup terlukis diwajahnya apalagi disertai linangan air mata membasahi kedua kedua pipi.

Sesaat kemudian dilepasnya jemari tanganku, kuberikan senyuman sebelum melanjutkan menuruni Jabal Rahmah.

Dari kaki bukit kupandangi wanita tua tadi, masya Allah kini baru kusadari bahwa ibu tua itu bukanlah seorang pengemis tetapi ……. tengah khusyuk berdoa.