Minggu, 17 Mei 2009

Pasar Pagi

Perut bertambah padat ketika meninggalkan Mang Dul jagoannya nasi jamblang, benar-benar wisata kuliner, bukan sekedar makan bareng. Tujuan berikutnya Pasar Pagi buat beli oleh-oleh, hari masih pagi kok sudah ngomongin oleh-oleh sih?. Justru belanjanya di Pasar Pagi datangnya harus pagi-pagi, kalau sudah siang?.

Sejak dari stasiun aku naik Inova hitam, sesekali guide kami melihat kebelakang takut bis kehilangan jejak, maklum manuvernya tidak selincah kijang.

“Jangan belanja disini, tapi disana tempat langganan gue”, begitu sang guide memandu menuju toko langganannya ketika kami semua berkumpul.

Sekejab toko tersebut diserbu emak-emak dan bapak-bapak berbaju putih bercelana jeans, aku tidak terlalu antusias untuk berbelanja kecuali yang satu ini yang kuperoleh dari komentar teman facebook.

Sigit Arnanto at 21:07 on 15 May
tape ketan dibungkus daun jambu..hmmmm
Inka Lestari at 21:19 on 15 May
iya git, aku juga minta itu,antara lain...oh daun jambu ya, kirain daun jati. Skrg tidur deh doi, besok gue ketimpa nganterin jam 5 pagi, nasiib..nasibb..ga bisa bangun siang :)
Susilowati Oemar Said at 23:29 on 15 May
wah... mo jalan2 ke crb yakkk.... titip tape bungkus daun jambu seember yg ghedhee ya.... he he... hv fun...
Jim Tedja at 04:44 on 16 May
hm.... smua pada titip tape tp gak kazih duit nya yah... gue titip juga deh, kirim kesini yah.... met jalan bozz



Ahmad Himawan wrote
at 07:00 on 19 May 2009
Hus, jangan cuma buka-buka toples, beli dong kan kasian si Mas nya.


Kulihat Rustina dan Marlinah belanja sawo 9 ribu perkilo yang agak besar, aku minta 2 kilo kepada si penjual. Ibu penjual memilihkan yang besar dan baik untuk dimasukan ke tas kresek hitam, rekan lelakinya membantu memindahkan beberapa sawo ke tangan ibu penjual, tiga kali rasanya, setelah sampai di rumah baru kutahu maksud hatinya, rupanya dia memasukan sawo berukuran kecil. Semoga kelakuan ini bukanlah ciri khas penjual di Cirebon.

Setengah jam berlalu, yang berbelanja belum pula usai, masih di toko yang sama. Di toko sebelah aku menuruti saran Manca untuk beli sirup jeruk nipis, “Kita kan cekakan nih selama di Cirebon!, sampai di rumah serak, minum deh sirup jeruk nipis”.

Manzilah yang tidak berniat belanja ikut pula kesurupan, ketika melihat Lucy membeli jambal cabe ijo dalam toples di toko sebelah, didatangi si penjual sambil berkata, “Yang kayak gini enam”. Ganas juga! Itu menurut penuturan Andy.

Rosana Harahap (Indonesia) wrote at 12:33 on 17 May 2009
Belanja.. ya belanja aja Pin,... gak usah kelamaan mikir... 2 minggu lagi gajian koq... hehehehehe

Sunu Pranayama at 21:22 on 18 May
beli makanan apa sih ......... ada kue monnyong , & ampas kecap nggak ....????
Intan Fahmy at 10:35 on 19 May
ga beli macem2 yang penting serunya ketawa.... dari brangkat ampe pulang.... ampe2 mulutnya pegel....


Aku membeli tape ketan yang dibungkus daun jambu dalam kemasan ember hitam bertutup dekat mobil diparkir, supaya nggak terlalu jauh membawanya. Untuk oleh-oleh yang satu ini apa yang pantas disebut? Beli tape diberi hadiah ember atau beli ember dapat gratis tape?

Nasi Jamblang

Pukul 8:55 kereta tiba di Cirebon, acara pertama foto bersama di depan stasiun. Naik kendaraan sepanjang seratus meter lalu turun untuk foto bersama lagi di samping lokomotif tua. Banci foto bukanlah hobi tapi diduga penyakit kronis akibat virus narsis. Yang difoto sebetulnya hanya spanduk, kami sekedar menemani.

Kendaraan yang kami tumpangi sebuah bis dan dua buah kijang, tujuan pertama Mang Dul tempatnya nasi jamblang, harus datang pagi-pagi karena menjelang tengah hari biasanya tinggal gigit jari.

Jangan bingung, jangan heran! Kalau melihat suasana Mang Dul, beberapa bangku panjang bersandaran dipenuhi manusia di dalam ruangan ruko lantai satu, seperti menunggu panggilan dokter layaknya. Tidak ada meja makan, lah warung makan kok nggak pakai meja? Sebagai penggantinya bangku panjang tanpa sandaran untuk meletakan minuman dan dan tempat emping. Sambil makan piring harus dipegang dengan tangan, masa sih dipegang pakai kaki!.

Mengetahui rombongan kami datang yang selesai makan meninggalkan tempat, seolah shift-shiftan.

3 orang berseragam kaos Mang Dul berdiri disamping meja tempat baskom makanan. Pinggan plastik diberi alas 2 helai daun jati alias jamblang. Nasi terbungkus daun jamblang yang dikepal dengan tangan dibuka, satu, dua diletakkan di atas piring, “Satu aja!”, Kalimat itu cukup membuat satu kepalan nasi itu berpindah ke pinggan lainnya. Sendok makan diberikan di atas pinggan baru diserahkan piring plastik itu kepadaku. Tugasnya belum selesai, sesendok sambal cabe merah dituangkan ke pinggan oleh si pelayan.

Satu persatu isi baskom aku tanyakan, maklum bentuknya tidak biasa, bulatan kecil sebesar kelereng ternyata perkedel kentang, 3 potong goreng tepung yang ditusuk sate adalah udang, 3 potong kecil yang disatukan tusukan sate yang kecil pula rupanya kentang, bulat-bulat kecil hitam di atas pincuk kecil daun pisang tak tahunya kerang.
Rasa kenyang akibat aneka panganan di kereta menahanku untuk tidak mencoba semuanya, hanya dalam tanda kutip (“hanya”) udang goreng, tempe goreng tepung, kerang, usus ayam, dan pepes udang.

Tri Utami at 08:35 on 23 May
yg g ikut....nyesellllllll banget deh.....
Chairul Firmansyah at 17:00 on 26 May
Wen ojo dipikir, sikaat ae... Diet ning buri!!
Weny Dyah Sitoresmi at 17:11 on 26 May
hehehe....saking hebohnya aku jadi bingung sendiri mau milih lauk yang mana. Finally......keabisan cumi deh, tinggal kuahnya doang hiks...hiks....
Tri Utami at 00:49 on 27 May
makanya jangan kelamaan mikir....sikat aja.....yg lain urusan belakangan...he he he.............


Rosana mengambil tempat di sampingku “Men, bantuin gue, nasinya kebanyakan, gue masih kenyang”.
“Lagian elo ngambil 2”
“Gue nggak tau, abis semua orang dikasih 2”
“Ya udah, separo aja tapi”
“Motongnya make sendok gue nggak apa-apa? Belum dipake kok!”

Akibat perpindahan separuh kepalan nasi membuat lauk menjadi tidak seimbang. Udeng yang masih belum mendapat tempat duduk kumintai tolong. “Udeng, tolong abilin cumi dong!”
“Abisssssssssssssssss”, paduan suara kompak Udeng, Octy, Wati dan Jimbo.
“Kalau gitu tahu lo buat gue, elo ngambil lagi”

Setelah bertambah kenyang bagusnya membuat penilaian. Nasinya gurih, udang goreng, tempe goreng, usus ayam, emping rasanya enak. Sedangkan kerang, pepes udang, sambal dan semur tahu maaf ya kalau aku harus bilang …………….uenaaakkk banget.

Satu persatu melapor kepada pelayan yang memegang kalkulator. Kusebutkan yang kumakan, sang pelayan memandang ragu, rasanya curiga ada yang belum kusebutkan. “Sambal?”, lah sambal dihitung juga!. Tertera 15.400 termasuk teh botol di selembar kertas kecil. Pokoknya semua serba kecil.

Kuserahkan lembaran tadi ke tukang catut. Setelah kita punya pengemis dan tukang beca untuk urusan reuni, kini kita punya tukang tagih dan tukang catut.

Liza Soenar Windarti at 14:20 on 17 May
Nasi Jamblang Mang Dul Cirebon...Tri kok sampe merem melek minum teh botol nyaaaa... Daun jatinya hmmm ati2 gundul tuh pohonnyaaaaa....
Tri Utami at 00:31 on 19 May
he he he....lagi merasakan nikmatnya nasi jamblang nih Liz.....mantap banget....

Sabtu, 16 Mei 2009

Berhala

Selepas doa bersama untuk keselamatan dalam perjalanan roda kereta berputar menuju Cirebon, tidak ada yang tertidur karena doa tadi tidak dilanjutkan dengan doa sebelum tidur.

Wisata kereta yang mengingatkan perjalanan dengan kereta malam dari Gambir ke stasiun Balapan, Solo, tahun depan genap 30 tahun study tour kami ke Solo dan sekitarnya.

Acara (dulunya) anak SMA dimulai, perayaan ulang tahun teman di bulan Mei, hanya 2 orang yang mengaku, Liza dan Etna. Tiup lilin disertai taburan kertas berkilau dan paduan suara apa adanya dengan motto yang penting meriah.

Hadiah untuk mereka mahkota plastik bertulisan Happy Birthday dan kalung berwarna norak yang harus dipakai selama perjalanan. Seru ya!

Sms dari yang tidak ikut berdatangan termasuk dari Lhalida di Amrik, sempat dibaca tapi tak sempat dibalas. Ada juga surat yang hanya boleh dibaca di kereta dari Nisa untuk Hesti mamanya. Isi surat aku bacakan disini, terdengar tak? Kalau tidak biar aku tuliskan.

To: Mama
From : Nisa

Ma selamat jalan ya muda2xhan mama bisa cepat nyampe Cirebon
Mah hati2 ya muda2xhan mamah ngak kepikiran Nisa
Disini ngak kenapa-napa

Salam dari
*Nisa*


Indah sekali …………

Tidak harus menunggu tiba di Cirebon wisata kuliner segera dimulai, kue ulang tahun, gemblong, arem-arem daging, rempeyek, roti unyil, donat, permen. Setelah dimakan baru terasa ada yang kurang … nggak ada minumannya.

Tidak usah repot untuk mengambil makanan karena sang makanan diedarkan kepada peserta, mereka tinggal menikmatinya seolah …….. berhala yang tengah menerima persembahan.

Petikan gitar Manca dan Arif secara bergantian mengiringi lagu John Denver living on the jet plane dan country road, Beatles dan kawan-kawannya, yang menarik justru lagu dangdut buatan negeri sendiri Terajana yang dinyanyikan oleh Etna Salawati, yang ini penyanyi dangdut beneran loh!.

Pinggul bergoyang-goyang rasa ingin berdendang ….

Eh, si Etna bukannya bergoyang pinggul tapi pundaknya yang digoyang, mentang-mentang waktu pelajaran biologi nggak masuk, jadi nggak bisa membedakan mana yang pinggul, mana yang pinggang.



Liza Soenar Windarti at 14:24 on 17 May
kereeeeeennnn

Hesti Palupi at 16:09 on 17 May
jelek......jelas kerennnnnnn

Arief Mooyoto at 23:35 on 17 May
Yg kerenn yg pake topi sendiri tu..!

Tri Utami at 00:32 on 19 May
bener2 keren nih.....

Irianie Rose Pandanwangi at 18:00 on 19 May
Pastinya...kueren abiz:)

Perjalanan Dinas ke Cirebon

Agak persimis awalnya saat mengompori acara berwisata kuliner ke Cirebon, apa sih yang bisa dilihat? Kenapa nggak ke Bandung aja?. Karena itu target tidak perlu muluk, 20 orang yang ikut sudah bagus.
Dengan sedikit publikasi atau dalam bahasa asingnya woro-woro yang terkena hasutan 2 kali lipatnya. Beragam alasan: ingin naik kereta bareng, merasakan nasi jamblang di habitat aslinya sampai yang tertarik karena ada acara photo session memakai cengdem.

Pagi ini aku terbangun pukul 3 dan tidak berani tidur lagi, takut kebablasan kata orang Perancis, maksudku orang Perancis yang sudah bisa berbahasa Jawa.


Singkatnya pukul 5 lewat 10 aku sudah berada di pom bensin Petronas dekat pintu tol Bekasi Barat bersiap nebeng Kania yang diantar suaminya. Hape cdma berdering tertera Chairuna Awaludin di layarnya. “Men, kok anak-anak pada nggak ada? Gue sendirian nih disini. Gue nggak salah hari kan?”. Rajin amat jam segitu sudah sampai di Gambir.

Sulit untuk menyembunyikan kegembiranku saat bertemu teman-teman, merekapun kurasa demikian, apalagi ketika semua sudah berkumpul di gerbong 2 Cirebon Express lokasi 40 tempat duduk yang kami pesan. Sayangnya terlompat 2 bangku karena dipesan orang lain terlebih dahulu. Andy si penunjuk jalan merangkap keamanan dan kuncen menawarkan bertukar tempat namun ditolak, ingin menikmati kebersamaan kami kayaknya, bener nih nggak nyesel?.

Berbagai cara teman-teman untuk tidak melewati acara yang tidak biasa, yang satu ini pantas kupaparkan.
Elly tengah berdinas
Align Left
Kemarin Elly dengan ketiga anaknya menginap di rumah Uum’83 adiknya yang menikah dengan Iyek’83 adiknya Aria’81 pasalnya suami Elly tengah bertugas di luar kota, hari Sabtu ini dia bisa menitipkan ketiga anaknya dengan alasan perjalanan dinas ke Cirebon, alasan yang bagus dan sejauh ini penyamaran lancar-lancar saja sampai seseorang membocorkan rahasia.
“Elly, elo ke Cirebon bukan dinas ya? Tapi jalan-jalan” umpat Uum
“He … he ….. he …… kok elo tahu?”, sedikit malu karena penyamarannya terungkap
“Chormen nulis di facebook!”.


Diambil dari Facebook
Chormen Omen Siap-siap tidur, besok pagi bareng temen2 yang suka ngumpul bikin Dolanan nang Cirebon acara P4 alias pergi pagi pulang petang
15 May at 20:35 ·
Luckman Djaya likes this.

Inka Lestari at 20:42 on 15 May
jangan lupa oleh olehnya yang banyaak ya amen..

Pamela Cardinale at 20:57 15 May via Facebook Mobile
Kalo pergi pagi pulang pagi? Bahaya tuuu.. Atau pergi pagi pulang pusying..wah hangover..:=)

Luckman Djaya at 21:04 on 15 May
Ngiri ngga bisa ikutan...

Reddy Sunardi at 21:07 on 15 May
kalo pulang petang kayanya gak sampe cirebon, deh... yg ada pulang malem bangeeet! plus macet, plus debu....:-)
dadaah...xixixixixixixixi

Kiranti

Agak aneh memang kalau aku memulai cerita Reuni Wisata Smandel ke Cirebon hari Sabtu, 16 Mei 2009 tidak dimulai dari saat keberangkatan tetapi saat kereta pulang menjelang 30 menit tiba ke stasiun Gambir, tak apalah cerita kan bisa dimulai dari mana saja, bukan harus diawali dengan pada suatu hari.

Di kereta api Cirebon Express sengaja aku memilih duduk di gang ketimbang dekat jendela agar aku dapat leluasa bercengkrama dengan temanku ketika kepulangan kami dari dolanan nang Cirebon. Kadang aku duduk disebelah Andy, Arif, Eneng, di sandaran tangan kursi Elly, Uun, Kania,dan Intan.

Tidak seperti biasa Hendra bilang “Men elo nggak nelpon istri lo?” saat melewatinya menuju kursi bagian belakang. Singkat saja jawabanku “Nggak”, sambil berpikir kok perhatian sekali temanku yang satu ini?. Perhatian padaku atau istriku sih sebenarnya?

Kali ini aku duduk di sandaran tangan bangku Uun di deretan belakang bercengkrama dengan Rosana, Elly, Yenny dan Uun tentu saja sebagai pemilik sandaran, giliran Lucy dari kejauhan bertanya, “Men, elo punya nomor hape Raditya?, Hendra mau nelpon”.
Sekali lagi kujawab singkat, “Gue nggak punya, di hape gue nggak ada nomornya Radit”. Bukan karena malas memberikan atau berbohong, biasanya aku seperti buku telpon berjalan tetapi tidak untuk kali ini, lantaran PDA milikku rusak layarnya sehingga aku kini memakai hape jadul yang pernah menjadi milik Karra, anakku.

Lagi asyik bercanda-candi di belakang Iriani memanggilku minta dikirimi sms, nggak jelas apa maksudnya? Aku hampiri Iriani yang asyik ngerumpi dengan Didut, Lucy, Tri K, Wini, Hendra, Andy, dll. “Elo minta sms apa?”
“Gue lagi ngikutin sms em el em, kalau gue nerima sms dari elo nanti gue dapet hadiah. Gue pinjem hape temen-temen tapi pada nggak ngasih. Gue pinjem untuk satu sms”
“Ya udah pake punya gue aja”, sambil memasukan kedua tangan ke dalam saku celana jeans kiri dan kanan. Nggak ada! Alamak hapeku jatuh dimana?.
“Hape gue ilang!”, lalu kucari di tempat yang pernah aku duduki.
“Ada Men?”, kata Hendra.
“Nggak”, jawabku sambil nginyem kehilangan hape.
“Ya udah kita telpon aja, siapa tau diangkat, nomor lo masih sama dengan yang dulu kan?” lanjutnya sambil memencet beberapa tombol di hapenya.
“Halo… nih ada yang ngangkat elo ngomong aja sendiri”. Kudengar suara bergumam kemudian mati.
“Apa katanya”, kata Hendra lagi.
“Mati”
“Tadi suaranya laki apa perempuan?”
“Perempuan”, sambil berharap semoga si perempuan tadi berkenan mengembalikan hapeku.
“Ya udah kita telpon lagi", sekali lagi Hendra memencet tombol hapenya.
“Halo”, Hendra berbicara.
“Ya… dari siapa ya?” Liza bersuara sambil meletakkan hapeku ditelinganya.
Ngeheeee …………….! Aku kena dikerjain.

Aku berterima kasih, ternyata hapeku tidak hilang dan kembali ke genggaman walau harus melewati ritual yang memalukan.

Yang paling senang Andy melihat aksi ini, “Ada temannya”, kira-kira dalam benaknya. Andy kena dikerjain dengan operandi yang sama pagi tadi, di kereta juga.

“Masukin blog ...... masukin blog …. masukin blog” pinta teman-teman. Sekilas hampir sama dengan permintaan kerumunan dalam film Gladiator “Kill …. kill …. kill”.

Makanya cerita dimulai dengan adegan ini, biar kalian tahu bahwa isi blog adalah kisah realita tanpa rekayasa, walaupun aku harus menelan pil pahit di kandang sendiri alias di blog sendiri. Seperti Uun yang meminum Kiranti untuk menghilangan uring-uriangan sepanjang perjalanan akibat akan kedatangan tamunya

Minggu, 15 Maret 2009

Nasi Uduk Gondangdia

Rapat di PPM membahas persiapan seminar dan Anugrah Kadarman Award berakhir pukul 19:30, kuhubungi the RM untuk memastikan bahwa lokasi Wiskul tidak berubah.

Sebelum pergi mampir dulu ke toilet PPM yang terkenal bersihnya. Dari tempat parkir masuk Menteng Raya sampai di lampu merah kantor pos Cikini berbelok ke kanan ke jalan Cut Mutia, menelusuri jalan kereta api di samping Buddha Bar masuk Gondangdia tinggal belok kiri dan kanan sampailah di lokasi lama, lokasi baru nasi uduk Gondangdia tak jauh dari sana yang lebih luas dan nyaman.



Miring kiri

Aku jadi ingat teman kuliahku yang sekarang sudah menjadi konglomerat yang usahanya berada di luar pulau Jawa. Dari jaman kuliah sampai sekarang tidak pernah memakai dompet, jaman kuliah memang yang di dalam saku hanya uang recehan namun sekarang tetap saja tidak memakai dompet walaupun di sakunya berjuta rupiah dan dolar, kadang kulihat ada sedikit kemajuan uangnya dimasukkan ke dalam amplop coklat sebelum masuk saku. Sumpah, aku belum pernah melihat kartu kreditnya, tetapi mending tidak punya kartu kredit tapi uangnya berjibun.
Kalau dia berkunjung ke Jakarta selalu menginap di Sultan atau HI, namun setiap malam saat bersamaku selalu bersantap malam dengan nasi uduk. Kalau mendengar informasi nasi uduk yang enak selalu kami ambangi, sampai saat ini nasi uduk Gondangdia menurut kami yang paling oks.
Miring kanan

Aku memasukan mobilku ke lapangan badminton yang terang benderang, sang juru parkir memintaku memarkir di luar, di lokasi yang ditunjuk, tempat CRV hitam yang baru meninggalkannya. Lapangan itu milik perusahaan yang akan ditutup selepas semua karyawan pulang.
Wajah keheranan menyambutku, maklum ini kali pertama aku mengikuti Wisata Kuliner Alumni Smandel, hampir semua wajah kukenal melalui fesbuk. Kusalami mereka satu persatu dan ucapan selamat ulang tahun keluar dari mulutku ketika kusalami Anita yang merayakan ulang tahunnya, nyaris kelapa empat kayaknya.
Bangku yang kosong di pojokan di samping Satya, suami tercinta Novrina, namanya juga anak baru dapat bangkunya di pojokan, di sini gosip terdengar samar-samar, alias suam-suam kuku.
Gosip tentang selingkuh berkumandang di samping kanan merambat ke kiri dari Atha, Dhyta, RM, Fanda, Estanti, dan Ina yang duduk di depanku, dari mulutnya keluar "Rumahku di Galaxy". Mana gosipnya ............?
Lain lagi kalau dari Ian, Anita, Pia, Novrina dan terakhir Satya yang duduk persis di samping, yang keluar "Kantorku di gedung BRI". Mana gosipnya ..........? Mana .......?
Kok Rudy nggak diceritain? Datangnya telat banget soalnya.
Es jeruk mengawali masuk perutku disusul tempe, ampela, dada ayam dan udang. Nasinya tanpa lauk aja enak banget apalagi pakai cocolan sambel kacang, sambel khasnya nasi uduk.
Acara tiup lilin dan potong kue. Tiup lilinnya berulang-ulang. Leyer pertama jangan dimakan, begitu kata Dhyta.
Miring ke kiri miring ke kanan
Pulang ke rumah bareng gerimis, sesampainya buka fesbuk main (Lil) Eco Racer terakhir, niatnya sih!. Sebetulnya aku sudah bosan bermain race ini bersama Toga dan Herry, eh belakangan masuk pemain baru yang getol banget membalap, sebut saja Rini, Ruly dan Phertem. Kalau telponan yang diomongi balap-balapan. Nah yang ini komentar mereka di fesbuk.
Ruly, "Race pake mobil beneran dong pak.. di Car Madness..yg power nya kecilan ga mungkin bs menang.. heee.."
Phertem, "Udah kalah ama gua ....kalah juga lo ama ruly.....( eco race ) men ganti "Car Madnes" lebih seru.....he...he...he...". Judulnya aja Sukurin kalah lo.........


Tembang Pribumi said...

makanannya mana?
March 16, 2009 6:59 AM

Minggu, 01 Maret 2009

Ustad



Rasheed said...
Hello,

Nama saya Warda Alaydrus, angkatan 81 SMA8. Akhirnya ketemu juga temen2 lama. Saya ada di luar negeri. Tolong masukan saya di group alumni.

Thanks
umar6208@yahoo.com