Ada beberapa teman yang sudah puluhan tahun meninggalkan Indonesia,
wajar kan kalau bahasa gaulnya masih model tahun 81an. Kebetulan ada
temen SD yang juga temennya Jnonk yang mau ke Belanda, karena japrinya
Jnonk gue nggak inget pangwat deh email ke milis angkatan tiiiiiiit
Jnonk,
Email ke japri dong.
Ada Visa Milena mau ke Belanda 1 Oktober katanya.
Men,
gue minta emailnya Japri.
Ma'kasih sebelumnya.
Jnonk,
Buruan balik ke Indonesia, kalibrasi bahasa dulu.
Japri itu bukan nama orang, tapi jalur pribadi.
Ditunggu ya!
Men,
Maaf
deh kalau gue udah ketinggalan bahasa Indonesianya, terutama singkatan
singkatan atau bahasa di luar kamus bahasa Indonesia, dan terus terang
kalau gue bacanya email dari grup 81 wah kadang kadang gue engga ngerti
jika kalian menggunakan bahasa prokem kalian
Giliran Lhalida yang 20 tahun lebih di Amrik nyambernya begini
Bang Omen,
I will try... pls say my hi to Japri
Minggu, 19 Oktober 2008
Rabu, 06 Agustus 2008
Berita Acara
Teman-teman,
Menyambung pembicaraan bulan April lalu dan kemarin, pagi tadi gue sudah "menyerah-terimakan" 8 tanaman langka (buni, jamblang, gowok, menteng, bisbul, kepel, kemang dan kecapi) kepada Bp Gustaf di Smandel (Berita Acara serah terima terlampir) disaksikan oleh oom Chormen dan Bp Yani.
(Beda euuyy... kalo berurusan dengan Kepala TU, begitu gue sampe di sekolah, Gustaf udah siap dengan Berita Acara-nya, hanya perlu nambah'in nama-nama tanamannya aja. "Harus tertib administrasi" , kata Gustaf !! ..., "Siap Pak" , kata gue)
Rencana penanaman dan agenda tgl 8-8-08 akan diinformasikan lebih lanjut oleh Chormen. Kata Chormen, teman-teman Puapala yang akan membantu penanamannya ...... Kita tunggu informasinya aja dah.
GO GREEN !! .............
THINK DIFFERENT , THINK GREEN .................
Salam hijau,
Rosana
Menyambung pembicaraan bulan April lalu dan kemarin, pagi tadi gue sudah "menyerah-terimakan" 8 tanaman langka (buni, jamblang, gowok, menteng, bisbul, kepel, kemang dan kecapi) kepada Bp Gustaf di Smandel (Berita Acara serah terima terlampir) disaksikan oleh oom Chormen dan Bp Yani.
(Beda euuyy... kalo berurusan dengan Kepala TU, begitu gue sampe di sekolah, Gustaf udah siap dengan Berita Acara-nya, hanya perlu nambah'in nama-nama tanamannya aja. "Harus tertib administrasi" , kata Gustaf !! ..., "Siap Pak" , kata gue)
Rencana penanaman dan agenda tgl 8-8-08 akan diinformasikan lebih lanjut oleh Chormen. Kata Chormen, teman-teman Puapala yang akan membantu penanamannya ...... Kita tunggu informasinya aja dah.
GO GREEN !! .............
THINK DIFFERENT , THINK GREEN .................
Salam hijau,
Rosana
Sabtu, 02 Agustus 2008
Doa Seorang Ayah, Douglas Mc Arthur
Tuhanku,
Bentuklah putraku, menjadi manusia yang cukup kuat
Untuk menyadari manakala ia lemah
Dan cukup berani untuk menghadapi dirinya sendiri manakala ia takut
Manusia yang merasa bangga dan teguh dalam kekalahan,
Rendah serta jujur dalam kemenangan
Bentuklah putraku, menjadi manusia yang kuat dan mengerti
Bahwa mengetahui dan kenal akan dirinya sendiri
Adalah dasar dari ilmu pengetahuan
Tuhanku,
Janganlah putraku Kau bimbing di atas jalan yang mudah dan nyaman
Tapi bimbinglah ia di bawah tempaan dan
Desak kesulitan tantangan hidup
Bimbinglah putraku agar tegak di tengah badai
Dan berbelas kasihan pada mereka yang jatuh
Bentuklah putraku, menjadi manusia yang berhati bening,
Dengan cita meninggi langit
Manusia yang sanggup memimpin dirinya sendiri
Sebelum ia berhasrat memimpin orang lain
Manusia yang menggapai kegemilangan hari depan
Tanpa melupakan masa lampau
Dan setelah semua menjadi miliknya,
Lengkapilah ia dengan rasa humor,
Agar ia besungguh-sungguh tanpa menganggap dirinya terlalu serius
Berikanlah padanya kerendahan hati
Kesederhanaan dari keagungan hatiku
Keterbukaan pikiran bagi sumber kearifan
Dan kelembutan dari kekuatan sebenarnya
Setelah semua tercapai,
Aku ayahnya berani berbisik,
"HIDUPKU TIDAKLAH SIA-SIA"
Bentuklah putraku, menjadi manusia yang cukup kuat
Untuk menyadari manakala ia lemah
Dan cukup berani untuk menghadapi dirinya sendiri manakala ia takut
Manusia yang merasa bangga dan teguh dalam kekalahan,
Rendah serta jujur dalam kemenangan
Bentuklah putraku, menjadi manusia yang kuat dan mengerti
Bahwa mengetahui dan kenal akan dirinya sendiri
Adalah dasar dari ilmu pengetahuan
Tuhanku,
Janganlah putraku Kau bimbing di atas jalan yang mudah dan nyaman
Tapi bimbinglah ia di bawah tempaan dan
Desak kesulitan tantangan hidup
Bimbinglah putraku agar tegak di tengah badai
Dan berbelas kasihan pada mereka yang jatuh
Bentuklah putraku, menjadi manusia yang berhati bening,
Dengan cita meninggi langit
Manusia yang sanggup memimpin dirinya sendiri
Sebelum ia berhasrat memimpin orang lain
Manusia yang menggapai kegemilangan hari depan
Tanpa melupakan masa lampau
Dan setelah semua menjadi miliknya,
Lengkapilah ia dengan rasa humor,
Agar ia besungguh-sungguh tanpa menganggap dirinya terlalu serius
Berikanlah padanya kerendahan hati
Kesederhanaan dari keagungan hatiku
Keterbukaan pikiran bagi sumber kearifan
Dan kelembutan dari kekuatan sebenarnya
Setelah semua tercapai,
Aku ayahnya berani berbisik,
"HIDUPKU TIDAKLAH SIA-SIA"
Sabtu, 26 Juli 2008
Jumat, 18 Juli 2008
Kulit Gue Gosong Nih!
Endang dapet giliran cerita.
“Waktu ditawarin main basket gue tolak, mendingan jadi wasit nggak lari-lari. Emang sih nggak lari-lari tapi badan gue kejemur matahari 10 menit, 10 menit, 10 menit, akibatnya semalem badan gue panas, kena dehidrasi kayaknya. Udah gitu kulit gue item banget sekarang, mutihinnya lagi nih ........ lama dan mahal bo!!”

Pantes kan kalau the Red Dots menang, gayanya aja sudah bernilai
“Waktu ditawarin main basket gue tolak, mendingan jadi wasit nggak lari-lari. Emang sih nggak lari-lari tapi badan gue kejemur matahari 10 menit, 10 menit, 10 menit, akibatnya semalem badan gue panas, kena dehidrasi kayaknya. Udah gitu kulit gue item banget sekarang, mutihinnya lagi nih ........ lama dan mahal bo!!”
Pantes kan kalau the Red Dots menang, gayanya aja sudah bernilai
Minggu, 13 Juli 2008
1 Kilo Lagi
Kali ini (27 tahun lalu) saat turun gunung Gede orang yang kusapu bersama Aria adalah Pipin dan Fiera yang ditemani Agus dan Deden (semua 2 IPA 8 ‘81). Agus & Deden tanya boleh ditinggal nggak? Gue bilang “Boleh”. Sebelum lari turun mengejar teman yang lain, mereka bilang “Tadi Sulis pesen, jalannya ambil kanan abis gitu kiri”, tapi mereka nggak bilang belok kanannya udah yang belum tinggal belok kirinya.
Singkatnya begitu keluar hutan, nongolnya di kebun bawang daun, nyasar nih romannya.
Gue tanya ke petani jalan raya berapa kilometer lagi. Jawabnya singkat “1 kilo”, tergoda dengan bawang daun yang segar kamipun membeli cuma 200 perak dapetnya banyak banget, bawanya juga nggak jauh kan cuma 1 kilometer!.
Setelah berjalan cukup jauh, nanya lagi. Jawabannya sama “1 kilo lagi”, begitu seterusnya setiap orang menjawab “1 kilo lagi”.
Kayaknya sudah jalan 7 km dan kaki udah gempor, jawaban tetep “1 kilo lagi”, termasuk orang yang terakhir, padahal seratus meter kemudian kami temukan jalan raya dan timbulnya di Pasar Cipanas dari rencana turun di Cipendawa.
Kamipun naik bis (pukul 16:00), ketika lewat Cipendawa terlihat teman teman pada nongkrong di pigir jalan, kami berteriak memberi tahu bahwa kami sudah turun gunung. “Mereka udah tau” begitu kata Aria.
Padahal mereka nggak lihat, selepas magrib merekapun naik bis menuju Cililitan setelah berdiskusi hebat antara pulang atau ngeSAR.
Ada pernyataan yang membanggakan, “Mereka kan bareng Omen, masa Omen naik gunung nggak bisa turun. Mereka pasti sudah pulang, udah tidur lagi sekarang”
Dan yang ini pernyataan agak nyebelin, “Kita lihat aja besok waktu upacara, kalau mereka nggak ikut upacara artinya ........ mereka masih di gunung, ..... baru deh kita cari!”
Singkatnya begitu keluar hutan, nongolnya di kebun bawang daun, nyasar nih romannya.
Gue tanya ke petani jalan raya berapa kilometer lagi. Jawabnya singkat “1 kilo”, tergoda dengan bawang daun yang segar kamipun membeli cuma 200 perak dapetnya banyak banget, bawanya juga nggak jauh kan cuma 1 kilometer!.
Setelah berjalan cukup jauh, nanya lagi. Jawabannya sama “1 kilo lagi”, begitu seterusnya setiap orang menjawab “1 kilo lagi”.
Kayaknya sudah jalan 7 km dan kaki udah gempor, jawaban tetep “1 kilo lagi”, termasuk orang yang terakhir, padahal seratus meter kemudian kami temukan jalan raya dan timbulnya di Pasar Cipanas dari rencana turun di Cipendawa.
Kamipun naik bis (pukul 16:00), ketika lewat Cipendawa terlihat teman teman pada nongkrong di pigir jalan, kami berteriak memberi tahu bahwa kami sudah turun gunung. “Mereka udah tau” begitu kata Aria.
Padahal mereka nggak lihat, selepas magrib merekapun naik bis menuju Cililitan setelah berdiskusi hebat antara pulang atau ngeSAR.
Ada pernyataan yang membanggakan, “Mereka kan bareng Omen, masa Omen naik gunung nggak bisa turun. Mereka pasti sudah pulang, udah tidur lagi sekarang”
Dan yang ini pernyataan agak nyebelin, “Kita lihat aja besok waktu upacara, kalau mereka nggak ikut upacara artinya ........ mereka masih di gunung, ..... baru deh kita cari!”
Selasa, 08 Juli 2008
Ngibul
Langganan:
Postingan (Atom)






