Kalau kamu sekolah di Smandel pasti kamu punya yang namanya kartu pelajar. Di jamanku kartu pelajar berwarna dasar putih dengan pasphoto hitam putih lalu dilaminasi, disitu tercantum nama Dra. Hilma Dahnir, Kepala Sekolah. Keren kan, kartu pelajarku ada tangan bu Hilma.
Yang ingin aku ceritakan tentang kartu pelajar bukan cara pembuatannya, cara memperolehnya, apalagi cara melaminasinya, tetapi yang ingin aku ceritakan adalah manfaatnya.
Sebelumnya aku cerita dulu bahwa aku naksir cewek yang cantik menarik dan menawan hati, namanya Rosana, kawan sekelasku di 1 IPA 4, tapi Rosana nggak boleh Ge-eR sebab setiap ganti semester ganti juga cewek yang aku taksir, sebut saja cewek semesteran.
Secara kebetulan jatah piketku berbarengan dengan Rosana. Tugas mengangkat bangku sudah kaum cowok lakukan, sekarang giliran Rosana, untukku cewek lain sih nggak penting.
Di benakku sudah ada sebuah ide yang cermerlang, terus terang terinspirasi dari filem beraroma percintaan, biasanya si pemeran wanita menjatuhkan saputangan yang dipungut dan dikembalikan oleh tokoh lelaki, selanjutnya sudah bisa ditebak jalan ceritanya.
Sayangnya aku nggak pernah membawa saputangan apalagi sapukaki alias keset, mau pinjam punya pak Midon aku takut nanti justru pak Midon yang mendapatkan Rosana.
Setelah memastikan bagian yang akan disapu Rosana mulailah aku menjatuhkan kartu pelajar yang sudah tentu milikku. Aku meninggalkan kelas sambil berharap kejadian seperti di filem-filem. Ini baru manfaat kartu pelajar!.
Aku berpura-pura berbincang dengan teman sementara jantungku kujadikan indikator kedatangan Rosana, semakin mendekat jantungku semakin keras berdetak. Si jatung mulai beraksi setelah Rosana berada di koridor.
Berdetak makin keras, semakin keras dan keras sekali sehingga hampir mau copot ketika Rosana ada di hadapanku, setelah itu melemah dan melemah, akupun menjadi lemas. Rupanya Rosana hanya numpang lewat. Nggak seperti di filem-filem.
Aku kembali ke dalam kelas, kulihat kartu pelajarku masih teronggok di tempat yang sama. Aku ambil si kartu, sebelum kumasukan kembali ke dalam dompet kupandangi foto di kartu itu, dalam hati aku berkata, “Kasihan deh lo!”
Buat adik-adik yang masih sekolah di Smandel aku berpesan. “Don’t try this at school! Apalagi kamu cuma punya modal wajah pas-pasan”
Ahmad Himawan 31 January at 16:13 Report
Udah Men, loe jadi penulis bacaan remaja aja, pakai nama samaran.
Kualitasnya udah Oke banget.
Kocak gaya bahasamu, luar biasa....
cerita beda sedikit, tapi ini oke banget......



